
Namun sayang apa yang Flower harapkan tidak terjadi. Baru saja ia melangkah masuk ke dalam lobby perusahaan, matanya sudah menangkap sosok Malik yang tengah berdiri di depan lift menunggu pintu lift khusus petinggi perusahaan terbuka.
"Sial! Harapanku sia-sia." Gerutunya pelan. Flower pun melangkah dengan gaya anggunnya tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang kini tengah memuja kecantikannya yang sangat terpancar pagi itu.
Untung saja nasib baik berpihak padanya. Di saat ia sudah hampir sampai di depan pintu lift berbarengan dengan Malik yang sudah masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Hai, Flow. Apa perjalanan bisnismu kemarin berjalan lancar dan menyenangkan?" Tanya seorang wanita pada Flower saat mereka sudah masuk ke dalam lift.
Flower yang mendengarkan pertanyaan rekan kerjanya itu merasa sangat muak mendengarnya. Rasanya ia tidak ingin menjawabnya, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain menjawabanya.
"Emh, ya. Semuanya berjalan lancar dan menyenangkan." Jawab Flower seadanya.
"Aku lihat Tuan Rey berangkat membawa istrinya. Pasti mereka sangat romantis saat berada di sana karena mereka bukan hanya melakukan perjalanan bisnis tapi juga sekaligus ingin melakukan babymoon untuk Nona Yura dan bayinya." Wanita itu terus bercerita tanpa memperdulikan wajah Flower yang sudah masam karena mendengar nama Yura.
"Aku keluar dulu, Flow." Ucapnya kemudian saat pintu lift terbuka di lantai tempat ia bekerja.
__ADS_1
Flower mengangguk saja membalas perkataan wanita itu. "Sungguh menyebalkan!" Gerutunya dalam hati.
Sesaat kemudian, Flower telah tiba di lantai tertinggi perusahaan tempat ia bekerja. Flower melangkah dengan gaya anggunnya menuju meja kerjanya berada. Untung saja setelah keluar dari dalam lift hingga duduk di kursi kerjanya Flower tidak melihat keberadaan Malik sama sekali.
"Aku harap dia segera musnah dari dunia ini." Gumam Flower saat mengingat wajah Malik kembali.
Sedangkan Malik yang tengah berada di dalam ruangan kerjanya nampak berpikir keras mencari jalan keluar atas apa yang telah ia lakukan pada Flower kemarin malam. Walau Flower sudah mengatakan untuk melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka, namun tetap saja sebagai seorang pria Malik tak bisa tinggal diam begitu saja. Ia sangat ingin bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Setelah cukup lama berpikir pagi itu, Malik pun keluar dari dalam ruangannya menuju meja kerja Flower.
Flower yang tengah asik mengetikkan sesuatu di layar komputernya pun sontak menghentikan kegiataannya. "Tidak bisa. Apa anda tidak lihat saya sedang bekerja?" Tanyanya sinis.
Malik tak menghiraukannya. Ia memilih mengeluarkan ponselnya sebagai tanda ia akan mengirimkan apa yang Flower katakan saat ini pada Rey.
"Sial, dia mengancamku!" Rutuk Flower saat melihat pergerakan Malik yang sudah ia ketahui apa maksudnya.
__ADS_1
"Dimana kita akan berbicara?" Tanya Flower ketus.
"Rooftop." Jawab Malik singkat lalu melangkah meninggalkan Flower begitu saja.
"Sopan sekali dia!" Rutuk Flower menatap Malik yang pergi begitu saja tanpa menunggu balasan darinya. Walau dengan hati yang merasa kesal, Flower tetap mengikuti langkah Malik menuju rooftop perusahaan. Tempat dimana ia sering berkeluh kesah di sana.
Sesampainya di atas rooftop, Flower sudah disambut dengan hembusan angin yang berhembus cukup kencang hingga menerbangkan beberapa helai rambutnya.
"Itu dia." Gumam Flower menatap Malik yang tengah berdiri di pembatas rooftop.
^^^
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, favorit dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.