
Buk
Satu pukulan cukup keras melayang di sebelah pipi Malik sebelum Malik sempat menyebutkan nama mertuanya.
"William!" Pekik Rania merasa terkejut dengan tindakan William tersebut.
"Tidak berguna!" Umpat William keras di depan wajah Malik. "Bagaimana bisa kau begitu ceroboh hingga membuat putriku celaka seperti ini?!" Hardik William keras.
"William cukup!" Rania menahan tangan William yang hendak kembali melayang memukul menantunya.
Malik hanya diam sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan pecah akibat terkena pukulan William.
"Jangan menahanku!" William turut menghardik Rania tapi Rania tetap menahan tangan William agar tak kembali memukul menantunya.
"Maafkan saya, Dad." Ucap Malik. Tidak ada kata lain yang bisa ia ucapkan selain kata maaf. Membela diri pun Malik tak bisa karena ia sadar jika apa yang terjadi karena kesalahannya.
"Bukankah sudah saya peringatkan sebelumnya agar kau memastikan mantan kekasihmu itu bisa bersikap baik dan tidak lagi mengganggu putri saya?!" Tanya William.
Malik terdiam karena ia sadar telah gagal melakukannya.
"Saya pikir bersama denganmu putri saya akan baik-baik saja ternyata sebaliknya. Kau membuat putri saya celaka karena kecerobohanmu!" William masih saja keras menghardik menantunya.
__ADS_1
"William cukup! Jaga emosimu. Ingat sekarang kita sedang berada di rumah sakit!" Rania pun turut berkata keras agar menyadarkan suaminya. Walau ia merasa cemas dengan kondisi Flower saat ini, tapi Rania tidak ingin bersikap gegabah dengan menyalahkan Malik.
"Maaf, dengan keluarga Nona Flower." Ucap seorang dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya?"
"Bagaimana keadaan putri saya?"
Tanya Malik, Mom Rania dan Dad William secara bersamaan.
Dokter menatap ketiga orang yang sedang cemas itu secara bergantian.
"Nona Flower dan kandungannya tidak apa-apa. Hanya saja saat ini Nona Flower masih merasa trauma atas apa yang dialaminya baru saja." Jawab Dokter.
"Bolehkan saya melihat istri saya?" Pinta Malik. Ia sudah tidak sabar menemui istrinya itu.
"Tidak boleh!" Jawab Dad William tegas.
"William!" Rania pun turut berucap tegas. "Jangan bersikap egois. Biarkan Malik melihat keadaan Flower!" Tekan Mom Rania kemudian.
Dad William menahan emosinya. Ingin sekali ia menjawab perkataan istrinya itu. Namun ia memilih mengalah saat Dokter berucap agar Malik dipersilahkan untuk masuk karena sejak tadi Flower terus menanyakan keberadaan suaminya.
__ADS_1
Akhirnya Malik pun masuk ke dalam ruangan meninggalkan Dad William dan Mom Rania.
"Malik... hiks." Flower semakin menangis dengan keras saat melihat sosok suaminya.
Malik pun berjalan cepat ke arah Flower lalu memeluk tubuh Flower. "Maafkan aku tidak bisa menjagamu dan Baby dengan baik." Ucap Malik pelan.
Flower menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bersalah. Ini semua terjadi bukan karena kesalahanmu." Jawab Flower sambil menangis.
Malik menghela nafasnya yang terasa berat mendengar suara tangisan istrinya yang menyayat hati.
"Baby, maafkan Daddy karena tidak bisa menjagamu dan Mommy dengan baik." Ucap Malik sambil mengusap perut Flower.
Flower tak lagi menjawab perkataan Malik dan memilih menumpahkan air matanya di dalam dekapan Malik.
"Aku takut. Aku takut dia mencelakaiku dan Baby." Ucap Flower terbata. Bayangan Emila yang mendorongnya tadi masih teringat jelas di benaknya saat ini.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗