
Belum sampai langkah kaki William tiba di depan pintu ruangan kerja Malik, William sudah melihat Malik dan Rey keluar dari dalam ruangan kerja Rey. Sontak saja melihat itu membuat William segera melangkah ke arah ruangan Rey.
Buk
Satu pukulan cukup keras tanpa aba-aba melayang indah di sebelah pipi Malik.
"Om William!" Pekik Rey merasa terkejut melihat William tiba-tiba saja memukul asistennya.
"Sst..." Malik memegang sudut bibirnya yang terasa sakit dan berdarah. "Apa maksudnya ini, Tuan?" Tanyanya dengan emosi tertahan.
"Kau bilang apa?!" William berjongkok. Meraih kerah kemeja Malik dan menggenggamnya. "Harusnya saya yang bertanya padamu apa yang telah kau lakukan pada putriku!" Bentak William.
Deg
Malik tertegun mendengarkan pertanyaan dari William.
"Om Will lepaskan Malik!" Rey berupaya melepaskan genggaman tangan William di kerah Malik.
"Jangan ikut campur Rey!" Bentak William pada Rey.
__ADS_1
"Rey..." Gerry menarik tangan putranya untuk menjauh dari Malik dan William.
"Jawab! Apa yang telah kau lalukan pada putriku, hem!" William semakin mengeratkan genggamannya. "Ayo jawab atau saya tak segan membunuhmu!" Lanjut William kemudian dengan tatapan nyalang.
"Saya bisa menjelaskan apa yang terjadi." Jawab Malik sedikit terbata karena kini lehernya terasa tercekik oleh tangan William.
William melepaskan genggaman tangannya dari kerah Malik lalu kembali memberikan pukulan di wajah Malik hingga kini kedua sudut bibir Malik pecah dan mengeluarkan darah.
"Apa yang telah kau lakukan pada putriku hingga membuat putriku hamil saat ini!" Bentak William dengan wajah yang merah padam.
Deg
"Flower hamil?" Ulang Malik pelan.
"Ya. Putriku hamil dan itu semua karena dirimu!" Sentak William.
Melihat William yang sudah dikuasai amarah membuat Gerry segera mengambil sikap karena tidak ingin asisten anaknya babak belur di tangan William.
"Selesaikan masalah ini dengan kepala dingin!" Ucap Gerry tegas sambil memegang tangan kanan William.
__ADS_1
"Kau bilang apa? Menyelesaikannya dengan kepala dingin?!" William tersenyum sinis. "Lepaskan tanganku!" Sentak William.
"Tidak akan. Ayo sekarang ikut aku!" Titah Gerry menarik tangan William menuju ruangan putranya berada. William mencoba memberontak namun Gerry mengeluarkan seluruh tenanganya hingga William tak dapat berkutik.
"Malik..." Rey memberikan tatapan yang sulit diartikan pada Malik.
Malik pun bangkit dari atas lantai sambil memegang sudut bibirnya yang pecah dan berdarah.
"Kau berhutang penjelasan kepada saya!" Ucap Rey datar namun penuh penekanan.
Malik mengangguk saja tanpa bersuara. Tanpa disuruh oleh Rey, Malik pun melangkah mengikuti Rey masuk kembali ke dalam ruangan kerja Rey.
Dan kini Malik dan William tengah duduk saling berhadapan dengan Rey di sebelah Malik dan Gerry di sebelah William. Sejak awal mereka duduk William tak menyurutkan tatapan tajamnya pada Malik seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Saya bisa menjelaskan apa yang terjadi." Ucap Malik membuka percakapan di antara mereka.
"Katakan!" Titah Gerry cepat tak ingin William angkat suara lebih dulu.
"Sebelumnya saya minta maaf atas apa yang telah terjadi di antara saya dan Nona Flower. Semua itu terjadi di luar kuasa saya karena saat itu Nona Flower tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar saya di saat kondisi Nona Flower sedang mabuk akibat pengaruh alkohol." Ucap Malik dengan datar.
__ADS_1
***