
Satu bulan sudah Emila merasakan dinginnya lantai penjara yang saat ini menjadi tempatnya tinggal. Selama satu bulan belakangan itu pula Emila nampak murung meratapi nasibnya yang sangat buruk akibat perbuatannya sendiri. Bu Asma yang mengingat keterpurukan putrinya itu pun hanya bisa menangis seorang diri di dalam rumahnya. Tempatnya untuk berbagi kesedihan pun sudah tidak ada karena hanya Emila yang ia punya.
Hari itu, untuk yang kesekian kalinya Bu Asma datang menjenguk Emila di penjara. Tentu saja kedatangan Bu Asma disambut Emila dengan tangisan di wajahnya. Bu Asma pun ikut menangis melihat keadaan putrinya saat ini.
"Emila..." Bu Asma memeluk Emila erat.
Emila pun semakin menangis di dalam pelukan ibunya. "Mila sangat merindukan Mama." Ucap Emila lirih.
Bu Asma menganggukkan kepalanya. "Mama juga sangat merindukanmu, Nak." Jawab Bu Asma.
Setelah cukup puas berpelukan, Bu Asma dan Emila pun duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa sudah lebih baik?" Tanya Bu Asma.
Emila menggelengkan kepalanya. "Mila tidak akan baik-baik saja jika masih berada di sini." Jawabnya pelan.
Bu Asma menghembuskan nafas berat di udara.
__ADS_1
"Apa Mama sudah berhasil membujuk keluarga Flower untuk mengeluarkan Mila dari sini?" Tanya Emila.
Bu Asma menggeleng lemah. "Sangat sulit untuk merobohkan dinding pertahanan Tuan William. Tuan William benar-benar murka kepadamu karena telah mencelakai putri sematawayangnya."
Emila tertunduk lemas. "Harusnya Emila tidak melakukan ini semua, Mama." Ucapnya.
Bu Asma mengangguk. "Tapi semuanya sudah terjadi. Saat ini kau hanya bisa meminta maaf kepada Nona Flower dan meminta dengan sangat agar dia mau memaafkanmu." Ucap Bu Asma.
"Tapi bagaimana caranya, Ma? Flower tidak akan pernah diperbolehkan untuk berkunjung ke sini dan Mila tidak akan pernah bisa meminta maaf padanya." Jawab Emila.
"Mila, apa saat ini kau benar-benar sudah menyesal dengan perbuatanmu pada Nona Flower?" Tanya Bu Asma memastikan.
Bu Asma menatap wajah putrinya dengan intens. Melihat apakah putrinya tulus menyesali perbuatannya atau hanya berpura-pura. Bu Asma pun dapat melihat dengan jelas jika saat ini Emila benar-benar menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf pada Flower yang sudah ia lukai tubuh dan hatinya.
Di saat yang bersamaan, Flowee akhirnya mendapatkan persetujuan dari Malik untuk pergi mengunjungi Emila ke penjara. Tentu saja kedatangan Flower saat itu ditemani oleh Mom Rania dan beberapa orang pengawal yang dipercayakan Malik untuk menjaga istrinya jika tiba-tiba saja terjadi hal yang tidak mereka inginkan.
"Emila." Suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya memanggil namanya membuat Emila menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Flower?" Emila nampak begitu terkejut melihat kedatangan Flower.
Bu Asma pun sontak menoleh ke arah Flower dan Mom Rania berada.
"Nona Flower." Ucap Bu Asma.
Flower berjalan mendekati mereka dengan didampingi Mom Rania.
Emila pun sontak bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Flower lalu bersujud di kakinya.
"Flower maafkan aku... maafkan aku." Ucap Emila dengan menangis keras.
"Apa yang kau lakukan Emila?" Flower pun berusaha membangkitkan Emila.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗