
"Baiklah, kalau begitu bersiap-siaplah. Kita akan pergi satu jam lagi." Jawab Malik.
"Baiklah." Ucap Flower lalu pandangannya beralih pada Baby. "Baby, ayo kita bersiap-siap. Daddy akan membawa kota bermain." Ajak Flower.
"Ayo!" Jawab Baby sedikit tidak jelas.
Flower semakin dibuat gemas melihat reaksi putrinya. Malik yang melihatnya pun ikut gemas hingga mengusap kepala putrinya.
Malam itu Malik benar-benar menuruti apa yang Flower inginkan. Dari mulai berwisata kuliner hingga akhirnya berjalan-jalan di sekitar kota B. Baby yang sudah merasa lelah setelah seharian banyak bermain pun tertidur di dalam pangkuan Flower.
"Malik, aku harap setelah Boy lahir nanti kita tidak mengurangi kasih sayang pada Baby, ya. Aku takut sekali jika Baby merasa cemburu pada adiknya karena merasa kita tidak menyayanginya lagi." Ucap Flower.
"Pasti. Aku juga tidak ingin membuat putri kita merasa cemburu pada adiknya nanti." Jawabnya.
"Terima kasih karena kau sudah mau menjadi suami dan ayah yang baik untuk kami. Aku sangat menyayangimu." Ucap Flower.
__ADS_1
Malik meraih sebelah tangan Flower dan mengecupnya dengan sayang. "Aku jauh lebih menyangi kalian." Jawabnya di akhiri senyuman manis terkembang di wajah tampannya.
*
Keesokan harinya, Malik dan Flower sudah pulang dari kota B dan sudah berada di kediaman mereka. Saat baru saja masuk ke dalam rumah mereka sudah disambut dengan wajah tak bersahabat dari Dad William.
"Ada apa dengan Daddy, Mommy?" Tanya Flower merasa bingung.
"Biarkan saja Daddymu itu. Dia merasa kesal pada kalian karena pulang hari ini." Jawab Mom Rania. Flower semakin bingung mendengarnya. Bagaimana bisa Daddynya itu sesebal itu hanya karena mereka pulang sedikit lama dari waktu yang sudah ditentukan.
Celotehan dari cucu kesayangannya berhasil menghilangkan wajah sebal Dad William berganti dengan senyuman. Ia segera mengambil alih Baby dari gendongan Malik dan memberikan ciuman bertubi-tubi di kedua pipi bulat cucunya.
"Katanya mau pulang kemarin kenapa jadi hari ini. Kan Kakek jadi sangat merindukanmu." Adunya pada cucunya.
"Lang?" Ulang Baby dengan kening mengkerut. Bayi berusia satu tahun empat bulan itu nampak bingung.
__ADS_1
"Sudahlah, kau juga tidak akan mengerti." Jawab Dad William lalu membawa Baby pergi dari hadapan mereka karena ia ingin melepas rindu hanya berdua dengan cucunya.
"Daddy sebal karena kita pulang lebih lama. Harusnya kita itu pulang kemarin bukan hari ini." Flower memberitahu suaminya tentang daddynya yang merajuk.
Malik masih memasang wajah datarnya. Namun dapat terlihat oleh Flower jika suaminya itu menarik tipis sudut bibirnya ke samping.
"Daddy itu sangat menyayangi Baby jadi dia merasa gatal jika sehari saja tidak bertemu cucunya. Terlebih kemarin kau mengabaikan panggilan video Daddymu dan tidak menelefon balik." Jawab Mom Rania.
Flower meneput jidat. Akibat ulahnya yang terlalu asik tidur membuatnya tidak sadar dengan panggilan masuk dari daddynya. Flower pun akhirnya hanya bisa tertawa kecil sambil menggeruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan kami ya, Mom." Malik yang barucap. Sedikit banyaknya ia juga merasa tidak enak karena istrinya mengabaikan panggilan rindu mertuanya untuk anaknya.
"Ya, Mommy mengerti. Daddymu saja yang terlalu berlebihan. Semakin hari sikapnya semakin seperti anak kecil saja." Jawab Mom Rania diikuti gelengan kepala.
***
__ADS_1