
William dan Gerry kini tengah berada di kursi tunggu yang berada di depan ruangan pemeriksaan. Setelah perawat melarang mereka berada di dalam ruangan Gerry langsung mengajak William untuk keluar dan untung saja William mau menuruti keinginannya.
William terlihat mengusap kasar rambutnya beberapa kali ke belakang saat ucapan dokter kembali terngiang di kepalanya. Yang ada di dalam kepalanya kini adalah siapakah ayah dari anak yang dikandung putrinya itu. Selama ini William selalu mengawasi putrinya dan yakin jika tidak ada satu pria pun yang berhasil mendekati dan menempati hati putrinya selain Rey.
William pun mencoba mengingat kembali apakah ada satu pria yang terlewatkan oleh pantauannya selama ini. Namun hasilnya nihil karena Flower memang tidak ada berdekatan dengan pria lain.
"Siapa ayah dari anak yang dikandung putriku?" Lirih William merasa frustrasi.
Gerry menatap sahabatnya dengan iba. Ia pun turut penasaran siapakah ayah dari anak yang dikandung Flower saat ini. Mengingat betapa sangarnya Flower jika berhadapan dengan pria lain selain Rey membuat Gerry tidak yakin jika ada pria yang berhasil mendekati Flower.
"Tenanglah, kau bisa menanyakannya langsung pada Flower nanti." Ucap Gerry sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Flower... kau benar-benar mengecewakan Daddy." Geram William. Kedua tangannya kembali terkepal menandakan emosinya kembali naik saat ini.
__ADS_1
Tak ada lagi yang bisa Gerry katakan pada William selain hanya kata-kata untuk menenangkannya. Di dalam hatinya kini Gerry berjanji akan membantu William mencari tahu siapakah ayah dari anak yang dikandung Flower saat ini.
"Kak..." suara lembut Kyara mengalihkan perhatian Gerry dan William.
"Rania sudah sadar." Lanjut Kyara kemudian tertuju pada William.
William segera bangkit dari duduknya lalu berlari ke arah ruangan Rania berada. Sesampainya di dalam ruangan, hati William terasa tersayat melihat istrinya tengah menangis dengan sesegukan.
"Sayang..." William membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
William menghela nafasnya. Jujur saja ia tidak dapat menebak dengan siapa putrinya berhubungan di luar batas hingga menghasilkan seorang janin saat ini.
"Tenanglah, aku akan menanyakannya nanti pada Flower." Ucap William.
__ADS_1
Rania hanya bisa menangis di dalam dekapan suaminya. Saat ini dirinya benar-benar syok dan tak percaya atas apa yang baru saja didengarnya tentang putrinya yang tengah berbadan dua.
Tak berselang lama seoranh perawat yang tadi diminta Gerry untuk memberitahukan pada mereka jika Flower sudah sadar datang menghampiri mereka dan memberitahu jika saat ini Flower sudah sadar dan sudah bisa ditemui.
Tentu saja setelah mendengarkan perkataan perawat William langsung mengajak Rania untuk pergi ke ruangan pemeriksaan putrinya tadi. Gerry dan Kyara pun turut mengikuti William dan Rania.
Sesampainya di dalam ruangan, Flower terlihat sudah sadar dan kini sedang memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Mommy... Daddy..." ucapnya lirih menatap kedua orang tuanya. Ia merasa bingung bagaimana bisa ia berada di rumah sakit saat ini.
"Katakan siapa ayah dari anak itu!" Tanya William tanpa basa-basi pada Flower.
"Anak? Anak apa yang Daddy maksud?" Tanya Flower yang tidak mengerti maksud perkataan Daddynya.
__ADS_1
"Anak siapa yang kau kandung saat ini?" Ulang William memperjelas perkataannya dengan tatapan berubah nyalang.
***