
Di tengah kekecewaan yang kini Emila rasakan, Flower dan Malik justru terlihat sedang tertawa bersama saat merasakan tendangan dari dalam perut Flower.
"Kau rasakan itu, Malik? Anak kita sangat bersemangat menendang perutku." Ucap Flower sambil tertawa. Bukannya memperlihatkan ekspresi sakit mendapatkan tendangan cukup keras dari dalam perutnya, Flower justru tertawa-tawa.
"Aku merasakannnya." Jawab Malik sambil ikut tertawa. Tawa yang baru beberapa hari belakangan ini dapat Flower lihat setelah berapa bulan mereka menikah.
"Sepertinya dia sangat senang setelah dikunjungi olehmu." Ucap Flower pada Malik.
Tawa di wajah Malik pun menyurut. Jika membahas tentang kunjung-mengunjungi rasanya Malik merasa bersalah karena telah membohongi istrinya tentang kepala bayi mereka yang akan bermasalah jika terlalu sering dikunjungi olehnya.
"Malik? Kenapa?" Tanya Flower melihat perubahan ekspresi di wajah Malik.
"Aku tak apa." Malik mencoba tersenyum agar istrinya tidak curiga.
"Seandainya saja cacingmu tidak terlalu panjang, mungkin akan baik-baik saja jika kau sering mengunjungi anak kita." Ucap Flower dengan wajah memelas.
Malik semakin dibuat bersalah mendengarnya. "Sudahlah, jangan memikirkan hal yang tidak penting." Ucap Malik mencoba mengalihkan pembicaraan di antara mereka.
__ADS_1
"Tidak penting bagaimana? Itu adalah hal yang sangat penting bagiku." Jawab Flower.
Malik memberikan usapan di rambut istrinya. "Iya, iya. Jangan marah-marah seperti itu." Ucap Malik lembut.
Flower melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. "Besok adalah jadwal pemeriksaan Baby yang ke delapan bulan." Ucap Flower mengingatkan Malik.
Malik menganggukkan kepalanya. "Aku akan mengantarkanmu besok pagi." Jawabnya.
"Semoga saja hasil pemeriksaannya bagus, ya. Baby sehat-sehat di dalam perutku dan bisa dilahirkan secara normal nantinya." Harap Flower.
"Semoga saja." Balas Malik seadanya.
"Bagaimana kalau kita makan siang di luar saja? Rasanya sudah cukup lama kita tidak makan di luar lagi." Ajak Malik.
"Mau, mau." Jawab Flower begitu bersemangat. Tentu saja Flower tidak mau melewatkan kesempatan makan di luar bersama suaminya.
"Baiklah, kalau begitu bersiap-siaplah." Ucap Malik.
__ADS_1
Flower mengiyakannya lalu turun dari atas ranjang. Malik pun mengikutinya. Setelahnya Malik keluar dari dalam kamar berniat menemui pelayannya untuk menanyakan makanan apa yang diinginkan pelayannya saat ini karena ia berniat membelikannya.
Lima belas menit berlalu, Malik dan Flower sudah selesai bersiap-siap dan saat ini sudah berada di dalam mobil menuju restoran milik Malik berada. Ya, Flower meminta mereka untuk makan di restoran milik suaminya saja karena ia sangat menyukai makanan di sana.
Tentu saja Malik langsung menuruti permintaan istrinya itu. Apapun yang Flower inginkan jika ia bisa melakukannya pasti Malik akan memberikannya.
Mobil milik Malik terus melaju membelah jalanan yang cukup ramai siang itu hingga akhirnya berhenti sejenak di perempatan lampu merah.
"Malik, ayo rasakan, bayi kita kembali menendang." Pinta Flower lalu membawa tangan Malik ke atas perutnya.
Malik melakukannya lalu tersenyum merasakan tendangan dari dalam perut Flower.
"Bukankah itu Flower dan Malik?" Ucap Emila yang kebetulan posisi mobilnya berada di sebelah mobil Malik. Emila terus memperhatikan gerak-gerik keduanya yang terlihat cukup jelas dari kaca mobil Malik yang tembus pandang.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗