
"Flower..." Mom Rania sampai menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu mendengar jawaban dari putrinya itu. "Mau mirip dengan siapa anakmu nanti kau tetap harus bersyukur dan menerimanya. Lagi pula walau wajah anakmu nanti mirip Malik belum tentu dia akan mewarisi sikap Malik. Bisa jadi mewarisi sikap darimu." Ucap Rania.
"Tapi Mom, tetap saja Flow ingin Baby mirip dengan Flow." Rengek Flower.
Mom Rania mengusap rambut panjang putrinya. "Sudahlah, kau seperti anak kecil saja." Ucap Mom Rania.
Flower pun berubah manyun mendengarnya. "Oh ya, Mom sedang apa di sini?" Tanya Flower yang sejak tadi sudah merasa penasaran untuk apa Momnya ada di rumah sakit.
"Mom tadi kebetulan sedang menemani Tante Hana bertemu dengan direktur rumah sakit." Jawab Rania.
"Tante Hana ada di sini, Mom?" Tanya Flower merasa sedikit terkejut karena setahunya Hana sudah lama tinggal di luar kota mengurus rumah sakit baru milik Dika.
"Ya. Tante Hana dan Om Dika sudah kembali ke kota ini dan akan kembali menetap di sini bersama anak kembar mereka." Jawab Rania.
__ADS_1
"Wah, Flower sudah tidak sabar bertemu dengan si kembar, Mom." Jawab Flower dengan mata berbinar.
"Kau bisa datang ke rumah Tante Hana kapan pun kau bisa." Ucap Mom Rania.
Flower mengiyakannya. Tak lama Flower dan Malik pun berpamitan untuk menebus obat dan vitamin Flower di bagian farmasi lalu pulang ke rumah. Setelah kepergian anak dan menantunya, Mom Rania tak langsung beranjak justru berpikir beberapa saat.
"Walau Flower berkata baik-baik saja tapi entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres dengannya saat ini. Aku dapat melihat jika Flower sedang menutupi sesuatu dariku. Baiklah, aku harus memastikannya setelah ini." Ucap Rania.
Rania pun melangkah menuju ruangan dimana Hana berada dan meminta pada Hana untuk meminta dokter kandungan yang baru saja memeriksa Flower bertemu dengannya. Tentu saja permintaan Rania langsung dilakukan oleh Hana dan tak membutuhkan waktu lama mereka sudah duduk saling berhadapan di dalam ruangan yang sudah Hana disediakan oleh Hana.
"Rania tenanglah." Hana meminta Rania untuk duduk kembali.
Dokter pun kembali melanjutkan penjelasannya tentang hasil pemeriksaan Flower tadi tanpa ada yang ia tutupi karena ia tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini.
__ADS_1
"Ternyata firasatku akhir-akhir ini benar, Hana. Flower sedang tidak baik-baik saja. Aku yakin di rumah mertuanya telah terjadi sesuatu pada putriku di sana hingga dia sampai stress berat seperti ini." Ucap Rania yakin.
"Rania, kau jangan menduga-duga seperti itu." Hana mencoba menenangkan sahabat baiknya itu.
"Hana, perasaan seorang ibu tidak mungkin salah. Apa lagi yang membuat putriku jadi stress seperti ini jika bukan karena mertuanya? Malik menantuku itu sangat menyayanginya dan menjaganya. Dia tidak mungkin menjadi penyebab semua ini terjadi pada putriku." Ucap Rania.
Hana terdiam karena bingung harus mengatakan apa lagi untuk menenangkan sahabatnya itu. Akhirnya setelah pembicaraannya dan dokter selesai, Rania pun berpamitan untuk kembali ke kediamannya.
Saat di perjalanan Rania pun meminta William untuk pulang lebih awal ke rumah mereka karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan saat ini.
"Aku tidak akan membiarkan kau tutup mata lagi pada putri kita saat ini Will." Ucap Rania.
***
__ADS_1
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗