One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Polesan bibir


__ADS_3

Setelah mengatakan hal sedikit fulgar itu dalam hati, Flower pun memikirkan kenapa dirinya saat ini sepertinya sangat senang mencari perhatian Malik sedangkan dulu ia sangat membenci pria itu.


Ada apa ini, kenapa terasa aneh? Ucap Flower dalam hati sambil memikirkan sikapnya lebih lanjut. Agh, aku ini bodoh sekali. Tentu saja sikapku yang seperti saat ini dikarenakan anakku tidak ingin jauh dari Daddynya dan tidak mau perhatian Daddynya beralih pada yang lain. Lanjut Flower kemudian masih dalam hati.


Tak ingin larut dalam pemikirannya tentang Malik, Flower pun memilih memainkan ponselnya agar perhatiaannya pindah ke arah lain. Sedangkan Malik yang sejak tadi mencuri pandang pada istrinya itu terlihat tengah memikirkan ada apa dengan Flower hingga berpenampilan menor seperti saat ini.


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Malik pun kini telah memasuki perkarangan rumah Bu Venna. Jika pada awal mereka datang pintu rumah terlihat tertutup, kini pintu rumah sudah terlihat terbuka dan memperlihatkan sosok Bu Venna di sana.


"Ibumu sudah menunggu kedatangan kita sejak tadi?" Tanya Flower pada Malik yang sedang membuka sabuk pengamannya.


"Sepertinya begitu." Ucap Malik.


Flower menganggukkan kepalanya lalu membuka sabuk pengamannya.


Kenapa aku merasa sedang ditunggu oleh penjaga pintu neraka jika seperti ini. Ucap Flower dalam hati sambil bergedik ngeri.

__ADS_1


Sebelum turun dari dalam mobil, Flower mencoba memasang wajah tersenyum agar ibu mertuanya itu melihat kesenangan di dalam dirinya karena datang ke kediamannya.


Bu Venna yang melihat senyuman di wajah Flower pun turut mencoba tersenyum menyambut kedatangan anak dan menantunya itu.


"Apa Ibu sudah menunggu sejak tadi?" Tanya Malik setelah menyalimi ibunya.


"Ya. Ibu sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi." Jawab Bu Venna jujur karena ia memang sudah tidak sabar menanti kedatangan anak dan menantunya itu.


Flower yang melihat ada maksud sesuatu di balik senyuman Bu Venna mencoba tetap tersenyum dan menyiapkan mental lebih kuat untuk menghadapi mertuanya itu.


"Ayo masuk dulu." Ajak Bu Venna setelah menyalimi Flower.


"Flowee, apa kau haus?" Tanya Malik setelah mereka berada di ruang tamu.


"Tidak. Aku tidak haus." Jawab Flower.

__ADS_1


"Sepertinya kau haus. Bibirmu terlihat sangat kering begitu." Ucap Malik menatap bibir merona Flower.


"Eh." Flower sontak memegang bibirnya. Memang benar bibirnya terasa kering saat ini. Namun kering di bibirnya bukanlah disebabkan karena Flower tengah haus melainkan karena olesan lip mate di bibirnya yang terlalu tebal.


"Kalau begitu Ibu ke dapur dulu untuk memgambilkan minum untuk kalian." Ucap Bu Venna yang merasa tersindir dengan perkataan putranya sendiri.


Malik mengangguk mengiyakan perkataan ibunya tanpa mengalihkan pandangan pada bibir Flower.


Flower yang ditatap sedemikian rupa oleh Malik tentu saja merasa gugup karena pandangan suaminya itu terus tertuju pada bibirnya.


"Jangan bilang jika kau mulai terpesona dengan cantiknya wajahku saat ini." Ucap Flower ketus pada Malik berusaha menghilangkan kegugupan di tubuhnya.


"Tidak. Kau jangan terlalu percaya diri seperti itu. Aku menatap bibirmu karena aku sedang menghitung berapa kali kau mengoles lipstik ke bibirmu itu hingga terlihat sangat tebal dan merah seperti itu." Jawab Malik.


Glek

__ADS_1


Flower merasa sangat tersindir dengan perkataan suaminya itu namun ia mencoba bersikap biasa saja. "Apa kau ingin aku memindahkan merah di bibirku ini di bibirmu, hem?" Tanya Flower dengan tatapan menggoda.


***


__ADS_2