
Saat makan malam tiba Malik dapat melihat jika Flower tidak begitu berselera memakan makanan yang tadi dibawakannya bahkan kini Flower terlihat menahan rasa mual di dalam perutnya.
"Kalau tidak suka jangan dipaksa. Kita bisa mencari makanan di luar jika kau mau." Ucap Malik setelah menghentikan memakan makanannya sejenak.
"Tidak. Aku menyukainya." Flower memaksa memakan makanan itu namun perutnya semakin merasa mual.
"Hoek." Flower pun sontak bangkit dari duduknya dan berlari ke arah kamar mandi.
Melihat itu Malik pun dengan sigap menyusul Flower ke kamar mandi dan membantu memijat tengkuk Flower.
"Kita cari makan di luar setelah ini." Ucap Malik setelah Flower selesai memuntahkan seluruh makanan yang baru saja ia makan ke dalam westafel.
Flower menggeleng. "Aku tidak mau. Anakmu hanya mau memakan makanan buatanmu malam ini." Jawab Flower lirih.
Malik terdiam dan berpikir bagaimana bisa ia memasakkan makanan untuk Flower di saat seperti ini.
__ADS_1
"Kau bisa memasakkan telur mata sapi saja untukku." Ucap Flower yang dapat mengetahui isi pemikiran Malik karena saat ini tidak ada sisa bahan masakan di kulksas selain telur.
Malik mengangguk lalu membantu Flower keluar dari dalam kamar mandi dan membantunya duduk kembali di kursi meja makan.
"Tunggulah sebentar." Ucap Malik lalu melangkah ke arah kulkas dan mengeluarkan dua buah telur dari sana. Setelahnya Malik segera membuatkan telur mata sapi yang Flower inginkan dan tambahan telur dadar.
Tidak membutuhkan waktu lama kini masakan sederhana itu sudah tersaji di depan Flower. Melihat masakan sederhana buatan Malik membuat Flower meneguk salivamya dengan susah payah.
"Ayo makanlah." Ucap Malik pada Flower.
Flower mengangguk lalu mengambil telur dan meletakkannya ke dalam piringnya yang sudah berisi nasi.
"Jangan terburu-buru, tidak ada yang akan mengambil makananmu." Tegur Malik saat Flower tersedak makanan karena makan dengan terburu-buru.
"Emh..." balas Flower sambil meneguk air putih yang baru saja diberikan Malik untuknya. Setelahnya Flower pun kembali melanjutkan menghabiskan makanannya hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
"Apa kau sudah kenyang?" Tanya Malik menatap Flower yang sedang mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Sudah. Telurnya enak sekali." Ucap Flower dengan tersenyum.
Deg
Entah mengapa melihat senyuman di wajah cantik Flower membuat jantung Malik berdetak lebih cepat. Malik pun dengan cepat menguasai dirinya agar tak terbawa suasana saat ini.
"Kembalilah ke ruang tamu. Biar aku membereskan ini dulu." Ucap Malik.
Flower tak langsung menjawabnya. Ia menatap bekas piring makannya di atas meja lalu mengingat bagaimana sikap Suci pada suaminya jika setelah selesai makan.
"Baiklah." Ucap Flower lalu bangkit dari duduknya. Flower pun melangkah ke ruang tamu sambil memikirkan bagaimana tadi Suci mencuci piringnya.
"Sepertinya mudah tapi aku masih merasa geli untuk melakukannya." Ucap Flower. Terlebih ia suka merasa mual dan ingin muntah jika mencium aroma sabun cuci piring yang terasa menyengat di penciumannya.
__ADS_1
"Apa aku harus belajar dengan Suci bagaimana cara mencuci piring yang benar agar untuk selanjutnya aku yang mencuci piring bukan Malik?" Ucap Flower menimbang-nimbang.
***