
Setelah hari itu, Flower pun memberikan Daddynya banyak waktu untuk dekat dengan Baby atau membawa putri kecilnya itu berjalan-jalan. Walau merasa merindukan Baby karena Dad William tak memberikan kesempatan kepadanya untuk bermain bersama Baby, tapi Flower cukup merasa senang karena bisa membuat Daddy dan Mommynya bahagia dan ia bisa tidur lebih lama dibandingkan biasanya.
Satu minggu menjelang waktu prediksi persalinan bayi kedua Flower dan Malik, Flower tak merasakan apa-apa. Wanita itu terlihan menjalani hari seperti biasanya tidak merasakan tanda-tanda kelahiran anak keduanya sedikit pun seperti saat melahirkan Baby dulu.
"Aku rasa bayi kedua kita akan lahir sesuai prediksi dokter." Ucap Flower pada Malik yang sedang memangku kepalanya saat ini.
"Apa sampai saat ini kau belum mendapatkan tanda-tanda akan melahirkan?" Tanya Malik.
Flower menggeleng. "Aku biasa saja. Pergerakan Boy di dalam perut juga biasa saja." Jawab Flower.
"Kalau begitu kita tinggal menunggu waktu persalinan saja. Semoga saja semua berjalan dengan lancar." Jawab Malik.
"Ya, semoga saja." Flower tersenyum lalu menelusupkan wajah di perut suaminya.
Seminggu menjelang persalinan, Rey berinisiatif memberikan cuti pada Malik agar asitennya itu fokus menjaga istrinya di rumah. Rey tidak ingin di persalinan kedua Flower ia mengalami hal yang sama dan Malik tidak ada lagi di sisinya. Penawaran dari Rey pun tentu saja awalnya membuat Malik tak enak hati karena ia tahu pekerjaannya di perusahaan masih cukup banyak dan Rey pasti akan kerepotan mengambil alih pekerjaannya.
__ADS_1
Namun setelah diberikan penjelasan oleh Rey jika ada Aidan yang bisa membantu meringankan pekerjaanya jadi membuat Malik bisa merasa tenang.
Waktu terus bergulir. Waktu prediksi persalinan Flower pun tinggal menungu beberapa hari lagi. Malam itu Flower yang merasa sangat menginginkan suaminya pun mengajak Malik untuk bermain bersamanya.
Tentu saja ajakan dari istrinya itu langsung diangguki oleh Malik karena ia juga sangat menginginkan istrinya terlebih Flower sudah sangat aktif menggodanya dengan pakaian lingerie yang melekat di tubuhnya.
"Malik, kau jangan lemas begitu! Ayo tambah lagi kecepatannya!" Protes Flower disela kegiatan panas mereka.
Malik terpaksa melakukan keinginan istrinya karena sudah tiga kali Flower memberikan protes kepadanya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Malik sambil menahan kepalanya yang terasa sakit karena belum sampai ke puncak gunung.
"Perutku sakit..." ucap Flower dengan mata terpejam.
"Apa? Perutmu sakit?" Ulang Malik.
__ADS_1
"Iya. Perutku sakit!" Ulang Flower dengan keras. Sedetik kemudian Flower pun menangis dengan keras karena perutnya terasa semakin sakit.
"Sayang..." Malik mencoba menenangkan istrinya yang sedang menangis kesakitan.
"Ma-malik, sepertinya aku ingin melahirkan." Ucap Flower sambil memegang sesuatu yang keluar dari bagian intinya.
Malik melihat ke arah yang tengah dipegang Flower saat ini.
"Astaga... ketubanmu sudah pecah!" Ucap Malik.
"Cepat bawa aku ke rumah sakit!" Pinta Flower sedikit berteriak.
Malik mengangguk mengiyakannya. Ia mengontrol dirinya agar tidak panik dan segera memakai pakaiannya kembali tanpa memperdulikan kepalanya yang sedang sakit saat ini. Tak lupa Malik membantu memasangkan baju di tubuh istrinya sebelum membawa istrinya pergi ke rumah sakit.
"Malik, ada apa ini?" Tanya Mom Rania yang kebetulan baru kembali dari dapur saat Malik keluar dari dalam kamar sambil menggendong Flower yang sedang menangis.
__ADS_1
***