One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Keputusan yang harus diambil


__ADS_3

Pernyataan Dad William tentu saja berhasil menohok hati Flower. Flower tidak menyangka jika selama ini kedua orang tuanya sangat memperhatikan dirinya bahkan sampai berjuang mendekatkannya dengan pria lain agar ia dapat melupakan Rey.


"Daddymu benar, Flow. Mom dan Dad hanya ingin kau segera melupakan Rey dan membuka hatimu untuk pria lain. Sudah saatnya kau mengikhlaskan Rey karena Rey bagaikan angin yang tidak bisa kau genggam. Kau mengerti maksud Mom saat ini kan Flow?" Tanya Mom Rania.


Flower benar-benar tertegun hingga tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa menatap kedua orang tuanya secara bergantian tanpa bersuara.


"Flow... sampai kapan kau terus mengharapkan Rey menjadi milikmu? Mom tahu saat ini kau sudah sadar dan mengerti jika Rey tidak akan pernah dapat kau miliki." Lanjut Mom Rania kemudian karena Flower hanya diam saja.


"Mom dan Dad tenang saja. Flow akan melupakan rasa cinta Flow pada Kak Rey tanpa harus berdekatan dengan pria lain." Jawab Flower pada akhirnya.


"Tapi, Flow. Sudah saatnya kau memikirkan calon pendamping hidupmu karena kini umurmu sudah tak lagi muda." Jawab Mom Rania.


"Menjadikan pria lain hanya untuk sebagai pelampiasan agar melupakan Kak Rey juga bukanlah saran yang baik, Mommy." Tekan Flower.


Kali ini Mom Rania terdiam karena apa yang dikatakan Flowe memang benar adanya.

__ADS_1


"Ayo kita duduk dulu." Ajak William pada Rania karena sejak tadi mereka berbicara dengan Flower sambil berdiri.


Mom Rania mengiyakannya lalu duduk di atas sofa yang berhadapan dengan Flower. Flower pun turut menjatuhkan bokongnya di atas sofa.


"Kau tahu jalan satu-satunya yang terbaik agar kau cepat melupakan Rey apa?" Tanya William.


Flower pun menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.


"Kau harus segera berhenti bekerja dari perusahaan Bagaskara dan bekerja di perusahaan Daddy." Ucap William.


"Jika kau masih tetap bekerja di sana maka kau akan sulit melupakan Rey. Setiap hari kau akan terus dibayangi wajahnya karena kalian terlalu sering bertemu." Ucap Dad William dengan tegas.


Flower diam sambil merenungi apa yang Dad William katakan. Dad William benar jika ia tetap bekerja di perusahaan Bagaskara maka ia akan semakin sulit untuk melupakan Rey.


Malam itu Dad William memberikan Flower kesempatan untuk berpikir dan merenungi apa yang ia katakan. Dad William tidak ingin memaksakan Flower untuk berhenti dari perusahaan Bagaskara karena adanya tekanan darinya.

__ADS_1


Hingga esok hari pun tiba. Perkataan Dad William pun terus terngiang di benak Flower hingga saat ia bekerja di perusahaan Bagaskara.


Malik yang tidak biasa melihat Flower hanya diam dan tidak berbicara ketus padanya pun nampak bingung dengan perubahan sikap Flower.


"Apa?" Flower melototkan kedua matanya pada Malik saat merasa Malik tengah memperhatikannya.


"Saya menunggu anda menyerahkan berkas di tangan anda pada saya." Jawab Malik datar sambil menatap berkas yang sedang Flower pegang.


"Ck. Berbicaralah sejak tadi." Ketus Flower lalu menyerahkan berkas di tangannya pada Malik.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Malik pun segera beranjak dari hadapan Flower.


"Menyebalkan sekali." Gerutu Flower menatap kepergian Malik. Entah mengapa saat ini ia merasa kesal sekaligus senang secara bersamaan saat melihat wajah Malik.


***

__ADS_1


__ADS_2