
.
.
.
“Paman!!!!”
Selena meloncat kepunggung seorang pria yang sedang berada di sebuah butik pria. Pria itu tersenyum mendengar suara yang familiar ditelinganya.
“Wah, kesayangan Paman sudah sebesar ini ternyata. Paman tak akan bisa leluasa menggendongmu seperti dulu”
Pria itu membalik badannya dan menggendong Selena, pria itu menciumi seluruh wajah Selena sembari menggigit pipi Selena.
“Paman…sakit…”
“Hahaha…maaf sayang, bagaimana keadaanmu hm?”
“Aku baik-baik saja! Paman bagaimana? Sudah selesai tugas militernya?”
“Sudah dong”
Lonza, pria itu kembali menciumi wajah Selena. Sudah 3,7 tahun ia tidak bertemu dengan keponakan kecilnya ini karena tugas kemiliteran. Daniel menghampiri Selena dan Lonza, Daniel membungkukkan badannya memberikan hormat kepada Lonza.
“Paman sendirian saja? Di mana yang lain?”
“Hm? Kau belum bertemu dengan mereka? Mereka pulang lebih dulu daripada Paman”
“Hm? Pulang dulu? Sebentar…sekarang bulan…bukankah Paman seharusnya pulang 2 bulan lagi????”
Lonza memaksakan senyumannya mendengar ucapan Selena. Karena merindukan Selena serta makanan rumah ia kabur dari kemiliteran sama seperti Deon, Thomas, Diandra, dan Jeff. Sedangkan ke-3 kakaknya yang lain masih berada di kemiliteran.
“Hayooooo Paman kabur ya…” ucap Selena.
“Hehehe…Paman sangat merindukanmu sayang…jadi Paman pulang lebih awal”
“Memang boleh? Kata Papa sebelum tugas selesai kan tidak boleh pulang”
Lonza mengaruk pipinya yang tidak gatal mendengar ucapan keponakannya. Ya mau bagaimana lagi? Jika ingin bertemu dengan Selena hanya bisa menggunakan cara kabur. Itupun ia harus kabur tengah malam saat kakak-kakaknya sudah tidur.
“Kalian…” ucap Daniel.
“Oh Daniel! Dia Paman Lonza! Paman ke-8 ku!”
Daniel total blank seketika mendengar ucapan Selena. 2 orang ini…Paman dan keponakan? Paman Selena Jenderal muda Lonza? Itu berarti…Lonza tertawa melihat wajah blank Daniel. Siapapun yang tau dirinya adalah Paman Selena, maka orang itu pasti tau siapa Selena.
“Tunggu tunggu tunggu! Kalian Paman dan keponakan…sebentar…bagaimana bisa?!!” ucap Daniel tak percaya. Sepengetahuannya para Jenderal muda masih belum menikah dan punya anak. Lalu bagaimana bisa Selena menjadi keponakan Lonza atau jangan-jangan…Selena anak diluar nikah dari salah satu Jenderal?! WTF?!.
__ADS_1
“Tunggu…biarkan aku berpikir…” ucap Daniel.
“Kau itu bodoh sekali! Selena tentu saja anak dari kakak tertuaku! Yang sudah menikah kan hanya kak Ruvelis!”
“Ruvelis…”
Daniel mengingat-ngingat nama ‘ Ruvelis ‘. Sebentar…ia pernah melihat nama itu disuatu tempat. Tapi di mana ya…
“AH! Jangan membuatku binggung!” ucap Daniel frustasi.
“Kenapa kau terlihat seperti menyangkal takdir? Kau tau siapa aku tapi tak tau kakakku! Apa kau ini masih manusia?!” kesal Lonza.
“Ja-jangan bi-bilang kepadaku Ayah Selena…Tuan Alexandra?”
“Itu kau tau! Nah sayang! Ayo pergi! Paman akan membelikanmu banyak ice cream!”
Daniel blank, pria itu tak menyadari jika Lonza dan Selena sudah pergi. Bukankah Selena bermarga Leonardo seperti ibunya?! Lalu kenapa tiba-tiba?! Ah…ya! Benar! Ia ingat sekarang! Makam Tuan Alexandra! Leo pernah bilang jika Nyonya Leonardo adalah istri Tuan Alexandra!. Wah!!!!! Selena keturunan Alexandra secara langsung?! Ia harus memberitau Joe dan Papanya tentang hal ini!.
.
.
.
Flashback On!
Selena, gadis kecil yang baru saja genap berusia 4 tahun berlarian disebuah rumah sakit mewah. Beberapa dokter dan perawat yang melihat Selena tersenyum malu. Mereka heran, bagaimana Selena bisa semengemaskan itu? DNA antara Tuan dan Nyonya mereka benar-benar mengagumkan.
Jenssica, wanita itu tersenyum lembut melihat putrinya yang tengah bermain dengan alat-alat medisnya. Sepertinya putrinya benar-benar tertarik dengan peralatan itu.
“Pencuri kecil Mama sedang apa hm?”
Selena langsung terdiam membatu ditempatnya, dengan perlahan ia membalik badannya. Ia tersenyum melihat Mamanya yang sedang tersenyum kepadanya. Dengan kaki kecilnya ia berlari dan menunjukan sebuah pisau bedah kepada Mamanya.
“Mama! Apa ini?”
“Ini pisau bedah sayang, berikan kepada Mama. Nanti tanganmu terluka”
Selena menganggukkan kepalanya dan memberikan benda itu kepada Mamanya. Jenssica memasukkan pisau itu kedalam laci dan menggendong putrinya. Ia mencium pipi chubby putrinya, tumben sekali putrinya bisa datang ke tempat kerjanya. Biasanya putrinya didominasi oleh Lonza dan Jeff hingga jarang bisa kemari.
“Selena kemari dengan siapa? Di mana Papa?”
“Papa? Papa tadi ada di kantin!”
“Kantin? Selena belum makan ya?”
“Belum! Tunggu Mama!”
__ADS_1
“Hmmm anak baik…maaf ya…Mama baru saja selesai melakukan operasi, ayo makan. Setelah makan…Papa dan Mama akan mengajak Selena ketaman bermain”
“Janji?”
“Janji”
Jenssica menggendong putrinya menuju kantin, saat berada dikantin ia tersenyum melihat suaminya yang sudah menyiapkan makanan. Ruvelis tersenyum melihat istri serta putri kecilnya, ia dengan hati-hati mengambil putrinya dari gendongan sang istri.
“Nara kemana saja huh? Papa mencari Nara kemana-mana”
“Biasa, bermain dengan alat operasi”
“Ayo makan dulu, sayang…kau pasti lelah, setelah ini selesai dari taman bermain kita langsung pulang ya”
“Iya” jawab Jenssica sembari tersenyum.
Ruvelis duduk disamping istrinya, mengambil sesendok bubur dan menyuapi putrinya dengan telaten.
“Nanti…kalau sudah besar…Nara mau jadi apa sayang?”
“Hm? Seperti Papa Mama!” jawab Selena sembari tersenyum senang.
“Aduh…anakku mengemaskan sekali…” batin Ruvelis.
“Kalau begitu Nara harus makan yang banyak, nanti kalau Nara sudah lancar membaca...Papa belikan banyak buku untuk Nara ya sayang?”
Selena menganggukkan kepalanya dengan semangat. Jenssica tersenyum lucu melihat kelakukan anak dan suaminya. Di Negara ini siapapun yang melihat putrinya, pasti mereka langsung mengenali anak siapa ini, putrinya sangat mirip dengan suaminya hanya saja berbeda gender.
“Sayang…mau honeymoon kedua?” bisik Ruvelis membuat pipi Jenssica langsung merona seketika.
“Honeymoon? Apa itu Papa?” tanya Selena.
“A-ah i-ini…i-ini...” ucap Ruvelis dan Jenssica kelabakan tak tau harus menjawab apa.
“Ah! Melumuri bulan dengan madu sayang, ya…melumuri bulan dengan madu” ucap Ruvelis memasukkan bubur kedalam mulut putrinya.
Para dokter dan perawat yang kebetulan juga sedang makan siang menahan tawa mereka mendengar jawaban Ruvelis. Siapa suruh membicarakan bulan madu didepan anak-anak.
“Kita pergi honeymoon kedua ya…dengan Nara juga, kita sudah lama tidak liburan bersama…Nara juga pasti ingin liburan. Kita jadikan honeymoon baby”
“Liburan? Selena mau ke Amsterdam lagi Papa!”
“Nara mau ke Amsterdam lagi? Iya…besok kita pergi ya sayang…” ucap Ruvelis, mana bisa ia menolak permintaan putri kesayangannya ini.
Jenssica tersenyum tak berdaya melihat kelakukan anak dan suaminya. Amsterdam…kota kelahirannya sekaligus kota yang membuatnya bertemu dengan suaminya. Apa suaminya ingin memberitau putrinya bahwa Papa dan Mamanya dulu pernah bertengkar hebat hanya karena berebut sebuah lampion?.
.
__ADS_1
.
.