
"Sudahlah, semuanya telah terjadi dan kau tidak bisa memutar waktu untuk mengubahnya. Sekarang kau hanya bisa menerima dan mencari jalan terbaik agar keluar dari permasalahan saat ini." Ucap Gerry dengan bijak.
William mengangkat kepalanya dari atas kemudi lalu menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan di udara. "Jalan keluar dari permasalahan saat ini hanya satu. Menikahkan Flower dengan Malik." Jawab William tegas.
Gerry mengangguk menyetujui. "Sebelum kehamilan Flower terungkap di media, lebih baik kau segera menikahkannya." Saran Gerry.
"Aku memang akan melakukannya." Jawab William.
"Aku akan membantumu kapan pun kau butuhkan."
"Terima kasih." Jawab William lalu menghidupkan mesin mobilnya. Tujuannya saat ini hanya satu yaitu kembali ke rumah sakit dan mengatakan pada Flower agar menikah dengan Malik.
*
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang setengah jam, mobil William akhirnya telah terparkir kembali di parkiran rumah sakit. William dan Gerry segera turun dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu masuk rumah sakit.
__ADS_1
William terlihat tak sabar untuk sampai di ruangan pemeriksaan putrinya. Wajahnya yang biasanya tersenyum menatap orang-orang yang menyapanya kini justru terlihat sangar dan tidak bersahabat.
Brak
William membuka pintu ruangan sedikit kasar hingga menimbulkan suara cukup keras.
"Daddy..." lirih Flower.
William melangkah mendekat pada Flower dan menatap putrinya dengan nyalang. "Kau sungguh membuat Daddy malu, Flower!" Ucap William dengan emosi tertahan.
"Bagaimana bisa kau bertindak ceroboh hingga merugikan dirimu sendiri seperti saat ini? Kau bukan hanya merugikan dirimu tapi juga membuat Dad dan Mommy malu!"
"Maafkan Flo, Dad..." lirih Flower.
William mengusap wajahnya kasar. "Daddy tidak perlu permintaan maaf darimu. Saat ini Dad hanya ingin kau menuruti perkataan Daddy sebelum berita memalukan ini tercium oleh media." Tekan William. Jika untuk pihak rumah sakit ia masih bisa membungkamnya karena rumah sakit ini adalah milik Dika sahabatnya. Namun untuk semua rival bisnisnya William tak dapat menjamin karena mereka bisa saja mendapatkan informasi kehamilan Flower dengan menggunakan kekuasaaan mereka.
__ADS_1
"Flow harus apa Daddy? Apa Daddy ingin Flow menggugurkan bayi ini?" Tebak Flower.
"Ck. Jangan pernah berpikiran bodoh!" Tukas William. "Kau sudah melakukan perbuatan dosa dan kau ingin menambahkan dosa untuk dirimu. Bagaimana pun juga bayi itu tidak bersalah. Yang salah adalah dirimu!" Tekan William.
Flower terdiam dengan kepala tertunduk. Di dalam hati kecilnya ia pun tidak ingin menggugurkan janin yang ada di dalam rahimnya saat ini.
"Lalu apa yang Dad inginkan dari Flow saat ini?" Tanya Flower.
William menghela nafas panjang sebelum mengatakan permintaannya pada Flower. "Kau harus segera menikah dengan ayah dari anak yang sedang kau kandung." Ucap William tegas tanpa bantahan.
"Tapi Dad—" ucap Flower terhenti saat William mengangkat sebelah tangannya di udara. "Tidak ada penawaran apapun untuk dirimu! Menikah dengan Malik atau Dad tidak akan mengakuimu lagi sebagai anak Dad!" Ancam William. Ia tidak ingin putri manjanya itu kembali membantah perkataannya jika tidak diancam seperti ini.
Setelah menyebutkan permintaan sekaligus perintah pada Flower, William pun pergi meninggalkan ruangan pemeriksaan karena ada hal yang ingin ia urus saat ini.
"Mommy... Flow tidak ingin menikah dengan Malik. Flow tidak mau karena Flow sangat membencinya." Ucap Flower sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
***