
Selena terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Opanya, risiko? Memang ia peduli dengan risiko yang akan terjadi?. Setelah terdiam sejenak Selena menghembuskan nafasnya.
“Banyak yang akan mengundurkan diri dari kamp bukan? Itu bukan masalah besar bagi kamp Opa, kamp tidak memerlukan orang yang hanya mencari keuntungan dari kemiliteran. Jika keputusan itu tetap ada, banyak yang akan semena-mena kedepannya… ditambah hal menjijikan yang dilakukan keluarga Georgino bisa saja terulang kembali. Jadi Nara ingin, stempel kemiliteran… biar Nara saja yang pegang”
“Kenapa? Bukankah kamp utama aman?”
“Opa tidak baca yang kedua?” tanya Selena balik.
Zachery mengerutkan keningnya, ada yang kedua? Ia pikir hanya ada satu. Licik juga cucunya menggunakan 1 surat untuk 2 hal yang berbeda, Hendrick kalah telak.
“Nara…ingin cuti selama 4 tahun?”
“Benar Opa, Nara ingin cuti…Nara ingin fokus kepada anak-anak dan juga perusahaan. Sekarang Nara tidak ada di kamp utama, Jenderal besar Hendrick juga sedang berada di kamp 6. Tidak ada yang menjaga kamp utama, jadi lebih baik…barang berharga yang ada…Nara saja yang pegang”
“Baiklah…Opa akan menyetujui perintah pertama darimu”
“Terima kasih Opa”
Zachery menarik laci dan mengeluarkan stempel miliknya, memberikan cap di kertas itu dan juga menandatanganinya.
“Kapan Nara akan ke kamp 6?”
“Untuk apa Nara kesana?” tanya Selena mengerutkan keningnya.
“Bukankah Nara ingin memberikan ini kepada Hendrick?”
“Kan ada elang Opa, biar elang Opa saja yang mengirimkannya ke kamp 6”
“Hahhhhh, baiklah”
Setelah urusannya selesai, Selena langsung keluar dari perpustakaan itu setelah menyambar satu buku yang entah apa judulnya. Zachery kembali menyimpan stempelnya dan juga menggulung surat itu kembali.
“Noel”
Sebuah elang yang begitu besar langsung hinggap di pundak Zachery, Zachery mengikat surat itu di kakai elangnya.
“Noel, berikan ini kepada Hendrick. Kau harus membuatnya menerima surat ini apapun yang terjadi karena ini adalah perintah pertama Tuanmu. Pergilah”
Elang itu langsung terbang pergi melalui jendela yang teuka lebar. Zachery menghembuskan nafasnya, ia harap burung elangnya bisa sampai kepada Hendrick.
“Opa menaruh harapan besar kepadamu sayang…jangan kecewakan Opa”
Zachery berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri sebuah lukisan yang tertutup oleh kain hitam di ujung perpustakaan. Zachery menarik kain hitam itu dan tersenyum.
“Kau berhasil Ruvelis…kau berhasil membuat putrimu tumbuh seperti keinginanmu. Kau berhasil membuatnya melakukan apa yang belum bisa kau lakukan selama ini. Papa berharap, kau bisa melihat ini…kau putraku yang hebat…terima kasih sudah memberikan hidupmu kepada Nara. Papa menaruh harapan yang besar kepada putrimu…tolong lindungi putrimu darisana Ruvelis…tolong lindungi dia”
Zachery menyentuh lukisan yang baru selesai dibuat setelah sekian tahun, sifat cucunya sekarang inilah yang sangat diharapkan oleh putranya. Berpikir secara logis dan menyeluruh tanpa meninggalkan risiko dalam tindakan yang dilakukan, sekaligus membuat siapapun tak bisa menjadi kelemahannya.
Selena yang berada dalam perpustakaan hendak mengambil barang yang belum ia ambil terdiam mendengar ucapan Zachery. Opanya…menaruh harapan yang besar kepadanya, dan…mana mungkin ia bisa membuat Opanya kecewa jika Opanya begitu berharap kepadanya?.
“Opa…”
“Sayang, kau masih disini?” ucap Zachery sembari tersenyum. Kenapa cucunya kembali? Apa cucunya meninggalkan sesuatu di perpustakaan ini?.
“Nara tak akan mengecewakan Opa dan keluarga Alexandra, Nara janji…Nara janji tak akan pernah mengecewakan Opa lagi. Nara akan tumbuh seperti yang Papa dan Opa inginkan”
Zachery tersenyum dan memeluk erat
cucu tunggalnya itu, ternyata cucunya mendengar ucapannya tadi.
“Nara tidak pernah mengecewakan Opa…Nara kebanggan Opa, mana mungkin Nara pernah mengecewakan Opa”
“Nara akan lebih hati-hati kedepannya, Nara tak akan membuat Opa dan Oma cemas lagi”
**********
Selena menatap tak percaya tumpukan buku yang menjulang tinggi, apa paman-pamannya serius ingin ia membaca semua buku ini? Ya tuhan…ia benar-benar tak percaya jika Papanya dulu membaca buku sebanyak ini.
“Ini semua…buku yang dibaca Papamu agar bisa merawatmu, jadi bacalah. Kau bilang kau ingin jadi Ibu bukan?”
“Tidak sebanyak ini juga Paman…”
Selena langsung pergi dengan raut wajah sedikit kesal dari ruang tamu, gila saja ia disuruh membaca buku tentang cara menangani anak kecil sebanyak itu. Ia jadi terharu dengan perjuangan Papanya untuk bisa merawatnya dulu. Ia suka anak kecil, tapi ia tidak suka bayi…bisakah pertumbuhan anaknya di skip saja menjadi anak kecil?.
Para Alexandra tertawa lucu melihat wajah kesal keponakan mereka, keponakan mereka bilang ingin menjadi Ibu yang baik ya inilah buku panduan menjadi Ibu yang baik yang pernah dibaca kakak tertua mereka, Ruvelis.
“Opa ada didalam?” tanya Selena mengetuk ruang kerja milik Opanya.
Pintu secara otomatis terbuka, Zachery yang tengah duduk di kursi kerja tersenyum melihat kedatangan cucunya. Apa cucunya sudah selesai membaca buku panduan menjadi Ibu yang baik?.
“Sudah selesai bacanya?”
“Lain kali saja, aku mau bekerja”
“Duduklah, Opa akan mengajarimu mengurus perusahaan”
Selena duduk di kursi kosong disebelah Zachery, Zachery memberikan berkas yang baru selesai ia baca kepada cucunya. Cucunya adalah anak yang jenius, ia yakin…1 atau 2 tahun lagi cucunya akan menjadi pembisnis yang sekelas dengan Daniel. Apalagi banyak orang berpengalaman yang menjadi tangan kanan cucunya.
“Nara tidak mau lanjut kuliah lagi?”
“Tidak mau, pelajarannya diulang-ulang terus”
“Hahahaha, kan Opa sudah bilang. Selain kampus militer percuma Nara ke kampus lain jika ingin cari materi baru”
“Kenapa Opa tidak bilang?” kesal Selena.
“Opa sudah bilang, tapi kau tidak mendengarkannya…kau sibuk bermain catur dengan Papamu, ingat?”
Selena melipat kedua tangannya, Opanya tau jika ia sudah fokus kepada sesuatu ia tidak akan mendengarkan ucapan disekelilingnya dan Opanya masih saja mengajaknya bicara.
__ADS_1
“Jadi?”
“Nara akan lanjut di kampus militer saja, 2 kampus sebelumnya Nara keluar saja”
“Boleh, tapi butuh 4 tahun mungkin untukmu mencapai gelar dokter”
“Tak masalah, Nara bisa lewat jalur cepat”
“Yakin bisa? Ingat kau punya anak sekarang”
“Kan ada Baby sister”
*Yang dimaksud para Alexandra.
“Baiklah, sekarang bacalah itu dan katakan kepada Opa apa yang kau pahami”
Selena membaca berkas itu dengan teliti, disamping mulutnya yang berbicara otaknya melayang jauh kemana-mana. Ia harus kuliah sembari mengurus anaknya, ya tuhan…terdengar sangat melelahkan. Hanya mengandalkan Baby sister, apa bisa?.
Zachery mengelus kepala cucunya sembari tersenyum, Selena menatap Opanya. Huftttt…ia pasti bisa!.
“Semangat ya”
“Pasti!”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selena menatap lega sertifikat yang berada di tangannya, akhirnya…usahanya tidak sia-sia akhirnya ia bisa lulus dengan hasil yang benar-benar memuaskan.
“Selamat anda telah lulus, Dr. Selena” seorang pria yang cukup berumur mengulurkan tangannya dan Selena menjabat tangan itu sembari berterima kasih.
“Sayang…” panggil Zachery.
Selena langsung berlari memeluk Opa dan Omanya yang baru saja tiba di hari kelulusannya, Mikayra menjinjit menciumi wajah rupawan cucu kebanggannya. Selena memberikan sertifikat itu kepada Zachery.
“Anak pintar, kau menepati janjimu”
“Selena!!!!!”
Joe berlari berhambur memeluk Selena, Selena membalas pelukan hangat yang diberikan Joe kepadanya. Selena melepaskan pelukannya dan menjabat Alex yang mengulurkan tangan kepadanya.
“Selamat atas kelulusanmu”
“Terima kasih Alex”
“Kapan kalian sampainya?”
“Tadi malam, haishhhhh…benar-benar sulit untuk bisa sampai disini” keluh Joe.
“Minggu depan kau akan menikah, kau harus istirahat…kau harus tampil cantik di hari pernikahanmu”
“Tentu saja! Oh ya, kau akan datangkan?”
“Tentu saja, kenapa kau harus menanyakannya” jawab Selena.
Sebuah mobil mewah berhenti, Rafindra turun dari mobil itu sembari membawa bucket bunga untuk Nonanya. Selena tersenyum tipis melihat Rafindra yang baru saja datang.
“Saya memberikan Selamat untuk anda, Nona”
“Terima kasih Paman Raf, oh! Ayo foto dulu”
Selena mengangkat tangannya membuat seorang fotografer langsung mendekat, semuanya langsung mencari posisi yang tepat.
“I,2,3…cheese…”
Ckrek!
Setelah selesai berfoto Selena langsung melepaskan toganya, ia tak bisa berlama-lama disini, masih ada rapat yang harus ia hadiri setelah itu ia harus melihat rumah sakit yang akan ia tempati untuk bekerja bersama dengan Bei dan Micle. Haihhhhh, padahal ia ingin sekali pergi berlibur, tapi apalah daya…tugasnya menghalanginya untuk healing.
“Nona, rapat akan dimulai 30 menit lagi. Mari berangkat sekarang” ucap Rafindra.
“Baiklah”
“Opa, Oma. Aku pergi dulu, aku akan pulang besok pagi”
“Hati-hati ya, Rafindra…jaga baik-baik cucuku” ucap Mikayra.
Rafindra membuka pintu mobilnya dan Selena langsung masuk kedalamnya. Rafindra segera masuk dan menyetir untuk menuju perusahaan Alexandra yang terletak cukup jauh dari kampus. Sepanjang perjalanan mata Selena terfokus kepada laptopnya, menyelesaikan proposal rapat yang balum terselesaikan.
“Saya pikir mereka sudah menyelesaikan proposalnya Nona”
“Aku yang menyiapkannya, kemarin terhalang oleh panggilan dari kamp utama. Jadi aku akan menyelesaikannya sekarang”
Rafindra hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dingin dari Selena, Nonanya adalah wanita yang pekerja keras…mirip seperti mendiang Nyonyanya yang gila kerja hingga hampir tak punya waktu untuk anaknya sendiri.
__ADS_1
Drttttt drttttttt…
Rafindra menatap dingin ponselnya yang berdering, nomor siapa ini? Bagaimana orang ini bisa mendapatkan nomor telfonnya?.
“Angkat”
Setelah mendapatkan izin dari Selena, Rafindra segera mengangkat telfon masuk dari ponselnya.
“Putar balik, ada gangguan didepan. Ambil jalan lain”
“Siapa kau?” tanya Rafindra.
“Ikuti saja ucapannya” sahut Selena yang mengenal suara di sebrang sana, itu suara Charles.
“Baik Nona…”
Tut…
Rafindra mengambil jalur kanan yang seharusnya jalur kearah perusahaan adalah lurus. Tugasnya adalah menjalankan perintah Tuannya, sebelum Tuannya memberikan perintah…ia tak akan bertindak secara sembarangan lagi.
Mata Selena melirik kearah spion, menatap deretan mobil hitam yang mengawal dibelakang. Dulu ia sangat tidak suka jika pergi dengan penjagaan seperti ini. Tapi sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan keluarga Alexandra, lumayan…dengan ini ia tidak perlu keluar banyak tenaga.
“Setelah selesai rapat, siapkan pesawat. Aku akan melihat rumah sakit baru Mama”
“Baik Nona”
Selena menutup laptopnya ketika pekerjaannya sudah selesai terlaksana. Hahhhh…kuliah ditambah mengurus perusahaan dan kamp utama, rasanya benar-bnar melelahkan. Tapi entah kenapa, ia tak bisa mengeluh meskipun ia sangat ingin melakukannya.
“Jika anda lelah biar saya yang menghadiri rapatnya, anda bilang langsung terbang ke Sydney”
“Tak masalah, aku bisa istirahat nanti. Lebih cepat lebih baik”
.**********
Joe menatap gugup dirinya dalam pantulan cermin, ya tuhan…ia benar-benar gugup hari ini. Pasalnya hari ini ia akan melepaskan status lajangnya dan akan manjadi istri orang. Apa ia bisa menempati posisinya dengan baik? Apa ia bisa menjadi istri yang baik untuk Alex?.
“Gugup ya?” Selena yang berada diambang pintu berujar dengan santainya. Joe yang mendengar suara Selena langsung berdiri dan membalik badannya.
“Wahhhh temanku cantik sekali hari ini…”
“Selena!! Kau semakin membuatku malu!!”
“Hmph, seorang Boss Mafia sepertimu…bisa-bisanya mendapatkan suami seperti Alex. Aku jadi penasaran, bagaimana kencan pertama kalian”
Mendengar ucapan Selena membuat Joe langsung tersipu malu, ia juga tak tau kenapa ia bisa jatuh cinta kepada Alex, mengingat setiap mereka bertemu mereka pasti akan berdebat. Kencan pertama mereka pun, hanya terjadi selama 2 menit karena ia buru-buru pergi karena ada kabar mendadak dari bawahannya.
“Jika sudah siap keluarlah, pengantin priamu sudah menunggu” setelah mengatakannya Selena pergi dari ruang rias meninggalkan Joe yang semakin tersipu.
Selena duduk di tempatnya yang terpat bersebelahan dengan teman-teman wanitanya. Azizah, Melissa dan Merisa menatap hangat Selena yang baru saja kembali.
“Selena…”
“Ada apa, Azizah?”
“Aku hamil”
Puftttttttt!!
Selena langsung menyemburkan teh yang baru saja ia minum mendengar ucapan Azizah. Hah?! Wanita ini hamil lagi?!.
“Kau hamil lagi?!”
“Iya, sudah 2 bulan”
“Kau yang benar saja!! Anakmu yang ke-3 baru berusia 5 bulan Okey?!”
“Hehehe…habisnya Ray keluar didalam” jawab Azizah tanpa dosa sedikitpun diwajahnya.
Selena mengusap kasar wajahnya, haihhhhh…pria satu itu apa tidak bisa memberikan sedikit jeda untuk istrinya istirahat?! Untung saja ia tidak menerima lamaran Said hari itu.
“Suamimu memang gila, seperti suami Melissa”
“Hehehe, jadi kau kapan?” tanya Melissa.
“Apanya?”
“Buat adik untuk Ryu”
“Gila saja!! Tidak akan!! Aku ingin istirahat sejenak sial*n! Kepalaku terasa pecah menangani mereka ber-3!”
“Hahahaha, anak-anak kita lahir diumur yang berdekatan. Semoga mereka tidak berkelahi nanti jika bertemu”
Selena menatap tamu-tamu undangan yang datang, banyak yang datang ke acara pernikahan Joe dan Alex, itu wajar mengingat banyaknya teman Daniel dan juga Alex bahkan teman-teman suaminya ikut datang menggantikan suaminya diacara ini.
“Jika kau menikah lagi, kupastikan acara pernikahanmu…akan jauh lebih megah dari sebelumnya”
“Apa sih?!” kesal Selena menanggapi ucapan Merisa, sudah dibilang ia tidak mau menikah kenapa malah membahas pernikahan? Jika menikahpun ia akan menikah dengan siapa? Mana ada pria yang mau bersamanya.
Selena menunjukan Ibu jarinya ketika Alex menatap keaahnya, Alex yang melihat itu tersenyum. Hari ini ia benar-benar gugup, ia akan melepas status lajangnya sebentar lagi ditambah ada calon Jenderal besar yang menghadiri pernikahannya.
Joe masuk kedalam altar pernikahan didampingi oleh ayahnya, dan itu membuat semua tamu undangan berdiri sejenak lalu kembali duduk. Ray menyerahkan tangan Joe kepada Alex, pasangan itu saling tersenyum hangat satu sama lain. Selena ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Joe dan Alex, tapi entah kenapa…ia merasa iri dengan itu.
Setelah beberapa saat, setelah kedua pasangan itu sudah mengambil sumpah pernikahan…keduanya berciuman. Semua orang bertepuk tangan melihat itu, namun saat Joe hendak melemparkan bunga di tangannya suara anak kecil membuat perhatian semuanya teralihkan.
“Mama!!!!!”
.
.
__ADS_1
.