One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Bukan pria normal


__ADS_3

"Flower, atas dasar apapun kalian menikah beberapa bulan lalu, tetap saja Malik berhak atas dirimu. Sebagai seorang suami dia berhak mendapatkannya dan kau wajib memenuhi kebutuhan suamimu itu." Nasihat Mom Rania.


Flower terdiam beberapa saat. "Flow rasa Mom sudah terlalu jauh berpikir. Apa Mom tahu jika Malik itu sepertinya tidak memiliki naf-su pada Flower atau wanita lainnya? Terbukti anak ini hadir karena kerja keras Flower bukan dari kerja kerasnya." Jawab Flower sambil mengusap perutnya.


Mom Rania menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan putrinya. "Jadi kau pikir jika suamimu itu pria tidak normal?" Tanya Mom Rania.


Flower pun mengangguk mengiyakannya.


"Astaga Flower..." Mom Rania menggeram sangking gemasnya dengan sikap putrinya yang entah terlalu polos atau bodoh. "Kau pikir saja jika Malik tidak normal dia tidak mungkin bereaksi saat kau menggodanya." Ucap Mom Rania sedikit frontal.


"Dia siapa yang bereaksi maksud Mommy?" Tanya Flower.


Mom Rania yang hendak menjawab pertanyaan Flower mengurungkan niatnya saat melihat Malik kini tengah menyebrangi jalan untuk menuju ke arah mereka.


"Sudahlah, yang penting saat ini kau harus mengingat pesan Mommy agar memenuhi kebutuhan suamimu lahir dan bathin. Ingat, banyak perempuan jahat di luar sana yang mungkin saja sedang mengincar suamimu saat ini." Ucap Mom Rania.

__ADS_1


Flower mencoba mencerna maksud perkataan Mom Rania sambil menatap pada Malik yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Apa kau masih ingin makanan yang lain?" Tanya Malik setelah menyerahkan makanan yang ia beli pada Flower.


"Sepertinya tidak. Aku akan menghabiskan ini dulu." Ucap Flower.


"Baiklah." Jawab Malik lalu menjatuhkan bokongnya di atas kursi.


"Malik, kenapa kau tidak membeli jajanan untuk dirimu sendiri?" Tanya Mom Rania.


Mom Rania mengangguk-angguk saja lalu menatap pada Flower yang sedang mengeluarkan makanan dari dalam plastik.


"Flower, ingatlah jangan terlalu sering memakan makanan seperti ini karena tidak baik untuk kesehatanmu dan cucu Mommy." Pesan Mom Rania.


"Baik, Mom." Jawab Flower lalu memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Lagi pula Mom bingung kenapa kau sekarang menyukai makanan pinggir jalan seperti ini? Biasanya kau tidak mau memakannya." Ucap Mom Rania.


"Itu karena Flower berteman dengan Andini, Suci dan Nia. Mereka mengajarkan Flower untuk menikmati makanan di pinggir jalan dan ternyata rasanya sangat enak." Jawab Flower.


Mom Rania tersenyum mendengarnya lalu mengusap rambut putrinya. "Kau ini masih seperti anak kecil saja jika makan seperti ini." Ucap Mom Rania karena Flower makan terburu-buru. Ingatan Mom Rania pun tertuju pada kejadian di masa lalu di saat Flower masih kecil dan sedang lucu-lucunya. Jika mengingat itu semua membuat Mom Rania merasa tak percaya jika putri kecilnya kini sudah tumbuh dewasa bahkan sedang mengandung cucunya.


Satu jam lebih menghabiskan waktu di taman bersama Mom Rania, akhirnya Mom Rania pun berpamitan untuk kembali pulang karena Dad William sudah mempertanyakan keberadaannya.


"Flower, jika kau ingin kau bisa menginap di rumah kita, Nak." Ucap Mom Rania sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Lain kali saja, Mom. Flow masih ingin tinggal di rumah kami saja." Jawab Flower seraya tersenyum.


Mom Rania hanya bisa tersenyum dan menahan rasa sedihnya dalam hati melihat putrinya yang kini tersenyum namun ia tahu tengah menahan rasa rindu yang mendalam pada Daddynya.


***

__ADS_1


__ADS_2