
.
.
.
Selena menundukan kepalanya melihat seorang pria masuk kedalam kamar pengantin. Selena semakin ketakutan saat pria itu tersenyum dan mengunci pintu kamar yang ia tempati sekarang.
Pria itu berjalan mendekati Selena membuat Selena memundurkan langkahnya. Pria itu semakin mengangkat sudut bibirnya melihat Selena yang begitu ketakutan.
Dengan langkah yang semakin dekat pria itu berhasil membuat Selena terpojok. Selena memejamkan matanya saat pria itu mendekatkan wajahnya. Takut, ia sangat takut dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
“Kau pikir aku akan tertarik dengan bocah sepertimu? Hahaha, lucu sekali…istri seorang Hans adalah bocah berumur 18 tahun” ujarnya memainkan rambut Selena yang bergelombang.
“Tolong jangan sakiti saya…saya mohon…” lirih Selena mencengkram bajunya.
Pria itu hanya tersenyum sinis dan keluar dari kamar itu. Selena langsung terduduk lemas, akhirnya ia bisa merasa lega dan tenang. Sungguh pria itu sangat membuatnya ketakutan, walaupun pria itu adalah suaminya sendiri. Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11 membuat Selena bangkit dan tidur di ranjang yang begitu empuk. Selena menatap kamar pengantin yang begitu mewah ini.
Air mata Selena luruh begitu saja, bagaimana bisa ibunya tega menjualnya?. Ia menangis dibawah selimut yang hangat membuat dinginnya malam tak bisa menyentuh kulit putihnya.
.
__ADS_1
.
.
Selena membuka matanya perlahan, ia tidak bisa tidur semalaman penuh. Hatinya hancur saat ibunya dengan tega menjualnya. Kenapa hasibnya menyedihkan seperti ini?. Dijual oleh ibunya sendiri dan menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal. Apa memang takdirnya menyedihkan seperti ini?. Tidak bisakah ia mengubah takdirnya sendiri?.
“Hei gadis!!! Cepat turun dan buatkan aku makanan!!!”
Selena langsung tersentak kaget mendengar teriakan suaminya.
“Ba-baik!!”
Selena langsung masuk kedalam kamar mandi. Setengah jam kemudian ia turun dan menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Saat tengah memasak Selena merasakan seseorang berdiri dibelakangnya membuatnya sontak membalik badan.
“Masakanmu lumayan juga…”
“Te-terima kasih…”
Setelah selesai makan Hans langsung berangkat berkerja. Selena mulai membereskan rumah yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Membutuhkan waktu lama baginya untuk membersihkan rumah besar ini, namun ia melakukannya dengan senang hati. Lagipula ini sudah tugasnya menjadi seorang istri.
__________
__ADS_1
Malam harinya>
Hans menekan bel membuat Selena yang sedang memasak langsung berlari untuk membukakan pintu. Hans langsung masuk tanpa bicara sepatah katapun sedangkan Selena lebih memilih melanjutkan acara memasaknya.
Setelah selesai memasak Selena naik ke kamarnya dan mendengar seseorang yang sedang mandi. Apa suaminya mandi dikamarnya?!.
Selena menutup mulutnya mencoba tak bersuara. Ia membereskan kamarnya dengan sangat-sangat tenang tanpa menimbulkan suara.
Hans keluar dari kamar mandi dan menatap Selena yang sedang membersihkan kamar.
“Makananku sudah siap?”
“Su-sudah…”
“Bagus, dan ingat posisimu. Jangan sampai kau melupakan itu”
Hans pergi begitu saja dari kamar Selena. Selena hanya bisa diam tanpa mengeluarkan kata apapun. Sekarang ia ingin kabur percuma. Pasti pria itu bisa dengan mudah menemukannya, namun ia juga tidak suka berada disini. Jadi ia harus melakukan apa?. Kenapa semua orang seperti tidak mengharapkannya? Bahkan suaminya dingin kepadanya. Tak satupun orang bisa ia jadikan tempatnya bersandar walaupun sementara.
Selena mengusap air matanya yang kembali mengalir. Merasa lelah ia pun tidur membiarkan yang terjadi hari ini berlalu begitu saja. Sungguh, ia sangat berharap ada seorang malaikat yang mengeluarkannya dari takdir yang membuatnya sengsara seperti ini.
.
__ADS_1
.
.