
"Baiklah. Aku berikan waktu satu minggu untukmu membawaku bertemu dengan ibumu." Ucap Flower tak ingin bersikap egois.
Malik mengangguk saja lalu berpamitan keluar dari dalam kamar.
Flower pun menghela nafas berat setelah kepergian Malik. Jujur saja saat ini dadanya terasa sesak saat mengetahui ternyata suaminya telah memiliki wanita lain sebelum menikah dengannya. Walau Malik berkata jika wanita itu adalah pilihan ibunya namun Flower dapat merasakan jika Malik juga menaruh rasa pada wanita itu terlihat dari cara Malik tak ingin menceritakan jati diri wanita itu pada dirinya.
"Agh..." beberapa saat kemudian Flower meringis merasakan sakit pada perutnya. Flower pun mengusap perutnya sambil menahan rasa sakitnya. "Maafkan Mommy, Baby. Maaf telah membuatmu ikut merasakan apa yang Mommy rasakan." Ucap Flower pada janinnya.
Karena tak ingin semakin larut dalam pemikiran buruknya, Flower pun memutuskan untuk beristirahat dengan mencoba memejamkan kedua kelopak matanya. Ia tidak ingin karena pikiran buruknya membuat janinnya terkena bahaya.
"Mommy sangat menyayangimu, Baby." Gumam Flower dengan mata terpejam.
*
Pukul setengah dua belas malam, Malik terlihat telah selesai mengerjakan pekerjaannya dan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya di atas ranjang istrinya telah terlelap sambil mendekap erat selimut di tubuhnya.
__ADS_1
Malik menatapnya dalam diam. Perasaan bersalah masih menghantuinya karena telah menyampaikan sesuatu yang bisa saja menyakiti istrinya itu. Walau pun begitu, Malik juga tidak bisa menyembunyikan hal itu lebih lama karena lambat laun Flower pasti akan mengetahuinya. Entah itu dari dirinya atau dari orang sekitarnya. Lagi pula Malik tidak melupakan siapa jati diri Flower yang bisa saja dalam waktu hitungan menit mendapatkan informasi tentang dirinya.
"Maaf." Satu kata pun lolos dari mulut Malik saat sudah berada dekat dengan istrinya. Entah apa yang Malik rasakan pada istrinya. Yang jelas perasaan bersalah sangat mendominasi di dalam hatinya saat ini.
*
Keesokan harinya, Flower terlihat telah rapi dengan pakaian bepergiannya. Hari ini ia berniat pergi bersama Andini untuk berjalan-jalan berharap dapat menghilangkan banyaknya pemikiran buruk yang kini bersarang di benaknya.
"Kau sudah ingin pergi?" Tanya Malik saat Flower keluar dari dalam kamarnya.
"Ya. Sebentar lagi Andini akan datang menjemputku." Jawab Flower.
"Helm baruku." Jawab Flower.
"Kau ingin pergi naik motor bersama Andini?" Tanya Malik dan diangguki sebagai jawaban oleh Flower.
__ADS_1
Malik membulatkan kedua bola matanya. "Kenapa tidak naik mobil saja?" Malik merasa cemas melepas istrinya yang ingin menaiki motor bersama Andini.
"Karena aku tidak menginginkannya. Sudahlah, mau naik apa saja yang penting aku bisa berjalan-jalan bersama Andini." Jawab Flower.
Malik hanya bisa menghela nafas panjang mendengarkan jawaban istrinya. Sesaat kemudian Andini pun telah datang dengan menggunakan motor maticnya.
"Aku pergi dulu." Pamit Flower setelah Andini berpamitan pada Malik untuk membawa Flower berjalan-jalan.
Malik mengangguk saja dan meminta Andini untuk berhati-hati membawa istrinya.
"Sepertinya Tuan Malik sangat berat melepasmu naik motor, Flow." Ucap Andini setelah motornya melaju meninggalkan perkarangan rumah Flower.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Kapan lagi aku bisa menikmati hidup seperti ini." Ucap Flower merasa senang karena diajak naik motor oleh Andini.
Andini tersenyum saja sambil melajukan motornya menuju sebuah cafe yang menjadi tempat tujuan pertama mereka.
__ADS_1
***
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗