One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Kenapa kau hadir?


__ADS_3

Rania hanya bisa menghela nafas mendengarkan perkataan Flower. "Daddymu benar, kau harus menikah dengan Malik. Bagaimana pun juga Malik adalah ayah dari anakmu dan dia pantas untuk bertanggung jawab atas kalian." Ucap Rania.


Flower menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Flow tidak butuh pertanggungjawaban darinya. Flow bisa membesarkan anak ini sendiri nantinya." Jawab Flower.


"Flower..." Rania yang sejak tadi menahan kesabarannya pun mulai kesal melihat putrinya yang tidak mau mendengarkan perkataan William dan dirinya.


"Di tidak sederajat dengan kita Mommy. Dia tidak pantas untuk Flower! Dia hanyalah seorang asisten yang tidak sebanding dengan kita!" Ucap Flower sedikit keras.


"Flower!" Rania meninggikan nada suaranya. "Jaga ucapanmu! Kita semuanya sama di mata Tuhan. Jangan sekali lagi kau berani mengatakan hal seperti itu. Apa kau lupa dari mana Mommymu berasal!" Tegur Rania. Ia tak habis pikir putrinya berani mengeluarkan perkataan pedas seperti itu.


"Pokoknya Flower tidak ingin menikah dengannya. Flower tidak mau!" Ucap Flower masih keras kepala.


Rania tak memperdulikan lagi perkataan putrinya. Ia lebih memilih keluar dari dalam ruangan dari pada harus berdebat dengan Flower.

__ADS_1


"Mommy!!" Flower memanggil Rania namun Rania menulikan telinganya. "Sial! Aku tidak mau menikah dengan pengacau itu. Tidak mau!" Pekik Flower sangat keras.


*


Beberapa jam kemudian setelah infus ya terpasang di tangan Flower habis, Flower pun dibawa pulang oleh William dan Rania ke kediaman mereka. Sedangkan Gerry dan Kyara memilih pergi ke perusahaan Bagaskara untuk menemui Malik di sana.


Setelah melewati perjalanan lebih kurang empat puluh lima menit, akhirnya mobil William sudah terparkir di depan rumahnya. William segera keluar dari dalam mobil tanpa memperdulikan putrinya yang belum keluar dari dalam mobil. Sedangkan Rania memilih membantu Flower keluar dari dalam mobil.


"Daddymu bukan hanya marah tapi dia juga sangat kecewa. Sudahlah, lebih baik kita masuk ke rumah." Ajak Rania.


Flower mengangguk saja lalu melangkah dengan lemah masuk ke dalam rumahnya. Setelah berada di ruang tengah rumah, Flower tidak melihat keberadaan Daddynya di sana. Ia pikir William tengah duduk di atas sofa sambil menunggunya masuk ke dalam rumah. Ternyata apa yang dipikirkannya salah dan Flower merasa bertambah sedih karenanya.


"Mom akan mengantarkanmu ke dalam kamar." Ucap Rania.

__ADS_1


"Flower bisa sendiri." Ucap Flower lalu dengan perlahan melepas tangan Rania dari lengannya. Flower pun melangkah menuju tangga meninggalkan Rania yang terdiam di posisinya.


"Flower... apa ini adalah teguran untuk Daddy dan Mommy karena selama ini terlalu memanjakanmu." Lirih Rania merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk putrinya.


Flower yang kini sudah berada di anak tangga nampak meneteskan air mata mengingat raut kekecewaan di wajah Daddynya. Ia terus melangkah menaiki anak tangga satu persatu hingga akhirnya sampai di lantai dua. Setelahnya ia melangkah ke arah kamarnya dan masuk ke dalam kamar.


"Zaki... aku sangat membencimu!" Ucap Flower tertahan saat mengingat pria yang sudah membuat hidupnya kacau seperti saat ini.


Sesaat kemudian Flower pun teringat dengan janin yang ada di dalam rahimnya.


"Kenapa kau harus hadir dari ayah seperti dia. Apa kau tahu jika aku sangat membenci ayahmu itu." Ucap Flower dengan kesal namun tangannya mengelus lembut perut datarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2