
"Huh, kenapa satu minggu belakangan ini kepalaku sering terasa sakit." Gumam Flower sambil memicingkan kedua kelopak matanya sejenak.
Flower pun melangkah ke arah sofa lalu menjatuhkan bokongnya di sana. "Rasanya akhir-akhir ini tidak begitu mengenakkan." Keluhnya lagi sambil tetap memegang kepalanya.
Flower pun mengingat perkataan Daddynya tadi yang ingin mengajaknya pergi bertemu dengan rekan bisnisnya. "Apa aku terima saja ajakan Daddy. Mungkin saja dengan ikut bersama Daddy kepalaku tak lagi sakit dan beban hidupku sedikit berkurang." Ucapnya menimbang-nimbang. Walau pun tadi ia sudah mengiyakan ajakan Daddynya, namun tadi Flower juga berpikir untuk membatalkan kepergiannya dengan berbagai cara seperti berpura-pura sakit atau sedang banyak pekerjaan.
Setelah cukup singkat berpikir, Flower pun memutuskan untuk ikut bersama Daddynya besok malam menemui rekan bisnis Daddynya. Menurutnya itu lebih baik dibandingkan ia harus menikmati malam minggunya besok dengan kesendirian di balkon kamarnya seperti malam minggu sebelumnya.
*
"Flower, ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Andini pada Flower yang sedang memegang kepalanya yang kembali terasa sakit.
"Agh, ya. Aku tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke dalam butik." Ajak Flower. Ya, saat ini Flower dan Andini tengah berada di sebuah butik langganannya untuk mencari gaun yang akan dipakainya untuk pergi nanti malam bersama Daddynya.
"Tapi apa kau yakin baik-baik saja?" Tanya Andini memastikan kembali. Karena sudah hampir satu minggu belakangan ini ia sering melihat Flower seperti orang yang sedang sakit kepala.
"Ya, aku tak apa. Ayo masuk." Ajak Flower meyakinkan.
Andini akhirnya mengangguk dan menuruti Flower masuk ke dalam butik.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin membeli baju juga, Dini?" Tawar Flower.
"Emh, tidak." Jawab Andini. Sebenarnya ia sangat tertarik melihat banyaknya deretan baju di depannya saat ini. Namun mengingat saat ini belum memasuki tanggal gajiannya membuat Andini mengurungkan niat untuk membelinya.
Flower yang dapat mengerti alasan Andini tidak ingin membeli baju pun akhirnya memilihkan satu buah gaun dan memperlihatkannya pada Andini.
"Bagaimana menurutmu, apa ini bagus?" Tanya Flower.
Andini menatapnya dengan mata berbinar. "Ya. Ini sangat bagus." Pujinya.
"Baiklah, kalau begitu baju ini untukmu." Ucap Flower lalu menyerahkan gaun bewarna merah menyala itu pada Andini.
"Ya. Gaun itu untukmu. Anggap saja gaun itu sebagai hadiah pertemanan kira dariku untukmu." Jawab Flower dengan tersenyum.
"Tapi, Flow, harganya—" Andini tak melanjutkan perkataannya saat Flower meletakkan jari telunjukkan di bibir.
"Sudahlah, ayo bantu aku cari gaun untukku." Ajak Flower.
Andini menatap Flower dengan mata berkedip. "Flow, ini sungguh berlebihan." Andini berniat mengembalikan gaun itu pada tempat semula. Namun Flower dengan cepat menahan pergerakannya.
__ADS_1
"Terimalah atau aku akan marah." Ancamnya.
Andini menghela nafas sejenak lalu mengangguk sebagai jawaban. "Terima kasih, Flow." Ucapnya sungkan.
"Sama-sama. Ayo." Ajak Flower lalu melangkah ke arah deretan gaun yang menarik perhatiannya.
Setelah hampir setengah jam berada di butik memilih gaun yang akan dibeli dan dipakainya untuk pergi nanti malam bersama Daddynya, akhirnya pilihan Flower jatuh pada gaun polos bewarna hitam sepanjang lutut yang terlihat simpel namun glamor saat dipakai olehnya.
"Benar, yang ini saja. Ini sangat bagus di tubuhmu." Ucap Andini menatap kagum penampilan Flower saat ini.
Flower mengangguk mengiyakannya. "Tapi kenapa aku merasa tubuhku semakin berisi akhir-akhir ini." Ucap Flower sambil menatap penampilannya di depan cermin.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, favorit dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1