
.
.
.
“SELENA!!!”
Para polisi langsung menahan para Alexandra yanmg hendak meloncat, Daniel melepaskan jasnya dan langsung meloncat dari jembatan itu. Daniel mengulurkan tangannya menggapai tubuh Selena.
“Kenapa…?”
“Aku memperbolehkanmu melompat, kau boleh melakukannya…tapi aku tidak mengizinkanmu untuk pergi menyusul Leo”
“Lepaskan aku…aku tak ingin hidup lagi…”
“Meninggalkan ke-3 buah hatimu? Tidak…tidak akan kubiarkan…”
“Lepas…biarkan aku pergi…” lirih Selena dengan air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.
Daniel membalik posisi tubuh mereka, ia memeluk Selena dengan erat hingga tubuh Daniel jatus diatas matras yang berada diatas sebuah boat. Joe langsung membantu Selena dan Daniel untuk berdiri.
“Apa yang kau lakukan hah?!” bentak Joe langsung memastikan kondisi Selena.
“Kita kerumah sakit, bawa boatnya ketepi” ucap Daniel menggendong tubuh Selena.
Boat diarahkan ketepian. Daniel menggendong Selena menuju mobil yang sudah berada di tepi sungai. Untunglah bodyguardnya cepat melakukan tindakan.
.
.
.
Selena kini tertidur lelap setelah ditangani dokter. Hendrick tak henti-hentinya menangis sembari menggenggam erat tangan Selena. Daniel dengan tatapan kosongnya hanya bisa menatap wajah pucat Selena, ia masih tak percaya dengan ucapan dokter yang mengatakan bahwa mental Selena terganggu bahkan kemungkinan besar Selena bisa kembali mencoba melakukanbunuh diri.
Para Alexandra hanya bisa diam dan menatap ruangan yang kosong tak ada peralatan lain selain peralatan medis. Semuanya mereka keluarkan demi menghindari terjadinya hal yang tak diinginkan.
Kini pria-pria berkuasa didalam ruangan itu hanya bisa merenung tanpa bisa melakukan hal apapun. Leon, Leona, dan Ryu ditangani oleh tenaga medis dan mereka mungkin akan lebih fokus kepada penyembuhan Selena.
“Daniel…ini permintaan terakhirku kepadamu…jaga istriku…jaga dia baik-baik…dia pasti sedih mengetahui kepergianku…hibur dia ya…jangan biarkan dia menangis terlalu lama…waktuku menjaganya hanya sampai disini…sekarang dia milikmu…mulai hari ini…kau yang bertanggung jawab menjaganya…maaf…aku tak bisa menjaganya lagi…katakan kepadanya…bahwa aku…akan terus mencintainya…”
Daniel mengacak rambutnya frustasi, ia mengusap kasar air matanya. Ternyata ini yang dimaksud Leo dengan dia akan memberikannya hadiah sebagai imbalan karena sudah menjaga Selena. Leo sudah tau bahwa ia tak akan hidup disamping Selena lebih lama lagi.
“Maaf…maafkan aku…aku seharusnya bisa menyelamatkanmu…maafkan aku…”
Daniel berdiri, ia mendekati wajah Selena.
“Cepat sembuh ya cantik…banyak yang masih sayang kepadamu…cepat sembuh, malaikat-malaikatmu membutuhkan Ibunya” ucap Daniel sembari membelai kepala Selena.
“Aku akan melihat keadaan anak-anak terlebih dulu” ucap Daniel keluar dari ruangan itu dan pergi menuju ruangan kembar.
Daniel menatap Leon dan Leona yang tengah berada digendongan beberapa dokter wanita. Entah kenapa, melihat bayi yang tak berdosa itu kehilangan Ayah mereka membuat perasaan iba sekaligus bersalah memenuhi hati serta pikirannya. bisakah…bisakah setelah ini Selena melanjutkan hidupnya seperti sedia kala?.
“Bagimana ini Daniel…aku takut…” ucap Micle serta Alex.
Jangankan Micle dan Alex, ia saja takut apa yang akan terjadi nanti setelah Selena bangun. Akankah wanita itu mengamuk? Atau kembali mencoba melakukan bunuh diri?. Tapi yang paling ia takutkan adalah Selena membuat ‘Penolakan’.
Daniel menatap hampa Leon dan Leona, untuk pertama sekaligus terakhir kalinya. Kedua bayi itu merasakan pelukan Ayah kandung mereka, lalu bagaimana dengan Ryu?. Bayi prematur itu belum disentuh ataupun dilihat oleh Ayah kandungnya, ya tuhan…kenapa semua ini harus terjadi…?.
“Direktur, persediaan ASI Nyonya sudah hampir habis. Kami tidak bisa membiarkan mereka meminum ASI dari Ibu lain!”
“Kalian pantau mereka ber-3. Biar aku nanti yang bicara kepada Selena”
“Jika…jika Nona mengalami…” ucap Micle terhenti.
Daniel menggigit bibir bawahnya, seharusnya ia sadar apa yang akan terjadi setelah ini. Melihat dari sifat Selena yang sangat membenci pengkhianatan, ia takut Selena akan menolak kehadiran ketiga anaknya. Atau lebih parahnya dia tidak mau memberikan ASInya kepada mereka.
Daniel menghampiri salah satu dokter wanita itu, mengambil Leon dari gendongannya. Bayi kecil itu dengan perlahan membuka matanya lalu tersenyum tipis.
“Jangan khawatir sayang…jangan khawatir…Paman akan memberikan yang terbaik untuk kalian…jangan khawatir” ucap Daniel dengan suara yang gemetar.
“Paman akan menjadi Papa kalian kedepannya…Paman tidak akan membiarkan kalian kekurangan kasih sayang”
Daniel menghapus air matanya tatkala air matanya berhasil keluar dari kelopak matanya, dengan hati-hati ia kembali meletakkan Leon didalam incubator bersama dengan masuknya Leona.
“Bertahan ya sayang…Papa akan berusaha mengembalikan Mama kalian seperti sedia kala, Papa janji…Papa tidak akan membiarkan Mama kalian terus membenci kalian…”
Micle, Alex, serta dokter wanita yang ada disana tak kuasa menahan air mata mendengar perkataan Daniel. Kematian Tuan muda Iskandar cukup membuat seluruh penghuni rumah sakit sekaligus anggota keluarga Alexandra dan Iskandar diselimuti rasa panik.
“Oh, bagaimana kondisi Ryu?”
“Tuan muda kedua dalam kondisi yang stabil meskipun pernafasannya masih belum bisa dikatakan baik-baik saja”
“Itu sudah cukup, pantau Ryu lebih ketat lagi. Aku akan kembali ke kamar Selena”
“Baik…”
.
.
.
Selena membuka matanya dengan perlahan, kekosongan terlihat jelas dikedua mata jade dingin itu. Para Alexandra tersenyum melihat keponakan mereka yang sudah bangun.
“Bagaimana keadaanmu hm?” tanya Lewis dengan lembut.
“Aku...masih hidup? Kenapa aku masih hidup?” tanya Selena dengan suara paraunya sukses membuat para Alexandra tersentak.
Zachery menghembuskan nafasnya dan menghampiri cucu kesayangannya, dengan lembut ia membelai kepala Selena.
“Kenapa bicara seperti itu hm? Apa Nara tidak tau betapa cemasnya Opa?”
Daniel membuka pintu dengan perlahan, ia menghampiri Selena dan meletakkan bubur diatas nakas setelah itu duduk disisi tempat tidur.
“Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?”
“Jauh…jauh lebih buruk dari sebelumnya…?”
Daniel hanya bisa terdiam mendengar hal itu, ia membantu Selena untuk duduk. Ia mengambil semangkuk bubur itu dan mencoba menyuapi Selena, namun mustahil…Selena sama sekali tidak mau membuka mulutnya.
__ADS_1
“Sudah 3 hari tidak makan apapun, makan sedikit saja…nanti bisa magg…”
“Singkirkan ini…”
“Sesuap saja…kumohon, makan ya?”
“Jangan membuatku semakin muak Daniel…bawa ini pergi dan tinggalkan aku sendiri!”
Daniel hanya bisa menghembuskan nafasnya, dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya dan meminta semuanya untuk keluar. Daniel meletakkan bubur diatas nakas, ia berharap semoga Selena mau memakan itu walaupun sedikit saja.
Selena menatap keluar jendela dengan tatapan yang begitu kosong, tidak ada emosi apapun didalam sana. Hampa…hampa… hampa…bosan…bosan…bosan…ia mulai bosan hidup didunia yang semakin lama semakin memuakkan ini. Dunia yang bisa-bisa dengan seenaknya mempermainkan dirinya. Setelah merenggut kedua orang tuanya, kenapa suaminya harus direnggut juga?!.
“Haha…dunia ini benar-benar memuakkan…dunia yang sangat ingin kuhancurkan…”
Sedangkan diluar ruagan, Azizah, Merisa, serta Melissa datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Bodyguard yang berada disana langsung membungkuk hormat melihat kedatangan ke-3 istri sultan ini.
“Bagaimana keadaan Selena, apa dia baik-baik saja?!” tanya Azizah dengan wajah cemasnya.
“Bolehkah kami masuk?” tanya Melissa.
Daniel menganggukkan kepalanya memberikan izin, ke-3 wanita itu masuk kedalam ruangan Selena. Hati mereka seketika remuk tatkala melihat sang empu yang tengah melamun.
Mereka segera menghampiri Selena, duduk disamping kiri dan kanannya.
“Yang sabar ya…kau pasti bisa melalui ini semua…kau wanita yang kuat…kami yakin kau bisa melewati ini” ucap Merisa seraya membelai kepala Selena.
Air mata Selena dengan perlahan luruh membuat ke-3 wanita itu dengan sontak memeluk sang empu.
“Suamiku…Leo…dia pergi…”
“Kami tau…kami mengerti…kau yang sabar…ini pasti akan berlalu…ini pasti akan segera berlalu” ucap Melissa dengan tubuh yang gemetar menahan tangis.
Ke-3 wanita itu hanya bisa mengucapkan ata-kata penenang untuk Selena, mereka semua mengenal baik Selena…mereka mengenal baik wanita yang kini benar-benar menjadi rapuh karena kepergian suami tercintanya.
“Aku tidak ingin hidup lagi…aku ingin bersama suamiku…”
“Hei…kau tidak boleh bicara seperti itu…kami semua ada untukmu, jangan katakan lagi Okey…?”
…………………..
Daniel menatap sendu Selena yang kini tertidur lelap setelah lelah menangis. Azizah, Merisa, dan Melissa saling meliirk. Di kondisi Selena yang seperti ini…bagaimana nasib ke-3 anaknya?.
“Masalah anak-anak kalian jangan khawatir, aku akan mencoba berbicara kepada Selena” ucap Daniel.
“Tidak Daniel, dia Selena…kau tau persis bagaimana sifatnya. Dikondisi yang seperti ini, dia pasti tak akan bisa mengontrol tubuh dan emosinya. Menyinggung masalah yang sensitive, bisa saja memicu amarahnya!” ucap Azizah.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin…aku tak akan membiarkan Selena membenci anak-anaknya”
Ke-3 wanita itu hanya bisa diam mendengar ucapan Daniel, bisakah pria itu melakukan hal yang mustahil seperti itu?. Jangankan Daniel, Tuan besar Alexandra saja hanya bisa diam ketika mendengar keputusan mematikan Selena.
>>>>>>>>>
Esoknya…
Selena membuka matanya dengan perlahan, ia membeku tatkala melihat dua incubator berada diruangannya. Deon memutar kepalanya, menatap keponakannya yang sudah bangun.
“Kau sudah bangun? Lihat-”
Semua orang yang berada disana seketika terkejut mendengar bentakan Selena. Rahang Selena mengeras, matanya yang mengintimidasi menatap dua buah bayi yang berada didalam incubator tersebut.
“Hei…mereka anak-anakmu, Leon dan Leona?” ucap Daniel dengan lembut.
“Singkirkan mereka sekarang juga…”
“A-apa?” ucap semuanya tak percaya.
“Kubilang singkirkan mereka sekarang juga!!!!” teriak Selena.
Zachery langsung dengan sigap menahan tubuh cucunya yang hendak turun dari tempat tidur. Ia menatap cucu kesayangannya yang sedang menatap tajam kedua anak kandungnya. Apa…cucunya mengalami Baby blues?.
“Singkirkan mereka, atau kusingkirkan kau sekarang juga” sinis Selena dengan wajah piasnya. Benci…ia benci…
“Kau tidak boleh seperti ini, mereka anakmu…mereka membutuhkan Ibunya. Jangan seperti ini…” ucap Melissa.
“Tutup mulutmu Melissa!! Singkirkan mereka sekarang juga!! Atau…”
“Bawa mereka pergi! Jangan membuat keadaan semakin kacau” ucap Zachery.
Dengan berat hati Alex dan Micle membawa pergi dua incubator itu bersama dengan alat-alatnya. Zachery menghembuskan nafasnya, dengan perlahan ia membaringkan tubuh cucunya. Untuk sekarang, menghindarkan cucunya dari hal-hal yang berhubungan dengan Leo adalah pilihan yang terbaik.
“Ayo makan dulu, setelah makan istirahatlah lagi”
“Pergi”
“Nara…jangan begini sayang, makan sedikit saja. Opa mohon, Nara makan ya? Nara tidak akan sembuh jika terus seperti ini” ucap Zachery.
“Apa yang dikatakan Opamu benar, makan ya. Nara mau apa? Biar Oma buatkan sekarang”
“Aku tidak ingin apa-apa, tinggalkan aku sendiri”
“Selena!”
“Jangan coba-coba memerintahku Daniel…” geram Selena.
“Ini rumah sakit! Bukan kemiliteran! Kau pasienku, jadi patuhi kata-kataku dan makan sekarang juga!” sengit Daniel, sedikit lagi…sedikit lagi ia benar-benar akan kehilangan kendalinya jika Selena terus menerus seperti ini. Sudah tidak makan dan minum selama 4 hari! Jika bukan karena cairan infus, vitamin, serta obat-obatan yang disuntikan kedalam tubuh itu. Ia yakin Selena sudah koma sekarang.
“Kenapa?! Kau sudah tidak tahan meladeniku?! Kemari dan bunuh sekarang juga, dengan begitu waktumu tidak akan terbuang sia-sia hanya karena mengurusku!” sarkas Selena membuat Daniel langsung mengepalkan tangannya.
“Baik! Kau menang lagi kali ini! Tapi! Jika besok kau masih tidak mau makan, aku akan membuang semua kenanganmu bersama Leo” final Daniel, jika ini adalah cara terakhir membuat Selena mau memakan sesuatu ia akan melakukannya. Tak peduli bahwa sesaat perang dingin akan terjadi antara dirinya dan Selena.
“Jangan coba-coba melakukan itu Daniel!!” bentak Selena.
“Kau pikir aku takut? Teruslah seperti ini, dan besok…jangan harap ada satupun kenanganmu dan Leo yang tersisa!”
“Daniel!!!!” teriak Selena.
Sudut bibir Daniel terangkat, ia mengeluarkan sebuah foto dari sakunya yang langsung membuat mata Selena membulat. Para Alexandra panik, apa yang mau Daniel lakukan?! Apa pria itu benar-benar cari mati dengan Selena?!.
Daniel merobek foto yang merupakan foto Selena bersama Leo yang tengah menikmati liburan musim semi di London. Tubuh Selena gemetar, air matanya luruh begitu saja tatkala foto itu dirobek Daniel hingga berkeping-keping.
Mata jade Selena dan mata elang Daniel bertemu. Saling mengunci dengan perasaan yang tak bisa digambarkan.
__ADS_1
“Teruslah uji kesabaranku, jika kau mau aku melakukan apa yang kukatakan tadi. Teruslah seperti ini” ucap Daniel sebelum keluar dari ruangan Selena.
“KELUAR!!!!!!”
Semuanya langsung keluar tanpa mau berbicara dan membuat si empu semakin marah, Selena menangis dan menjerit. Memukuli kakinya yang berbalut selimut.
Sedangkan Daniel yang berada diruangan itu hanya bisa diam, menahan air mata yang bisa keluar kapan saja. Deon menepuk bahu Daniel membuat pria itu langsung mengusap air matanya yang hendak keluar.
“Jika tidak ingin, kenapa dilakukan?”
“Lalu, adakah cara lain selain ini? Selena gadis yang sangat keras kepala. Semua yang dikatakan akan diputar balikan, jika cara ini bisa. Kenapa tidak?” ucap Daniel.
“Tapi kau tau, hal ini bisa membuat Selena menjadi dingin kepadamu”
“Aku tak masalah, jika itu bisa membuat Selena lebih baik. Lebih baik seperti itu saja” jawab Daniel sembari tersenyum getir. Tapi jika cara ini masih tidak bisa, ia hanya punca cara terakhir…pemaksaan.
.
.
.
Daniel terus memantau Selena dari luar ruangan, sejak kejadian tadi pagi. Tak ada satupun yang diizinkan masuk oleh Selena. Gadis itu masih menangis dibawah selimut, tangan Daniel kembali mengepal. Sial*n…
“Sampai kapan ini akan terus berlanjut?” tanya Zachery. Ia semakin cemas dengan kondisi cucunya.
Daniel menghembuskan nafasnya, ia masuk kedalam ruangan itu dan menguncinya. Ia berjalan mendekati Selena dan duduk di sisi tempat tidur.
“Masih menangis?”
“Siapa yang menyuruhmu masuk?” ucap Selena dengan suara seraknya.
Daniel membuka selimut Selena, ia menatap wajah berantakan Selena. Mata sembab, hidung merah, dan rambut yang acak-acakan. Hahh…ia kalah lagi.
“Ini, aku tidak merusaknya” ycap Daniel sembari memberikan sebuah foto kepada Selena. Selena menerima foto itu, ini…bukankah ini foto yang dirobek Daniel tadi? Padahal tadi jelas-jelas ia melihat Daniel merobeknya.
“Sudah, berhentilah menangis. Tidurlah sekarang”
Daniel membenarkan posisi tidur Selena, menghidupkan pengharum ruangan. Ia bangkit dan duduk di sofa sembari membaca buku yang berada diatas meja.
Selena memandangi foto itu sesekali menghapus air matanya. Daniel yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir, bisakah seseorang memberitahunya apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia lakukan untuk mengembalikan keceriaan diwajah gadis itu?.
Dengan perlahan kantuk mulai melanda Selena, mata gadis itu terpejam dan masuk kedalam alam mimpi. Daniel sekali lagi menghembuskan nafasnya, ia menghampiri Selena dan mencium kening Selena.
“Good night…” ucap Daniel sembari mematika lampu dan kembali ke sofa untuk tidur.
Daniel berbaring di sofa, menatap langit-langit rumah sakit sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Selena mau makan. Jika ini terus berlanjut, ia takut akan ada banyak masalah lain pada tubuh Selena.
*******
Mikayra menggenggam erat tangan besar suaminya ketika melihat cucunya yang lagi-lagi melamun sembari menatap keluar jendela. Ya tuhan…cara apalagi yang bisa mereka gunakan untuk mengembalikan cucu mereka seperti semula? Dulu saat kematian putra dan menantunya masih ada Jennifer dan Leo. Tapi sekarang Jennifer dan Leo sudah tidak ada, siapa yang bisa mengembalikan cucu mereka seperti sedia kala?.
“Tuan, Nyonya…”
“Micle” ucap Mikayra menatap sendu pria yang menjadi adik angkat menantunya.
“Maaf, saya tidak bisa berbuat banyak untuk ini…”
“Ini bukan kesalahanmu, ini kesalahan kami yang tidak bisa menjaganya dengan baik” jawab Zachery.
“Hendrick, di mana dia?” tanya Mikayra. Sejak cucunya sadarkan diri, batang hidung Hendrick belum tampak sekalipun. Di mana pria itu? Apa pria itu sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa datang menemui cucunya?.
“Beliau berada di penthousenya bersama dengan Tuan-tuan”
“Aku akan menemuinya, sayang…kau disini saja ya” ucap Mikayra.
“Biar aku yang pergi, aku takut kau kenapa-napa saat diperjalanan”
“Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir”
Mikayra pergi setelah membawa kunci mobil suaminya. Ia akan pergi menemui putra serta keponakannya, dan melihat apa yang ke-2 pria itu lakukan disaat kondisi yang seperti ini.
Saat sampai Mikayra langsung membuka pintu dan langsung menutup hidungnya ketika mencium bau alkohol yang begitu menyengat. Ia menghidupkan lampu dan menataptak percaya putra-putranya dan Hendrick yang tengah terkapar dengan botol wiskey di mana-mana. Ya tuhan, berapa banyak wiskey yang mereka minum sampai seperti ini.
“Deon! Jeff!! Alexa!! Lewis!! Louis!! Hendrick!!” geram Mikayra.
“Selena akan membenciku…dia akan membenciku…” racau Hendrick sembari mencoba berdiri dari sofa.
“Kau sudah mabuk berat Hendrick”
“Dia akan membenciku…putriku akan membenciku…aku tak bisa melindungi suaminya…dia akan membenciku…”
“Hendrick…” ucap Mikayra yang tau kemana arah racauan pria itu.
“Haha…dia akan membenciku…putriku akan membenciku…aku berbohong lagi kepadanya…dia akan membenciku…”
Mikayra menghampiri Hendrick, wanita itu menepuk pipi Hendrick dengan perlahan. Hendrick mendongkakan kepalanya.
“? Siapa kau?”
“Pergilah temui Selena Hendrick”
“Aku tidak bisa…aku tidak berani bertemu dengannya…dia pasti kecewa kepadaku…”
“Dia putrimu bukan? Kau mencintainya bukan? Jadi temuilah dia sekarang”
“Aku tidak bisa!! Dia kecewa kepadaku!! Aku tidak berani menemuinya!!”
Mikayra hanya menghembuskan nafasnya, ia menggoyangkan bahu Deon mencoba membangunkan putranya itu. Deon adalah pria yang jarang ingin menyentuh alkohol, putranya ini hanya akan menyentuh alkohol jika benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Sebegitu depresinya kah putranya sekarang ini?.
“Jeff…bangun sayang, Alexa…Lewis”
Nihil, tak ada satupun diantara pria-pira itu yang bangun. Mikayra mengeraskan rahangnya, ia tak punya cukup kesasbaran meladeni orang yang mabuk.
“Sudahlah, terserah kalian saja. Kalian, jaga mereka sampai mereka sadar. Aku akan kembali kerumah sakit”
“Baik Nyonya…”
.
.
__ADS_1
.