
Setibanya di perusahaan Arnold, langsung saja William dan Rania melangkah ke arah resepsionis berada. Melihat kedatangan Rania dan William membuat Emila dan dua resepsionis lainnya bangkit dari duduknya.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Tanya Emila ramah pada William.
William tak menjawab justru menatap wajah Emila dengan tajam. Rania pun turut menatap wajah Emila dengan intens. Jika dilihat dari luar saja Emila terlihat seperti wanita yang baik dan berbeda jauh dengan bentuk dalamnya.
"Tidak ada. Saya hanya ingin mengingatkan kalian untuk bekerja dengan baik dan menjaga perkataan kalian dengan benar. Saya tidak ingin memiliki karyawan bermulut sampah di perusahaan ini." Pesan William menekan setiap perkataannya.
Emila dan ketiga rekan kerjanya dibuat bingung mendengar pesan dari William namun mereka memilih untuk mengangguk saja mengiyakan perkataan William.
"Ayo pergi." William menarik tangan Rania untuk membawanya pergi dari sana.
"Tidak seharusnya kau berkata sampah seperti itu. Kau bisa mengganti bahasamu dengan lebih baik." Tegur Rania saat mereka sudah berada di dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Jangan mengajariku. Untung dia tidak langsung ku pecat hari ini." Sembur William.
__ADS_1
Rania terdiam. Ia tidak berminat lagi menasehati suaminya karena ia tahu William tengah marah besar saat ini. Untung saja saat di perjalanan tadi ia sudah memberi nasihat pada William untuk tidak bertindak sesuka hatinya dan memberikan kesempatan pada Emila untuk berubah. Jika tidak, sudah dapat Rania pastikan jika saat ini William sudah meminta HRD untuk mengeluarkan surat pemecatan pada Emila secara tidak terhormat.
"Apa kau masih tetap berada di sini? Aku akan melakukan pertemuan sebentar lagi." Ucap William pada Rania setelah berada di dalam ruangan kerjanya.
"Emh, sepertinya aku pulang saja. Aku ingin mempersiapkan makanan untuk nanti malam." Jawab Rania.
"Baiklah, kalau begitu pergilah dan hati-hati di jalan. Kabari aku jika kau sudah sampai." Pesan William.
Rania mengangguk mengiyakannya lalu keluar dari dalam ruangan kerjanya setelah mengambil barangnya yang tadi tertinggal. Saat sudah kembali berada di lobby perusahaan, Rania kembali menatap pada Emila yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu di layar komputernya.
Rania menghela nafasnya lalu melanjutkan langkahnya keluar dari perusahaan. Tak lupa ia menebarkan senyuman manisnya pada setiap orang yang sedang lewat dan menyapa dirinya.
*
Sore harinya, Malik terlihat terburu-buru melangkah ke arah kamar hotelnya berada karena sudah tidak sabar untuk melihat sosok istrinya. Entah mengapa sejak berada di perusahaan tadi ia terus kefikiran pada Flower dan takut istrinya itu kenapa-napa karena hanya sendirian di dalam hotel.
__ADS_1
Ceklek
Pintu kamar hotel terbuka dan Malik langsung saja masuk mencari keberadaan istrinya. Rasa khawatir yang sejak tadi Malik rasakan semakin bertambah karena tidak melihat keberadaan istrinya dimana-mana.
"Dimana Flower?" Tanya Malik dengan wajah cemas.
Malik pun mencoba mencari keberadaan Flower di dalam kamar mandi namun tak juga melihat keberadaan Flower.
"Dimana dia?" Ulang Malik lagi. Malik pun berteriak memanggil-manggil nama Flower berharap mendapatkan sahutan dari istrinya walau pun itu tidak mungkin. Perasaan cemas Malik semakin bertambah karena melihat ponsel Flower tergeletak begitu saja di samping ranjangnya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.