
Dua puluh menit berlalu, akhirnya mobil milik Mom Rania dan Dad William tiba di perkarangan rumah sakit. Mom Rania segera turun dari dalam mobil dan berteriak memanggil para perawat dan dokter untuk segera membantu putrinya. Jika biasanya seorang pria yang diandalkan untuk memanggil petugas rumah sakit kini justru sebaliknya karena Mom Rania sadar suaminya tidak bisa diandalkan.
Melihat siapa yang datang dan berteriak di depan rumah sakit membuat para perawat segera mengambil brankar dan mendorongnya keluar dari rumah sakit.
Dad William pun dengan susah payah mengeluarkan Flower dari dalam mobil karena putrinya itu terus menarik rambutnya karena kesakitan.
"Daddy jangan tinggalkan Flow!" Ucap Flower keras saat sudah berada di atas brankar dan melihat Daddynya hendak pergi meninggalkannya.
"William!" Mom Rania pun ikut berkata keras karena suaminya hendak menjauh dari putri mereka.
Dad William yang masih merasa kesakitan pada kepala dan lengannya pun terpaksa kembali menjadi pelampiasan Flower menyalurkan rasa sakitnya. Apa yang dirasakannya saat ini sama persis seperti apa yang dirasakannya saat Rania mau melahirkan Flower dulu.
"Aaa... harusnya Malik yang ada di sini." Ucap Dad William sambil berteriak.
Para perawat yang mendengar teriakan Dad William mencoba fokus untuk terus mendorong brankar sambil menahan tawa melihat seorang William Arnold yang tengah kesakitan.
Sedangkan Mom Rania yang mendengarkan kata Malik segera melakukan panggilan telefon pada menantunya dan mengabari keadaan Flower saat ini. Setelahnya ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dasternya dan berlari mengejar brankar anaknya.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, setelah mendapatkan telefon dari mertuanya yang mengabarkan jika Flower akan melahirkan membuat Malik yang baru terjaga dari tidurnya dibuat cemas. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci mobilnya dan segera keluar dari dalam kamar penginapannya.
Setelah berada di luar kamar penginapannya, Malik pun segera menuju kamar Rey yang berada di sebelah kamarnya.
Tok
Tok
Tok
"Malik, ada apa ini?" Tanya Rey sambil melihat wajah cemas Malik saat ini.
"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya saya tidak bisa ikut menemani Tuan pagi ini. Saya harus kembali ke ibu kota krena istri saya mau melahirkan." Ucap Malik cepat.
"Apa? Flow mau melahirkan?" Ulang Rey terkejut.
Malik menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Rey.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu sekarang pergilah dan jangan pikirkan masalah pekerjaan!" Titah Rey.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Malik lalu tanpa banyak basa-basi pergi dari hadapan Rey.
"Oh astaga... bagaimana ini, Flow akan melahirkan di saat Malik berada di sini. Semoga saja Baby mereka mau menunggu sampai Malik kembali." Ucap Rey merasa sedikit bersalah karena mengizinkan Malik untuk tetap pergi dengannya.
Rey pun menatap Malik yang kini sedang berlari ke arah pintu lift berada. "Apa dia akan berangkat masih menggunakan piyama?" Ucap Rey karena saat ini Malik masih menggunakan pakaian tidurnya.
Rey pun menghembuskan nafas bebas di udara karena ia tahu rasa cemas sekaligus panik yang kini Malik rasakan membuat asistennya itu tidak bisa memikirkan hal lain termasuk pakaian yang sedang ia kenakan saat ini. Dan akhirnya untuk pertama kalinya Rey melihat Malik berpakaian piyama melakukan perjalanan ke luar kota.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1