
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Flower malas.
Malik menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus mengaduk masakannya.
"Mommy bilang jika seharusnya aku yang melayanimu bukan sebaliknya." Ucap Flower.
"Sudahlah, jangan memaksakan jika kau tidak bisa. Kau cukup istirahat dan jaga kesehatanmu dengan baik karena saat ini kau sedang mengandung." Ucap Malik datar.
Flower tak menjawabnya justru melangkah mendekati Malik. "Tidak ada bekal yang aku bawa saat kita menikah. Aku sudah terbiasa hidup dilayani selama ini." Ucap Flower.
"Aku tahu itu." Jawab Malik.
"Tapi kata Mommy sudah saatnya aku belajar untuk melayanimu. Bukan hanya melayanimu di dapur tapi juga di dalam kamar." Ucap Flower dengan polosnya.
"Uhuk..." Malik seketika terbatuk-batuk.
"Hei, ada apa denganmu? Jangan batuk di depan makanan!" Ketus Flower.
Malik pun segera mematikan api kompornya lalu melangkah ke arah dispenser untuk mengambil air.
__ADS_1
"Aneh sekali. Aku hanya berkata seperti itu saja dia sudah batuk-batuk seperti itu." Ucap Flower.
Karena tidak ingin istrinya kembali melanjutkan perkataannya yang menurut Malik terlalu frontal, Malik pun memilih menyuruh istrinya untuk kembali ke dalam kamar karena masakannya sudah hampir jadi.
"Aku tidak mau ke kamar. Aku ingin belajar memasak bersamamu." Ucap Flower ketus.
"Lain kali saja. Masakanku sudah jadi dan aku tidak memiliki waktu untuk mengajarimu saat ini."
Flower memasang wajah masam. "Kau ini memang tidak berniat membantuku menjadi istri yang baik, ya?" Gerutu Flower.
"Bukan begitu. Satu jam lagi aku sudah harus berangkat ke kantor dan aku harus segera bersiap-siap." Jawab Malik.
Flower memilih diam namun tak menghilangkan raut masam di wajahnya.
Tak ingin berdebat dengan istrinya Malik pun memilih mengiyaknnya lalu beranjak menuju kamar.
"Aku bilang juga apa, Malik itu tidak normal. Membahas tentang kewajiban istri saja dia sudah terbatuk-batuk seperti itu." Ucap Flower lalu menggelengkan kepalanya.
*
__ADS_1
"Malik, bukankah kau bilang jika kita akan menginap di rumah ibumu satu minggu ke depan?" Ucap Flower saat ia dan Malik baru saja menghabiskan sarapan masing-masing.
"Ya. Aku baru saja ingin berkata agar kau mempersiapkan barang-barangmu untuk kita bawa ke rumah Ibu nanti malam." Ucap Malik.
"Nanti malam?" Ulang Flower dan diangguki Malik sebagai jawaban.
"Kenapa tidak besok saja? Aku belum mempersiapkan apa-apa untuk dibawa ke rumah ibumu." Ucap Flower dengan maksud lain. Karena ia ingin mempersiapkan mental lebih dulu sebelum menyiapkan barang-barang.
"Mulai nanti siang kau sudah bisa mempersiapkannya bukan?" Tanya Malik merasa bingung.
Flower berdecak pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kau tidak mengerti, Malik. Ibumu itu sangat berbahaya dan aku harus menyiapkan senjata untuk melawannya jika sewaktu-waktu dia berniat membahayakanku. Ucap Flower namun hanya dalam hati.
"Minumlah susu hamilmu. Sebentar lagi aku akan berangkat." Titah Malik.
Flower mengiyakannya lalu meneguk susu hamilnya hingga tandas.
"Oh ya, bukankah kata Dokter satu bulan lagi kita sudah bisa mengetahui jenis kelamin anak kita?" Tanya Malik pada Flower.
__ADS_1
"Kau benar. Aku sudah tidak sabar menantinya. Aku harap anak kita ini perempuan agar cantik seperti diriku." Ucap Flower dengan mata berbinar membayangkan sosok bayi mungilnya yang akan lahir ke dunia beberapa bulan lagi.
***