
Suasana di ruang makan rumah Bu Venna pagi itu terasa hening dan kaku karena orang-orang yang berada di meja makan saling diam satu sama lain. Bu Venna larut dalam pemikirannya mengingat bagaimana penampakan Flower dan Malik tadi pagi sedangkan Malik dan Flower larut dalam kecanggungan mereka masing-masing.
"Ehm, Ibu, aku akan berangkat bekerja. Tolong jaga Flower selama aku tidak ada, Bu. Ingatkan Flower untuk meminum vitamin dan susu hamilnya." Pinta Malik pada Bu Venna.
Bu Venna tak langsung menjawab justru menatap Malik dan Flower secara bergantian. "Baiklah. Ibu pasti menjaga menantu Ibu dan calon cucu Ibu dengan baik." Jawab Bu Venna.
Malik tersenyum tipis mendengarnya. "Terima kasih, Ibu." Jawab Malik.
Bu Venna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Flower yang hanya menjadi penonton interaksi Malik dan Bu Venna hanya bisa berkata dalam hati.
Kenapa aku merasa jawaban dari mertuaku adalah sebuah ancaman bukan perlindungan.
Mamik pun akhirnya beranjak dari meja makan diikuti oleh Flower setelahnya. Flower pun berpamitan pada Bu Venna untuk mengantarkan Malik ke depan rumahnya.
"Malik, jangan pulang bekerja terlalu lama. Aku merasa canggung tidak ada dirimu di sini." Pinta Flower pada Malik.
"Aku akan mengusahakan pulang lebih awal. Jika perkataan Ibu ada yang menyakitimu jangan terlalu kau pikirkan dan bawa hati." Malik kembali meminta pada Flower.
Flower mengangguk mengiyakannya. "Malik, bisakah kau tersenyum sebelum berangkat bekerja. Aku sungguh bosan melihat wajah datarmu itu setiap hari." Ketus Flower.
__ADS_1
"Aku sering tersenyum kepadamu. Apa kau tidak melihatnya?" Tanya Malik. Menurutnya ia sudah sering tersenyum pada Flower tanpa menyadari jika senyumannya itu tidak dapat dilihat oleh manusia terutama Flower.
"Coba kau tersenyum." Pinta Flower.
Malik pun tersenyum tipis. Tipis sekali hingga hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
"Oh astaga... tersenyumlah dengan lebar seperti ini." Flower memperagakan cara tersenyum pada Malik. Bukannya memperhatikan bagaimana istrinya itu tersenyum, Malik justru terpesona dengan manisnya wajah istrinya.
"Sudahlah, sepertinya masih ada banyak waktu untuk kau belajar tersenyum. Sekarang pergilah." Ucap Flower.
Malik pun mendekat pada Flower lalu mengusap perutnya. "Daddy berangkat bekerja dulu. Ingat, jangan merepotkan Mommymu." Pinta Malik.
"Baik, Daddy." Jawab Flower menirukan nada suara anak kecil.
Malik tersenyum tipis mendengarnya.
"Flower, kemarilah." Ucap Bu Venna saat melihat Flower telah kembali.
Flower menurutinya.
"Flower, bukankah pernikahanmu dan Malik baru berjalan empat bulan? Tapi kenapa kandunganmu sudah memasuki usia lima bulan?" Tanya Bu Venna dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Ded
Flower dibuat terkejut mendengarnya. Apa Malik tidak memberitahukan pada ibunya penyebab mereka bisa menikah, pikirnya.
"Itu karena..." Flower hendak menjawab tapi Bu Venna sudah mengambil alih jawabannya.
"Karena kau telah hamil di luar nikah, bukan?" Tanya Bu Venna.
Deg
Flower kembali terkejut.
"Benar, kan? Kau hamil di luar nikah bersama putra saya?" Tekan Bu Venna.
Flower hanya diam karena ia bingung harus berkata apa selain mengangguk mengiyakannya.
"Sungguh menggelikan!" Bu Venna menaikkan nada suaranya. "Sungguh kasihan sekali putraku harus menikah dengan wanita seperti dirimu." Lanjut Bu Venna.
"Apa maksud Ibu?" Flower berusaha menahan amarahnya mendengar sindiran mertuanya.
***
__ADS_1
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗