One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Tidak melihat sisi kebaikannya


__ADS_3

"Flower, apa kau tidak suka karena tetangga di sini menceritakan suamimu dan mengidolakannya?" Tanya Suci.


"Tidak seperti itu." Dusta Flower.


"Tapi wajahmu terlihat kesal saat ini." Ucap Suci.


"Agh, tidak. Itu hanya perasaanmu saja." Sangkal Flower.


"Benarkah begitu?" Tanya Suci lagi merasa tak percaya.


"Benar. Lagi pula untuk apa aku cemburu pada mereka? Toh saat ini Malik sudah menjadi suamiku." Ucap Flower tak sesuai dengan isi hatinya saat ini.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu." Jawab Suci merasa lega. Karena tak ingin membuat mood ibu hamil itu menjadi berantakan, Suci pun mengalihkan pembicaraan mereka dengan membahas Nia yang sebentar lagi ingin membuat acara perayaan ulang tahun anaknya yang pertama.


Cukup lama Flower mengabiskan waktu di rumah Suci pagi itu dengan saling bercerita dan berbagi pengalaman bersama. Walau sudah cukup banyak bercerita dengan Suci dan Nia selama ia tinggal di rumahnya yang sekarang, namun sampai saat ini Flower belum memberitahukan identitas aslinya pada Suci dan Nia karena tak ingin membuat mereka yang sederhana menjadi sungkan berteman dengannya.


Akhirnya siang itu Flower pun pulang ke kediamannya dengan hati yang senang karena telah berhasil menghilangkan rasa bosannya di rumah dengan bercerita bersama Suci.


"Lain kali aku akan bermain lagi ke rumah Suci. Dia sangat asik diajak berbicara sama seperti Andini." Ucap Flower sambil melangkah menuju rumahnya.


"Hai Nona Flower." Tiba-tiba saja seorang wanita yang tadi menceritakan suaminya menyapa Flower saat Flower berjalan melewati rumahnya.


Setibanya di dalam rumah, Flower langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghidupkan AC kamarnya. "Agh, ini baru nikmat." Ucap Flower sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat. Flower pun meraih ponselnya yang berada tidak jauh darinya lalu membuka sosial medianya.

__ADS_1


Saat sedang asik melihat story dari beberapa teman-temannya, Flower tiba-tiba saja teringat dengan perkataan Suci tadi. "Suci bilang jika sejak lajang Malik sudah membeli rumah ini dan beberapa kali tinggal di sini. Tapi seingatku Kak Rey pernah bilang jika Malik itu tinggal di apartemen bukan di perumahan seperti ini. Jika dia sudah memiliki apartemen lalu untuk apa dia juga membeli rumah ini?" Ucap Flower merasa bingung.


"Baiklah, aku akan menanyakannya nanti pada Malik." Ucap Flower tak ingin banyak pikir.


Karena merasa perutnya sudah mulai lapar dan berbunyi, akhirnya Flower pun kembali keluar dari dalam kamar menuju dapur untuk mengambil makanan yang ada di sana.


"Kenapa mereka bisa begitu mengagumi sosok pria datar itu? Seharusnya mereka tidak menyukainya karena dia selalu memasang wajah datar dan menyebalkan setiap menatap orang." Ucap Flower sambil menguyah makanan di dalam mulutnya.


Jika diingat-ingat kembali tidak ada satu kebaikan dari Malik yang dapat diingat oleh Flower selain sikap menyebalkan pria itu kepadanya. Setiap hari selama bekerja di perusahaan Bagaskara Flower selalu dibuat naik darah setiap melihat wajah Malik dan sikapnya yang menyebalkan.


"Apa dia mencoba mencari perhatian warga di sini karena di luar sana tidak ada orang yang menyukainya?" Ucap Flower menebak-nebak.

__ADS_1


***


Jangan lupa follow ig Shy @shy1210_ ❤️


__ADS_2