
Akhirnya Flower pun keluar dari dalam rumahnya dan tak lupa menguncinya. Setelahnya ia melangkah menuju kediaman Suci. Saat tengah berada di jalan menuju rumah Suci, samar-samar Flower mendengar suara para wanita yang tengah membicarakan suaminya dari rumah yang sedang ia lewati.
"Tuan Malik itu benar-benar paket komplit, ya. Sudah tampan, baik, perhatian lagi sama istri. Lihat saja setiap pagi dia sudah menjemur pakaian istrinya di samping rumah." Ceritanya yang terdengar di telinga Flower.
"Iya, benar. Saya juga beberapa kali pernah melihatnya. Tuan Malik memang benar memanjakan istrinya yang tengah hamil muda." Balas wanita yang ada di sebelahnya.
Mendengarkan pujian tetangganya pada Malik tentu saja membuat Flower membulatkan kedua kelopak matanya. Apa yang tetangganya itu memang benar. Setiap pagi Malik memang sering mengerjakan perkerjaan rumah termasuk membantunya mencuci baju. Semua itu memang Malik lakukan murni karena ia tidak ingin merepotkan istrinya yang tengah hamil muda dan sering muntah di pagi hari.
"Andai saja yang jadi Nona Flower itu saya. Pasti saya akan bahagia sekali mendapatkan suami seperti Tuan Malik." Lanjut cerita mereka lagi.
"Benar, sayangnya suami kita tidak sama seperti Tuan Malik. Mereka hanya menganggap pekerjaan rumah murni sebagai pekerjaan seorang istri." Mereka terus melanjutkan cerita tanpa sadar jika ada kuping yang kini sudah memanas karena mendengar cerita mereka.
Tak ingin membuat dadanya semakin bergemuruh mendengar orang lain memuji suaminya, Flower pun memilih segera pergi dari depan rumah tetangganya itu dan melangkah cepat menuju rumah Suci.
"Apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain menggosipkan suami orang?" Gerutu Flower dengan tangan terkepal. "Kau dengar itu, Baby? Ibu-ibu tadi memuji kebaikan Daddymu yang datar itu." Adu Flower pada janinnya.
__ADS_1
Setibanya di rumah Suci, Flower sudah disambut dengan senyuman merekah di wajah Suci. "Flower, kau datang ke sini?" Ucap Suci saat sudah menghampiri Flower yang tengah berdiri di depan rumahnya.
"Emh, ya. Apa kedatanganku mengganggumu, Suci?" Tanya Flower.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan senang melihatmu datang ke sini." Balas Suci.
Flower tersenyum senang mendengarnya.
"Ayo masuk dulu, Flo." Ajak Suci dan diangguki Flower sebagai jawaban.
Flower pun mengangguk dengan senyuman kaku di wajahnya. "Ya. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi." Jawab Flower.
Suci mengangguk-angguk saja. "Kebetulan sekali pekerjaanku di rumah sudah selesai jadi kita bisa berbicara panjang lebar di sini." Ucap Suci.
"Oh ya, Suci ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucap Flower dengan wajah ragu.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Suci.
"Apa tetangga di sini memang suka menceritakan suami orang?" Tanya Flower.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau mendengar mereka menceritakan suamimu?" Tebak Suci.
"Ya. Baru saja aku mendengarnya. Mereka menceritakan semua kebaikan suamiku." Jawab Flower memasang wajah jengkel.
Suci tersenyum mendengarnya. "Flower, sebenarnya tetangga di sini memang suka menceritakan suamimu sejak dia masih lajang. Tuan Malik itu sudah terkenal baiknya di sini. Dan sekarang kebaikannya semakin bertambah sejak dia menikah denganmu." Ucap Suci jujur.
"Maksudmu suamiku menjadi idola di sekitar perumahan ini?" Tanya Flower.
"Emh, ya, seperti apa yang kau pikirkan." Jawab Suci dan berhasil membuat dada Flower semakin bergemuruh mendengarnya.
***
__ADS_1
Jangan lupa follow ig Shy @shy1210_ ❤️