One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Yang terbaik untuk Mama


__ADS_3

Malik pun dapat menghela nafas lega setelah mendengarkan jika wanita yang pernah jadi kekasihnya itu saat ini pergi meninggalkan mall dan sedang berada di dalam perjalanan menuju sebuah tempat.


"Syukurlah jika dia sudah berubah." Ucap Malik sambil mengusap kepala Baby yang kini duduk di pangkuannya.


Emila yang menyadari jika setelah keluar dari penjara pergerakannya selalu diawasi oleh orang suruhan Dad William dan Malik pun hanya fokus mengendarai motornya menuju supermarket.


"Sampai kapan mereka akan mengawasi kita seperti ini. Rasanya Mama tidak nyaman terus diikuti." Ucap Bu Asma pada Emila yang sedang fokus mengemudi.


"Mila juga tidak tahu, Ma. Untuk saat ini biarkan saja mereka mengawasi kita. Lagi pula mereka tidak pernah berbuat macam-macam pada kita." Ucap Emila.


Bu Asma mengangguk saja dan tak lagi berbicara karena kini motor Emila sudah memasuki parkiran supermarket.


"Ayo kita masuk, Ma." Ajak Emila.


Bu Asma mengiyakannya lalu mereka melangkah masuk ke dalam supermarket. Setelah berada di dalam supermarket, Emila langsung mengambil keranjang untuk membawa barang-barang yang akan mereka beli.

__ADS_1


"Mila, belanjanya sedikit saja, ya. Mama tidak mau tabunganmu semakin menipis karena harus memenuhi kebutuhan keluarga kita. Tadi juga kau sudah membelikan baju untuk Mama." Ucap Bu Asma dengan wajah sendu. Semenjak pindah ke kota Pekanbaru kehidupan mereka tak lagi sama seperti dulu.


Mobil milik Emila sudah terjual pun dengan rumah satu-satunya milik mereka. Setelah menjual semua aset milik mereka yang ada di ibu kota, Bu Asma dan Emila memutuskan membeli rumah yang lebih kecil di kota Pekanbaru agar tidak harus mengontrak dan mewajibkan mereka mengeluarkan uang setiap bulannya.


"Tidak masalah, Ma. Kemarin Mila baru gajian dan gajinya masih cukup banyak. Kita bisa berbelanja sepuasnya." Jawab Emila seraya mengusap lengan Bu Asma.


Bu Asma tersenyum mendengarnya. Ia menggenggam sebelah tangan Emila dan meletakkannya di dadaya. "Mila, terima kasih karena kau sudah mau berubah menjadi Mila yang lebih baik dan manis lagi seperti saat kau masih kecil. Terima kasih karena sudah mau tetap hidup bersama Mama." Ucap Bu Asma.


Milla menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan perkataan ibunya yang mengucapkan terima kasih kepadanya. "Membahagiakan Mama adalah sebuah kewajiban Mila sebagai seorang anak. Jadi Mama tidak perlu berterima kasih untuk itu. Sebisa mungkin Mila akan memberikan yang terbaik untuk Mama walau tidak sebesar dulu." Ucap Emila.


"Mama, kenapa melamun." Emila menegur Bu Asma yang nampak termenung.


"Tidak apa-apa. Apa kau sudah siap mengambil buah-buahannya?" Tanya Bu Asma.


Emila mengangkat keranjang belanjaannya untuk memperlihatkan buah-buahan yang sudah ia ambil.

__ADS_1


"Baiklah, Mama rasa sudah cukup. Sekarang ayo kita bayar." Ajak Bu Asma.


Emila mengangguk seraya memperlihatkan senyuman manisnya. Mereka pun melangkah ke arah kasir dengan senyuman di wajah masing-masing.


"Setelah ini kita ke taman kota ya, Ma." Ucap Emila sambil menunggu kasir menghitung harga barang belanjaan mereka.


Bu Asma mengangguk mengiyakannya. Hari ini Emila memilih menghabiskan waktu bersama mamanya berjalan-jalan dan berbelanja sebelum akhirnya esok hari ia kembali masuk bekerja di toko tempat ia mencari nafkah.


***


Sebelum lanjut, Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗

__ADS_1


__ADS_2