One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Kasihan sekali putraku


__ADS_3

"Saya bisa membuatkan teh untuk Ibu." Jawab Flower mencoba untuk tetap tenang.


"Baiklah, kalau begitu saya berubah pikiran. Bagaimana kalau sekarang kau membuatkan minuman untuk Ibu." Pinta Bu Venna.


Flower mengangguk mengiyakannya lalu berpamitan untuk pergi ke dapur sebentar.


"Tenanglah, Flow. Kau harus bersikap tenang dan santai menghadapi mertuamu. Anggap saja dia sedang menguji kesabaranmu saat ini." Ucap Flower setelah berada di dapur.


Flower pun mengambil gelas dari dalam lemari setelah memanaskan air. Setelah air sudah panas dan bisa digunakan Flower pun segera menuangkan air ke dalam gelas yang sudah terisi gula dan teh.


"Semoga rasanya enak." Ucap Flower setelah meletakkan gelas berisi air teh ke dalam nampan. Flower pun meletakkan setoples cemilan ke dalam nampan lalu membawanya ke ruang tamu rumahnya.


"Silahkan diminum, Bu." Ucap Flower setelah meletakkan gelas di depan Bu Venna.


"Terima kasih." Jawab Bu Venna


"Sama-sama." Jawab Flower tersenyum lalu kembali duduk di atas sofa.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Bu Venna pun mencoba minuman yang dibuatkan menantunya itu untuknya.


"Puih..."


Flower dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Bu Venna menyemburkan air teh dari mulutnya.


"Ada apa ini, Bu?" Tanya Flower dengan wajah panik.


"Apa kau tahu jika rasa tehmu ini sangat manis? Kau ingin membuat Ibu terkena diabetes, ya?" Tanya Bu Venna dengan wajah kesal.


"Cobalah sendiri!" Titah Bu Venna.


Flower pun dengan ragu mencobanya. Dan benar saja rasa tehnya terasa sangat manis tidak seperti teh yang biasanya Malik buatkan untuknya.


"Kau menaruh berapa sendok gula ke dalam teh ini sehingga rasanya sangat manis seperti ini?" Tanya Bu Venna.


Flower terdiam dengan kepala tertunduk. Ingin sekali ia menjawab perkataan Bu Venna namun ia memilih tidak menjawabnya karena tidak ingin terbawa emosinya saat ini.

__ADS_1


Bu Venna menghela nafasnya melihat Flower yang hanya diam saja. "Makanya kalau pagi-pagi itu kau itu harusnya berada di rumah untuk belajar memasak dan membuat minum bukannya keluyuran seperti tadi." Ucap Bu Venna lembut namun penuh sindiran.


Flower masih diam dengan wajah terpaksa tersenyum. Ia tidak ingin mengeluarkan jurus sihirnya pada ibu mertuanya saat ini. Rasanya malas sekali Flower menjelaskan jika tadi ia pergi ke rumah Suci untuk belajar membuat kue kering bersama Suci dan Nia.


"Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau merasa sopan bersikap seperti itu?" Tanya Bu Venna.


Dan kenapa sejak tadi ibu terus berbicara menyindir saja? Apa Ibu tidak tahu aku merasa tersinggung mendengarnya. Jawab Flower namun hanya dalam hati.


"Maaf, Bu. Saya tidak tahu harus menjawab apa." Jawab Flower pada akhirnya.


Bu Venna kembali menghela nafas. "Apa kau tahu jika putra saya itu adalah pria yang sangat mandiri? Dari kecil putra saya sudah biasa menyiapkan apa pun untuk dirinya sendiri. Dari mulai membuat minuman, makanan bahkan dia mencuci bajunya sendiri. Dia sangat mandiri bukan?" Tanya Bu Venna.


Flower pun mengangguk mengiyakannya.


"Dan sekarang sangat disayangkan dia memiliki pasangan yang tidak sebanding dengannya. Jangankan untuk memasak, membuat minum untuk mertuamu saja kau tidak bisa. Rumah tangga seperti apa yang dijalani Malik selama ini? Kasihan sekali putraku harus tetap mandiri walau dia sudah menikah. Anak orang kaya seperti dirimu mana bisa melayani putraku layaknya suami pada umumnya." Ucap Bu Venna.


***

__ADS_1


__ADS_2