
"Flow tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, Mommy." Jawab Flower.
"Tidak memiliki hubungan? Lalu kenapa kau bisa hamil jika kau dan Malik tidak memiliki hubungan apa-apa?" Mom Rania dibuat bingung mendengarkan jawaban putrinya.
Flower tak menjawab pertanyaan Mom Rania justru semakin menangis dengan keras.
"Flower ayo jawab Mommy! Jangan membuat Mommy semakin marah padamu!" Titah Rania.
Flower menggeleng tak ingin menjawab. Sungguh jika mengingat kejadiam malam itu sungguh membuatnya malu sekaligus menyesal.
"Flow..." Suara Mom Rania terdengar mulai pelan namun penuh penekanan.
Melihat sahabatnya mulai kehilangan kesabarannya menghadapi Flower akhirnya Kyara pun mendekat pada Flower dan meminta Flower menjelaskan apa yang terjadi agar semua orang dapat paham dan mengerti.
Flower pun akhirnya menjelaskan awal mula kejadian satu malamnya dengan Malik terjadi dengan rinci tanpa menyebutkan nama Zaki di dalamnya. Bukan tanpa alasan Flow tidak ingin mengatakannya, hanya ia selalu meresa muak dan mual jika mengingat nama dan wajah pria itu.
__ADS_1
Tentu saja apa yang Flower katakan begitu mengejutkan Mom Rania dan Kyara. Mereka sampai tak dapat berkata-kata saat mengetahui jika Flower-lah yang masuk ke dalam kamar Malik dan menggoda Malik. Dan yang membuat mereka tak habis pikir Flower berkata jika dirinya-lah yang memperkosa Malik. Sungguh menggelikan didengar telinga.
"Sekarang ayo katakan siapa nama temanmu yang mengajakmu mabuk-mabukkan, Flow?" Mom Rania kini merasa berang pada sosok yang sudah menjadi penyebab utama putrinya kehilangan keperawanannya.
Flow menggeleng. "Flow tak ingin menyebut namanya, Mommy." Ucap Flower lalu menutup mulutnya karena merasa mual.
"Rania... sudahlah jangan memaksanya. Kondisi Flo belum cukup pulih. Saat ini biarkan dia beristirahat lebih dulu." Ucap Kyara.
Rania menghela nafas berat. Kyara benar jika putrinya saat ini belum pulih dan harus banyak istirahat karena kini ia sedang mengandung.
Kyara mengangguk lalu mengusap lengan Flower sambil memberi isyarat dengan mata jika semuanya akan baik-baik saja.
Flower menangis sejadi-jadinya setelah kepergian Mom Rania dan Kyara, ia tak dapat membayanhkan bagaimana kehidupannya selanjutnya karena kini ia mengandung seorang anak dari hasil di luar nikah.
"Pria itu... aku sangat membencinya!" Rutuk Flower pada pria yang tak lain adalah Zaki.
__ADS_1
*
Setengah jam kuranh lebih berlalu, kini William telah berada di perusahaan Bagaskara. Para karyawan yang melihat William dan Gerry melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam perusahaan dengan wajah tak bersahabat tentu saja membuat mereka merasa heran. Banyak dari mereka yang berbisik-bisik ada apa dengan kedua pria itu dan tujuan mereka datang ke perusahaan.
Sedangkan William tak memperdulikan tatapan para karyawan justru terus melanhkah ke arah lift. Karena tak ingin memakan waktu lama menuju lantai teratas perusahaan, William pun memilih masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan dan diikuti Gerry setelahnya.
"Will, tenangkan dirimu." Gerry memberikan peringatan pada sahabatnya yang sudah diliputi amarah.
William tak menggubris perkataan Gerry karena kini ia sudah tidak sabar sampai di lantai atas dan memberikan pelajaran pada pria yang sudah merusak putri sematawayangnya.
Ting
Setelah pintu lift terbuka di lantai teratas, William segera berjalan dengan sedikit berlari ke arah ruangan yang ia yakini adalah ruangan kerja Malik.
***
__ADS_1