
"Flower adalah putri saya!" Ucap William menekan perkataannya pada Emila.
"Ti-tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin wanita itu adalah putri Tuan." Emila menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Lain kali berpikirlah lebih dulu sebelum bertindak. Jangan sampai hanya karena cinta membuatmu menjadi seorang pembunuh!" Ucap Gerry.
Emila terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangisannya agar tidak tumpah.
"Berikan hukuman seberat-beratnya pada wanita ini. Jangan sampai dia lolos!" Tekan Gerry pada pihak kepolisian.
"Baik, Tuan." Jawab polisi.
Gerry pun segera mengajak William keluar dari dalam ruangan pemeriksaan agar pihak kepolisian melanjutkan pemeriksaan mereka pada Flower.
"Tuan William tunggu! Saya bisa menjelaskan semuanya!" Emila hendak bangkit dari duduknya namun niatnya tak terwujud karena pihak kepolisan dengan cepat menahan tubuhnya.
"Lepaskan saya! Lepaskan!" Pinta Emila namun tak digubris oleh pihak kepolisian.
__ADS_1
Kini Emila tidak tahu bagaimana nasibnya ke depannya setelah mengetahui jika Flower adalah anak dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Emila tahu jelas bagaimana pengaruh seorang William Arnold dan ia tidak dapat membayangkan hukuman seberat apa yang akan diberikan padanya nanti.
"Tidak..." Emila berteriak merutuki kesalahannya yang telah bermain-main dengan seorang pemain. Menyesal pun kini tiada guna karena ia sudah diproses oleh hukum dan akan sulit untuk mencari pembelaan.
*
"Apa? Emila dipenjara?" Flower tertegun di depan kamar Mom Rania mendengarkan pembicaraan Mom Rania dan Dad William. Ia pun memundurkan langkahnya ke belakang mengurungkan niatnya yang ingin masuk ke dalam kamar Mom Rania.
Flower segera melangkah kembali ke arah kamarnya berada dengan perasaan tak menentu. Bukannya perasaan senang yang ia rasakan saat ini melainkan perasaan gelisah karena Emila akan ditahan di penjara.
"Emila... apa kau benar-benar akan dipenjara?" Tanya Flower pelan. Tubuhnya merasa tegang membayangkan itu semua. "Kenapa harus di penjara? Dia masih sangat muda dan masa depannya masih panjang." Lanjut Flower kemudian.
Apakah memenjarakan Emila adalah keputusan terbaik saat ini? Tapi kenapa Flower rasa hukuman untuk Emila itu membuatnya merasa tidak tega pada Emila.
Untuk memastikan apa yang ia dengar itu adalah benar, Flower pun menghubungi suaminya untuk menanyakan kebenarannya. Dan betapa terkejutnya Flower saat Malik mengatakan itu semua adalah benar dan mereka minta agar Emila mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.
Flower pun terduduk lemas di atas ranjang setelah panggilan telefonnya dan Malik terputus. Tak berselang lama Mom Rania pun masuk ke dalam kamar Flower untuk menyampaikan informasi yang ia dapatkan.
__ADS_1
"Flower?" Mom Rania berjalan cepat ke arah Flower yang nampak termenung.
"Mommy, apa benar Emila akan dipenjara dan mendapatkan hukuman yang berat?" Tanya Flower tanpa menatap pada Mom Rania. Pandangannya nampak kosong karena pemikirannya yang terlalu jauh pada Emila.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Mom Rania terkejut. Padahal ia baru saja ingin memberitahukannya pada Flower.
"Flow mendengar percakapan Mommy dan Daddy tadi. Flow juga mempertanyakannya pada Malik." Jawab Flower.
Mom Rania menghela nafas berat. "Mommy tahu apa yang kau pikirkan saat ini. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya karena Daddy dan suamimu ingin dia mendapatkan hukuman yang berat atas perbuatannya." Ucap Mom Rania.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1