One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Sudah memiliki kekasih


__ADS_3

Entah mengapa setelah cukup lama menatap makanan di depannya membuat Flower tergiur dan perutnya tiba-tiba saja berbunyi meminta untuk di sini.


"Baby, apa kau menginginkan makanan ini?" Tanya Flower pada anak dalam kandungannya.


Kruk


Perut Flower kembali berbunyi seperti pertanda jika bayinya menginginkannya. "Baiklah, ayo kita makan." Ucap Flower lalu bangkit dari duduknya. Flower pun membawa makanan yang dibawakan Suci dan Nia ke dapur untuk menyalinnya.


"Emh, apa makanan ini tak apa jika masuk ke dalam perutku? Aku tidak biasa memakannya." Flower nampak ragu saat sambal itu telah ia letakkan ke dalam piring.


Tak ingin terlalu banyak berpikir karena perutnya terasa lapar, Flower pun segera menyuapkan sambal itu ke dalam mulutnya. Sesaat kemudian kedua bola mata Flower pun berbinar saat merasakan nikmatnya makanan itu di dalam mulutnya.


"Enak sekali. Makanan ini tak kalah enak dengan makanan yang biasa dimasakkan chef dan Mommy di rumah." Ucap Flower lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Karena terlalu menikmati makanannya Flower sampai tidak sadar jika makanan di dalam piringnya kini sudah habis tak tersisa. "Sudah habis saja." Ucap Flower menatap piringnya yang sudah kosong. Karena masih merasa lapar Flower pun kembali mengambil nasi dan sambal dan kembali melanjutkan makannya.


"Baby, kau yang menginginkannya." Ucap Flower.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, Flower kini terduduk di atas sofa ruang tamu dengan menahan rasa kekenyangan di dalam perutnya. "Sepertinya menyenangkan memiliki tetangga seperti mereka. Mereka sungguh baik sama seperti Andini." Ucap Flower mengingat teman baiknya di perusahaan Bagaskara.


Mengingat temannya di perusahaan Bagaskara membuat Flower teringat dengan pekerjaannya di perusahaan Daddynya.


"Harusnya saat ini aku membantu bekerja di perusahaan Daddy bukannya duduk diam di rumah seperti ini. Baru beberapa hari merasakan bekerja di perusahaan Daddy aku sudah berhenti karena hamil." Ucap Flower merasa sedih.


Di saat Flower tengah melamun di rumahnya memikir apa yang akan ia lalui kedepannya setelah menjadi istri Malik, di perusahaan Bagaskara, Malik justru terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaannya di dalam ruangan kerjanya.


Tok


Tok


Tok


"Tuan Rey." Ucap Malik lalu bangkit dari duduknya.


Rey melangkah dengan wajah datarnya sambil menatap Malik. Melihat tatapan Rey membuat Malik menyimpulkan jika ada hal yang ingin disampaikan Rey kepadanya.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" Tanya Malik setelah Rey berada tepat di depannya.


"Ehm." Rey berdehem lalu menjatuhkan bokongnya di atas kursi yang berhadapan dengan Malik.


Malik pun turut melakukan hal yang sama dan kembali mempertanyakan ada apa dengan Rey.


"Malik, kenapa kau tidak berkata jujur kepada saya?" Tanya Rey dengan tatapan yang sudah berubah dingin.


"Tidak jujur untuk hal apa maksud Tuan?" Tanya Malik.


"Ck." Lidah Rey berdecak. "Saya tahu kau tidak sebodoh itu Malik. Kau pasti mengerti apa maksud saya saat ini." Tekan Rey.


Malik terdiam.


"Jadi?" Rey kembali angkat suara.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menjelaskannya untuk itu." Ucap Malik tak ingin berbicara panjang lebar.

__ADS_1


"Malik..." Rey menekan perkataannya. "Sekarang ayo jawab kenapa kau tidak jujur jika selama ini kau sudah memiliki seorang kekasih?" Tanya Rey dengan tatapan mengintimidasi.


***


__ADS_2