
Pandangan Bu Venna pun sontak beralih pada perut Flower yang terlihat membuncit. Ada rasa haru yang kini ia rasakan di dalam hati kecilnya saat melihat perut Flower yang kini tengah bersemayam calon cucunya di sana.
Bu Venna berusaha tidak memperlihatkan rasa haru yang kini tengah ia rasakan dan lebih memilih berdehem untuk menetralkan suasana hatinya.
"Apa kandunganmu sehat?" Tanya Bu Venna.
Flower pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Syukurlah kalau begitu." Jawab Bu Venna sekedarnya.
Flower pun kembali mengangguk mengiyakan perkataan mertuanya itu.
Tidak banyak hal yang Flower lakukan selama berada di kediaman Bu Venna. Wanita itu lebih baik diam dan mendengarkan percakapan Malik bersama Bu Venna. Dari yang Flower tangkap selama ia berada di kediaman Bu Vena, mertuanya itu terlihat tengah memendam rasa tidak suka kepadanya. Terlihat jelas dari sikap mertuanya yang tidak terlalu banyak mengajaknya untuk berbicara atau sekedar mengelus perutnya seperti yang biasa Mom Rania lakukan saat bertemu dengannya.
Setelah cukup berbincang dengan Malik, Bu Venna pun mengajak Flower dan Malik untuk makan bersama. Tentu saja ajakan Bu Venna langsung diiyakan oleh Malik dan juga Flower karena mereka tidak akan mungkin menolaknya.
__ADS_1
"Ayam bakar madu dan sup iga ini adalah makanan kesukaan Malik sejak kecil." Ucap Bu Venna saat mereka telah duduk di meja makan.
"Benarkah begitu, Bu?" Tanya Flower tersenyum.
Bu Venna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa kau sudah pernah membuatkan ayam bakar madu seperti ini untuk suamimu?" Tanya Bu Venna dengan tatapan menyelidik.
Flower pun menggeleng lemah. Jangankan membuat ayam bakar madu, memasak nasi saja Flower tidak pandai jika Malik tidak mengajarkannya.
"Baiklah." Jawab Bu Venna dengan rasa berat hati. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin ia tanyakan pada menantunya itu. Tapi melihat tatapan Malik saat ini membuatnya urung untuk melakukannya.
*
Setelah hampir dua jam berada di rumah Bu Venna, akhirnya Malik pun membawa Flower kembali ke kediamannya. Malik memilih membawa Flower lebih cepat pulang ke rumahnya karena ia dapat merasakan aura yang tidak baik keluar dari dalam tubuh ibunya untuk istrinya itu.
__ADS_1
"Maaf jika perkataan ibuku ada yang menyakiti dirimu." Ucap Malik setelah mobil miliknya melaju di jalan raya.
"Tidak masalah." Jawab Flower mencoba tersenyum walau hatinya saat ini merasa tidak tenang setelah pertemuannya dengan mertuanya.
"Sebenarnya Ibu adalah orang yang baik. Mungkin memerlukan cukup waktu agar kau dan ibuku menjadi dekat." Ucap Malik kemudian.
"Ya, aku rasa begitu." Jawab Flower sekenanya. Flower pun menatap ke arah luar jendela sambil memikirkan sikap mertuanya kepadanya tadi.
Kenapa tadi Bu Venna tidak mempertanyakan tentang pertemuan pertama kami di toko saat itu? Apa saat ini Bu Venna sudah melupakan pertemuan kami waktu itu? Aku rasa saat itu dia benar-benar melihatku. Dan... siapa wanita yang bersamanya waktu itu? Bukankah Malik berkata jika dia hanya anak satu-satunya. Berarti jelas wanita menyebalkan itu bukanlah anak kandungnya. Ucap Flower dalam hati.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?" Tanya Malik pada Flower yang terlihat sedang termenung.
"Tidak ada. Aku tidak memikirkan apa-apa saat ini." Jawab Flower berbohong.
***
__ADS_1