
"Kenapa kamarmu ini didesain serba gelap seperti ini?" Tanya Flower merasa seram menatap ke sekitar kamar Malik yang didominasi warna abu-abu tua.
"Karena aku menyukainya." Jawab Malik seadanya lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Flower menggelengkan kepalanya. Ternyata dimana pun suaminya itu berada suaminya itu memang tidak memiliki kesan warna di dalam hidupnya. "Hidupmu terlalu flat." Ucap Flower sambil melangkah masuk ke dalam kamar Malik.
"Kau bilang apa?" Tanya Malik karena tidak terlalu mendengar apa yang Flower katakan.
"Aku bilang hidupmu terlalu flat." Ulang Flower ketus.
Malik menyerngitkan keningnya bingung.
"Sudahlah jangan bertanya lagi." Ucap Flower merasa Malas melihat ekspresi wajah suaminya itu.
Malik mengangguk saja mengiyakan perkataan istrinya. Ia pun membawa koper yang dibawanya ke arah lemari dan meletakkannya di samping lemari. Sementara Flower masih setia menatap perabotan yang ada di dalam kamar Malik yang di dominasi warna gelas.
"Sungguh menyeramkan sekali." Flower pun bergedik ngeri membayangkan malam ini ia akan tidur di kamar Malik.
__ADS_1
"Aku ingin mengganti bajuku lebih dulu. Apa kau juga ingin mengganti bajumu?" Tanya Malik setelah kembali mendekati Flower.
Flower menggelengkan kepalanya. "Tidak. Jika kau ingin ganti baju maka gantilah di dalam kamar mandi." Titah Flower.
Malik mengangguk saja lalu membawa baju yang sudah ia ambil di dalam lemarinya tadi ke arah kamar mandi.
"Lebih baik sambil menunggu Malik mengganti baju aku mengeluarkan gaun malam itu dari dalam koper agar nanti aku bisa langsung memakainya." Ucap Flower lalu segera bangkit dari atas ranjang menuju kopernya.
Dengan tergesa-gesa Flower membuka kopernya dan mengeluarkan gaun malamnya dari sana agar Malik tidak melihat apa yang ia lakukan. Setelahnya Flower memasukkan gaun yang sudah diambilnya itu ke dalam rak lemari Malik paling bawah.
"Oke. Semuanya sudah siap tinggal menunggu waktunya saja." Ucap Flower.
"Kenapa tidak langsung mandi saja?" Tanya Flower merasa bingung pada suaminya.
"Nanti saja setelah makan malam. Saat ini Ibu sudah menunggu kita di bawah. Lebih baik sekarang kita segera turun ke bawah agar Ibu tidak terlalu lama menunggu." Ajak Malik.
Flower mengangguk mengiyakannya lalu meminta Malik keluar lebih dulu dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Baby, kau harus bekerja sama malam ini bersama Mommy untuk menggoda Daddymu itu. Mommy ingin memastikan jika Mommy menikah dengan pria normal atau tidak." Ucap Flower sambil mengusap perut buncitnya.
Saat sudah berada di ruang makan, Bu Venna terlihat telah duduk di kursi menunggu kedatangan Malik dan Flower.
"Maaf telah membuat Ibu menunggu." Ucap Malik pada Bu Venna.
"Tak masalah. Ayo duduk." Ajak Bu Venna.
Malik mengiyakannya namun sebelum menarik kursinya ia menarik kursi untuk tempat duduk Flower lebih dulu.
"Duduklah." Titah Malik lembut.
Flower dibuat tertegun melihatnya. Ia pun mengangguk mengiyakannya lalu duduk di atas kursi. Setelahnya Malik pun turut melakukan hal yang sama.
Bu Venna yang melihat Malik memperlakukan istrinya begitu istimewa tentu dibuat kesal melihatnya. Ia pikir Malik akan bersikap datar seperti saat bersama Emila ternyata justru sebaliknya.
"Malik, kau terlihat manis sekali pada istrimu itu." Ucap Bu Venna seraya tersenyum palsu pada Malik dan Flower.
__ADS_1
***