
Setibanya di kediamannya dan William, Rania dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri pelayan yang sedang berjalan ke arah dapur.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya pelayan saat Rania memanggil namanya.
"Apa Tuan sudah pulang?" Tanya Rania.
"Belum Nyonya." Jawabnya. Pelayan itu nampak bingung karena Rania menanyakan kepulangan William di saat belum jam pulang bekerja.
Rania pun meminta pelayan melanjutkan kegiatannya dan ia pun langsung melangkah ke arah tangga untuk naik ke kamarnya.
"Tentu saja dia belum pulang karena aku baru saja menghubunginya." Gumam Rania. Ia terlihat sangat tidak sabar menanti suaminya itu pulang.
Setelah berada di dalam kamar, Rania pun kembali menghubungi Willam untuk menanyakan dimana suaminya itu kini berada. Untung saja William berkata jika ia sudah berada di dalam perjalanan pulang dan terjebak macet hingga Rania tidak jadi memarahinya karena belum sampai juga.
Dua puluh menit menunggu, akhirnya pria yang dinantikannya pun datang juga. William terlihat memasang wajah bingung melihat raut wajah istrinya yang tidak bersahabat saat ini.
__ADS_1
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kusut begitu?" Tanya William.
"Kau tanya kenapa?" Suara Rania terdengar cukup keras hingga William semakin dibuat bingung mendengarnya.
"Hei, ada apa ini?" William pun membawa Rania untuk duduk di pinggir ranjang.
Rania berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. "Kandungan Flower bermasalah saat ini." Ucap Rania kemudian.
Deg
"Apa maksudmu?" Tanya William dengan datar.
"Anak kita, anak yang sudah seperti tidak kau anggap lagi itu sedang tidak baik-baik saja saat ini." Ucap Rania dengan menatap William tajam.
William membalas tatapan Rania dengan dingin. "Katakan dengan jelas. Ada apa ini?" Tanya William. Ia sungguh tidak suka Rania mengatainya tidak menganggap Flower anaknya lagi.
__ADS_1
"Kau tahu bukan jika tadi siang aku menemani Hana datang ke rumah sakit miliki Dika?" Tanya Rania. William pun mengangguk mengiyakannya. "Di rumah sakit tadi tiba-tiba saja aku melihat Flower dan Malik datang ke rumah sakit. Aku pikir untuk apa mereka datang hari ini karena aku tahu jadwal pemeriksaan kandungan Flower masih dalam waktu dua hari lagi." Ucap Rania.
William diam menunggu Rania melanjutkan perkataannya. "Perasaanku sungguh tidak enak melihat kedatangan mereka. Apa lagi sudah beberapa waktu belakangan ini aku memiliki firasat yang tidak enak pada putriku. Di saat aku menanyakan pada Flower, dia berkata baik-baik saja. Namun saat aku menanyakan kebenarannya pada dokter yang menanganinya, aku mendapatkan fakta jika Flower saat ini tengah stress berat dan berakibat pada kandungannya." Jelas Rania.
Deg
"Kau jangan bercanda." Ucap William tegas.
"Apa kau pernah melihatku bercanda di saat aku sedang berkata serius?" Tekan Rania. William pun terdiam dibuatnya. "Apa kau bisa menebak apa yang membuat putri kita stress berat saat ini?" Tanya Rania kemudian.
William pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tentu saja salah satu alasannya karena dirimu." Ucap Rania yang berhasil membuat William tersentak karenanya. Rania tak ingin menyebutkan dugaan pertamanya karena ia ingin menyadarkan suaminya lebih dulu.
"Sudah lima bulan putri kita menahan rasa kerinduan yang mendalam pada dirimu tapi kau hanya bersikap acuh hingga menyebabkan dia stress saat ini. Apa kau tidak pernah merasakan rasa rindu pada putrimu itu, Will? Apa harus menunggu Flower terluka dulu baru kau bisa membuka hatimu itu?"
***
__ADS_1
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗