
Saat jam pulang bekerja telah tiba, Malik sudah terlihat siap untuk pergi ke kediaman seseorang yang akan ia kunjungi sore ini. Sebelum pergi ke kediaman orang tersebut, Malik menyempatkan untuk membeli beberapa jenis makanan dan buah-buahan. Setelahnya ia melajukan mobilnya menuju kediaman seseorang yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Tiga puluh lima menit berlalu, akhirnya mobil milik Malik pun tiba di depan bangunan tingkat dua yang terlihat sepi sore itu. Malik segera keluar dari dalam mobilnya dan mengeluarkan makanan yang ia beli.
Ting Tong
Tak berselang lama setelah bel berbunyi seseorang nampak membukakan pintu untuk Malik.
"Akhirnya kau datang juga. Ayo masuk." Ucap seorang wanita paruh baya pada Malik.
Malik mengangguk mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Wanita paruh baya itu pun mengambil alih bawaan Malik dan membawanya ke arah dapur. Sambil menunggu wanita paruh baya itu kembali Malik memilih duduk dengan tenang di sofa ruang tengah.
Tak berselang lama wanita itu pun kembali membawa minuman dan makan yang sudah ia salin ke dalam wadah.
"Minumlah." Ucapnya pada Malik.
__ADS_1
Malik hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Wanita itu pun akhirnya duduk di sofa yang berhadapan dengan Malik.
"Ibu kira kau sudah lupa jalan pulang ke rumah ini." Sindir wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibu Malik.
Malik hanya diam sambil menatap datar pada ibunya.
"Tiga bulan tidak mengunjungi ibu tidak membuatmu merasa menyesal sama sekali." Wanita paruh baya itu masih saja menyindir Malik tapi Malik mencoba tak menghiraukannya.
"Apa kau masih bisa berbicara?" Tanya wanita itu kemudian.
"Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Malik pada akhirnya.
"Syukurlah kalau begitu." Balas Malik seadanya.
"Jadi apakah kau sudah bisa menjelaskan alasan kau baru saja datang ke rumah ini sore ini?" Tanya Bu Venna.
__ADS_1
Malik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Maaf jika jawaban dariku nanti membuat Ibu kecewa." Ucap Malik.
Bu Venna memilih diam menunggu kelanjutan perkataan putranya.
"Aku dan Emila sudah memutuskan hubungan sejak empat bulan yang lalu." Ucap Malik.
"Apa?!" Bu Venna nampak begitu terkejut mendengarnya. "Kau bilang apa? Kau dan Emila sudah tidak lagi menjalin hubungan?" Tanya Bu Venna memastikan.
Malik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku yang memutuskannya." Jawab Malik tanpa ragu.
"Kenapa? Kenapa kau memutuskannya?" Tanya Bu Venna tak percaya. "Emila adalah wanita yang baik. Berpendidikan dan sangat cocok untukmu. Ibu sangat setuju jika kau bersama dia." Ucap Bu Venna. Berita dari Malik ini benar-benar mengejutkannya. Terlebih ia mengira selama ini hubungan Malik dan Emila baik-baik saja karena setiap bertemu dengan Emila wanita itu tidak pernah membahas hubungannya dengan Malik dan terlihat baik-baik saja/
"Karena kami tidak berjodoh, Bu. Aku dan Emila tidak ditakdirkan untuk bersama. Mungkin menurut Ibu dia adalah wanita yang terbaik untukku, namun belum tentu dia yang terbaik menurut Tuhan untukku." Jawab Malik tegas.
Bu Venna menatap Malik dengan tajam. "Dia tetap wanita yang terbaik untukmu Malik. Sekarang katakan dengan jelas alasan apa yang membuatmu memutuskan hubungan dengannya?" Desak Bu Venna.
__ADS_1
"Karena sudah ada wanita yang kini sudah menjadi istri dan calon ibu dari anakku." Jawab Malik tanpa rasa takut.
***