One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Tidak banyak perubahan


__ADS_3

Saat ini Malik dan Flower sudah duduk berhadapan di meja makan sambil menikmati makanan mereka masing-masing setelah sebelumnya Malik yang mempersiapkan piring dan menyalin makanan makan malam untuk mereka.


Flower yang tengah menikmati makanannya saat ini entah mengapa tidak merasa mual bahkan merasa nyaman duduk berhadapan dengan Malik.


"Jangan terburu-buru seperti itu. Tidak akan ada yang mau mengambil makananmu." Ucap Malik datar saat melihat Flower menghabiskan makanannya dengan terburu-buru.


Flower hanya merespon perkataan Malik dengan raut wajah masam. Ia pun kembali melanjutkan memakan makanannya hingga habis tak tersisa.


"Tidak bisakah kau mencuci piring bekas makananmu?" Tanya Malik datar saat Flower beranjak dari meja makan.


"Tidak. Aku tidak bisa melakukannya." Jawab Flower lalu melangkah meninggalakan Malik begitu saja.


Malik hanya bisa menghela nafas melihat respon Flower. Malik tak merespon tindakan Flower dan memilih membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka berdua. Menurutnya saat ini mengalah lebih baik dari pada harus berdebat dengan istrinya itu.

__ADS_1


Malik melangkah ke arah ruang tamu setelah selesai dengan kegiatannya di dapur. Dilihatnya di ruang tamu Flower tengah duduk di sana sambil memainkan ponselnya.


"Apa kau tidak bisa membeli rumah yang lebih besar dari ini dari hasil gajimu selama bekerja dengan Kak Rey?" Tanya Flower setelah meletakkan ponselnya di atas meja sofa.


"Rumah ini sudah sangat nyaman untuk ditinggali." Jawab Malik.


"Ck. Kau tidak menjawab pertanyaanku dengan benar." Kesal Flower.


"Lebih banyaklah melihat ke bawah agar kau tahu artinya bersyukur." Tekan Malik.


"Aku tidak menasehatimu. Aku hanya ingin menyadarkanmu." Jawab Malik yang membuat Flower bertambah kesal mendengarnya.


"Apa kau tahu jika kau bukanlah pria idaman? Kau memberikan kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang selama ini Daddy berikan kepadaku!" Kini Flower balik menekan perkataannya pada Malik.

__ADS_1


"Tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan yang kau harapkan. Lagi pula kau harus ingat jika bukan kau saja yang terpaksa dengan pernikahan ini." Ucap Malik lalu bangkit dari duduknya. Walau terkesan tidak baik berkata seperti itu pada istrinya, namun Malik hanya berniat menyadarkan istrinya itu.


"Dia sungguh menyebalkan!" Gerutu Flower merasa kesal melihat sikap Malik saat ini. Sikap pria itu jauh berubah karena sudah terlalu banyak bicara dan perkataannya cukup menyentil hatinya.


*


Satu bulan berlalu, tidak banyak perubahan dalam rumah tangga Flower dan Malik. Kedua insan itu masih saja bersikap dingin satu sama lain tanpa ada sisi romantis seperti pasangan suami istri pada umumnya. Malik masih dengan sikap datarnya dan Flower masih dengan sikap arogannya.


Walau pun masih bersikap arogan dan sedikit ketus pada suaminya, namun di dalam hati kecilnya Flower selalu tidak ingin jauh dari suaminya itu. Setiap Malik pergi bekerja atau pergi keluar rumah saat ada urusan ia selalu merindukan sosok suaminya itu dan merasakan ada yang kurang di dalam dirinya.


Seperti saat ini, setelah kepergian Malik ke perusahaan Flower sudah murung karena merasa ada yang kurang di dalam rumahnya walau ia tidak menyadarinya.


"Lebih baik aku bermain ke rumah Suci saja." Ucap Flower karena sudah merasa bosan sendiri di rumah dan tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


***


__ADS_2