One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Mahakarya yang hilang


__ADS_3

Lalu Flower pun menceritakan apa yang terjadi saat Emila datang menghampirinya dan memberikan tuduhan tak berdasar padanya. Flower menceritakannya dengan rinci tanpa ada yang tertinggal dan tidak melebih-lebihkan ceritanya. Tak lupa Flower juga menceritakan jika ia menampar Emila karena kesal dengan tuduhan wanita itu padanya.


"Apa, kau menamparnya?" Malik merasa terkejut. Bukan karena terkejut mantan kekasihnya mendapatkan perlakuan buruk dari istrinya melainkan merasa terkejut karena Flower bisa berbuat seperti itu pada Emila.


"Ya. Aku tidak suka karena dia menuduhku dengan wanita murahan!" Ucap Flower berapi-api.


Malik mengusap-usap punggung istrinya berharap dapat menenangkan istrinya. Jika dilihat saat ini ekspresi Flower yang tengah bercerita padanya hampir sama persis seperti Rachel waktu kecil yang tengah mengadu pada Gerry tentang kelakuan nakal teman-temannya di sekolah.


"Kenapa? Kau tidak terima karena aku menampar mantan kekasihmu itu?" Flower menatap Malik dengan mata terpicing.


"Tidak seperti itu." Jawab Malik cepat tak ingin istrinya berpikiran yang tidak-tidak. "Aku hanya terkejut kau berani melakukannya." Jawab Malik jujur.


Flower memanyunkan bibirnya. "Awas saja jika kau sampai kasihan pada mantan kekasihmu itu." Ucap Flower.

__ADS_1


Malik tentu saja menggelengkan kepalanya. Bukannya merasa kasihan pada mantan kekasihnya, saat ini Malik justru merasa marah karena Emila dengan terang-terangan menghina istrinya dengan menuduh istrinya wanita murahan.


"Malik..." Flower kembali mendekap tubuh Malik setelah tadi sempat melepaskannya. "Kenapa dia jahat sekali kepadaku padahal aku tidak pernah berbuat jahat padanya. Aku bahkan tidak membalas perkataan jahatnya kepadaku tapi dia selalu saja menuduhku yang bukan-bukan." Flower merasa sedih saat mengatakannya.


"Aku tahu jika aku adalah orang yang membuat kalian jadi berpisah. Tapi ini semua terjadi juga bukan karena keinginanku. Sejak awal kau tahu bukan jika aku tidak ingin meminta pertanggungjawaban darimu." Lanjut Flower kemudian.


"Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Apa yang terjadi pada kita saat ini adalah takdir dari Tuhan dan kita harus menerimanya dengan lapang dada. Lagi pula perpisahanku dengannya tidak semuanya murni karena dirimu." Ucap Malik.


"Maksudmu?" Kening Flower mengkerut merasa bingung dengan perkataan Malik.


Flower terdiam. Sejujurnya ia tidak terlalu lapar karena tadi sudah cukup banyak menikmati berbagai macam makanan bersama Mom Rania.


"Kau ingin mengajakku makan dimana?" Tanya Flower.

__ADS_1


"Di resto dekat perusahaan saja." Jawab Malik.


Flower menganggukkan kepalanya. Ia pun memilih menunggu Malik yang ingin membereskan berkasnya lebih dulu dengan duduk di sofa. Setelah lima menit menunggu, akhirnya Malik pun mengajak Flower keluar dari dalam ruangan kerjanya.


"Kau harus ingat jangan lagi memikirkannya. Untuk wanita itu, biar aku yang menyelesaikannya nanti." Tutur Malik lembut:


Flower menganggukkan kepalanya. Ia percaya jika suaminya itu bisa memberikan hal yang terbaik untuknya. Sebelum keluar dari dalam ruangan, Flower pun teringat dengan mahakaryanya tadi pagi. Ia menatap ke leher Malik dan dibuat bingung karena tidak melihat bekas merah itu lagi di leher Malik.


Malik yang tidak sadar ditatap oleh Flower hanya diam sambil membuka pintu ruangan kerjanya.


"Malik, tunggu." Flower menghentikan langkah Malik yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya.


***

__ADS_1


Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗


__ADS_2