
.
.
.
Flashback On!
.
.
.
2 brangkar diturunkan dari ambulan yang berbeda. Para tenaga medis yang sudah diberi aba-aba sebelumnya langsung membantu membawa kedua brangkar itu masuk kedalam rumah skait.
Ruvelis dan juga Selena, Ayah dan anak itu kini masing-masing terbaring tak berdaya di brangkar masing-masing dalam keadaan tak sadarkan diri. Ruvelis dan Selena langsung dibawa keUGD disusul oleh beberapa dokter ahli yang diminta untuk datang.
Jenssica dan Micle yang baru datang langsung masuk kedalam UGD. Jenssica berteriak histeris ketika melihat suami serta buah hatinya sama-sama sedang merenggang nyawa secara bersamaan.
“Nara!! Nara!!” ucap Jenssica menghampiri putrinya, keadaan putrinya begitu parah. Sebuah tongkat besi menancap sempurna di dada itu sedangkan suaminya mengalami pendarahan di otak.
“Segera siapkan ruang operasi!! Datangkan dokter bedah dari rumah sakit utama!!” ucap Micle.
Mata Ruvelis dengan perlahan terbuka, mata itu dengan spontan terpejam merasakan sakit yang teramat di kepalanya.
“Jenssica…”
Jenssica mendongkak, memutar kepalanya menatap suaminya yang sadarkan diri. Ia langsung menggenggam tangan kekar suaminya yang dilumuri oleh darah. Ia menagis sesegukan sembari menggenggam tangan besar itu. mata Ruvelis yang lemah menatap kearah putrinya, matanya membulat sempurna melihat hal itu.
“Selamatkan Nara…utamakan Nara…” lirih Ruvelis.
“Pasti…pasti aku akan menyelamatkan kalian berdua…kau tenang saja…kau tak perlu mengkhawatirkan putri kita”
*******
Pintu ruang operasi terbuka, semua orang yang berdiri disepanjang lorong langsung berdiri. Brangkar Ruvelis di dorong keluar dan dimasukan kedalam ICU disusul keluarnya seorang dokter yang sudah cukup berumur.
“Bagimana?! Bagaimana kondisi putra dan cucuku?!” ucap Mikayra.
“Tuan dan Nyonya sekalian…maafkan kami. Dengan berat hati…kami hanya bisa mengatakan bahwa…pasien atas nama Selena. Dinyatakan koma”
Blarrrrrrrr!!!
Semuanya langsung goyah ketika mendengarnya, tubuh Mikayra langsung terduduk di lantai. Deon dengan spontan
langsung membantu Mamanya berdiri. Dokter itu bilang apa tadi? Keponakannya…koma…lagi?.
“Lalu…bagaimana keadaan kakakku?” tanya Jeff.
“Jenderal besar Nami tidak berada dalam kodisi yang baik-baik saja. Kepala bagian belakangnya mengalami keretakan serius, ditambah ada sebuah luka tembak yang menembus hati beliau”
“Tidak!!!! Kau pasti bohong!!! Jangan membual sial*n!!!” teriak Mikayra langsung membuat Zachery mendekat dan menenangkan istrinya.
“Apa…apa yang terjadi kepada cucuku? Kapan dia akan sadar?”
“Saya sangat minta maaf sebelumnya, besi itu tepat menembus jantung Nona Selena. Harus segera dilakukan transplantasi jantung. Jika tidak…pasien tidak akan bisa bangun untuk selamanya”
“Mikayra!! Mikayra!!” ucap Zachery yang melihat istrinya langsung kehilangan kesadarannya.
“Lakukan apapun!! Aku akan bayar berapapun asalkan selamatkan kakak dan keponakanku! Kau bilang butuh transplantasi jantung bukan?! Aku akan carikan orangnya sekarang!” ucap Alexa.
“Jangan bertindak gegabah Alexa!!! Mencari jantung yang cocok bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan!! Percuma kau membunuh ratusan orang jika tidak satu satupun jantung mereka yang cocok pada Selena!!” bentak Jeff.
Tak berselang lama ranjang Selena di dirong keluar. Zachery tak mampu berkata-kata ketika melihat kondisi cucunya, tubuh cucunya dipenuhi alat-alat medis untuk kesekian kalinya dan berada di kondisi antara hidup dan mati.
Zachery menghentikan rajang Selena yang hendak di bawa masuk kedalam lift. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga ccuunya.
“Jangan takut ya sayang…Opa akan melakukan apapun demi kesembuhanmu dan kesembuhan Papamu. Bertahanlah untuk kami semua, matahari kecil Alexandra”
Ranjang Selena kembali di dorong masuk kedalam lift. Jenssica keluar dari ruang operasi dengan kondisi yang acak-acakan.
“Tidak ada yang bisa ku lakukan…tidak ada yang bisa kulakukan…”
“Jenssica” ucap Hendrick.
Janssica mendongkakan kepalanya, menatap pria yang baru saja memanggil namanya. Jenssica berjalan mendekati Hendrick dan langsung mencengkram kerah baju pria itu.
“Kenapa?!! Diantara semua bawahanmu dan bawahan Ruvelis!! Tak adakah satupun diantara mereka yang bisa menangani masalah di perbatasan sampai-sampai kau harus meminta suamiku yang turun tangan?!!”
“Kakak ipar…” ucap Louis.
“Kau diam saja Louis!! Jawab aku Hendrick! Tidakkah diantara kalian semua yang bisa menangani masalah ini?!”
Jenssica menguncang tubuh Hendrick, Hendrick hanya bisa diam. Ia memang bersalah disini. Dan ia pasti akan bertanggung jawab mengenai masalah ini.
“Tahan emosimu Jenssica” Tuan Leonardo yang datang langsung membuat Jenssica melepaskan cengkramannya pada kerah baju Hendrick.
“Ini adalah tugas Ruvelis sebagai seorang Jenderal besar. Ini adalah risiko yang harus diterima, kau tidak bisa menyalahkan Hendrick” ucap Zachery.
“Apa yang mertuamu katakan itu benar. Sudah tugas Ruvelis sebagai Jenderal besar untuk melindungi wilayah kekuasaannya”
__ADS_1
“Jika Papa kesini hanya untuk membela Hendrick. Lebih baik Papa pulang saja”
“Jenssica!”
“Apa?! Suami dan anakku merenggang nyawa hari ini!! Hari ini!! Karena permintaan Hendrick yang meminta suamiku untuk pergi ke perbatasan menangani serangan musuh membuat putriku ikut terkena imbasnya!!”
“Kenapa kau menyalahkan Hendrick atas apa yang menimpa Nara?” tanya Tuan Leonardo.
“Karena Nara adalah anak dari Ruvelis!! Suami dan putriku bagai pinang dibelah dua!! Putriku lebih dekat dan lebih mencintai Papanya daripada Mamanya!! Dengan hubungan mereka yang dekat sampai seperti itu! Bisakah putriku membiarkan Papanya pergi sendirian ke perbatasan?!! Jawab!!” skak Jenssica.
“Lihat saja Hendrick, sampai putriku kenapa-napa lagi. Kupatahkan kaki tanganmu!” sinis Jenssica sebelum masuk kedalam lift.
Zachery menatap horror Jenssica yang baru saja masuk kedalam lift. Sekarang ia tau darimana sifat keras kepala
cucunya berasal. Bisa-bisanya mengancam Hendrick didepan orang-orang kemiliteran. Jika Selena sudah biasa melakukan itu, tapi ini Jenssica!! Wanita yang bisanya terlihat sanggat anggun dan lebih banyak diam tiba-tiba menjelma menjadi Selena.
.
.
.
Jenssica menggenggam tangan suaminya dengan erat sembari meneteskan air matanya. Ia tak bisa…ia tak bisa kehilangan salah satu diantara 2 orang yang paling ia cintai. Suami dan buah hatinya adalah kehidupannya, ia benar-benar tak sanggup jika harus hidup tanpa salah satunya.
“Bangun…bangunlah sayang…Nara membutuhkanmu”
Mata Ruvelis dengan perlahan terbuka, Jenssica yang melihat itu langsung tersenyum senang. Mata Ruvelis mencari kesekeliling, mencari di mana keberadaan putri kecilnya.
“Nara…di mana?”
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit?” tanya Jenssica.
“Nara di mana…aku ingin bertemu dengannya…” parau Ruvelis.
“Nara ada diruangan lain, aku akan panggilkan dokter kemari”
“Bawa…bawa aku bertemu Nara” ucap Ruvelis mencoba bangkit dari tempat tidurnya namun langsung ditahan oleh Jenssica.
“Kondisi kalian berdua tidak memungkinkan untuk bertemu satu sama lain…tunggu keadaanmu pulih dulu. Baru kau bisa bertemu dengan Nara”
“Apa…apa yang terjadi dengan putri kita?” tanya Ruvelis.
Jenssica mencengkram erat selimut suaminya. Tangan Ruvelis bergerak mengusap air mata istrinya, ya tuhan ada apa dengan putrinya sampai-sampai istrinya menangis seperti ini?.
“Nara baik-baik saja bukan? Kau bisa menyelamatkannya bukan?”
“Aku…aku bisa menyelamatkannya. Tapi tidak dengan…jantungnya”
Deghhh!!
“Kau…bilang apa?”
“Nara sekarang koma…Papa mencoba mencari pendonor yang cocok untuk Nara. Tapi setelah mendapatkan beberapa orang, tidak ada satupun diantara mereka yang jantungnya cocok dengan Nara. Aku harus apa…aku harus apa…?”
“Sayang…dengarkan aku…tidak akan ada jantung yang cocok untuk Nara selain keluarganya. Jadi…biarkan jantungku yang mengantikannya…” ucap Ruvelis meneteskan air matanya. Putrinya harus hidup, mataharinya harus tetap bersinar. Nyawa putrinya lebih penting daripada apapun.
“Tidak! Tidak!! Aku yakin pasti akan ada cara lain menyelamatkan Nara!! Kau harus tetap hidup!! Nara membutuhkanmu. Aku tak bisa membiarkanmu kenapa-napa!”
“Jenssica…”
“Kau diam!! Jangan bicara lagi!! Aku benci jika kau mengucapkan hal-hal seperti itu lagi! Aku benci!” ucap Jenssica.
“Aku juga tidak ingin…aku ingin terus menemani Nara…tapi tak pa jika nyawaku bisa digantikan dengan nyawanya. Hidupnya lebih berarti daripada hidupku…”
“Cukup Ruvelis!! Pasti ada cara lain untuk membuat putri kita tetap hidup!! Sudahlah, aku akan lihat keadaan Nara sekarang” ucap Jenssica pergi meninggalkan suaminya sendirian.
Ruvelis menatap kearah jendela. Menatap burung-burung indah yang terbang bebas diluar sana, seharusnya masa kecilnya penuh akan kebebasan. Namun masa kecil putrinya malah penuh dengan larangan seperti burung dalam sangkar emas.
Ruvelis memeganggi dadanya, ia ingin terus hidup…ia ingin terus hidup untuk putrinya. Ia adalah batu pijakan bagi putrinya, jika ia tidak ada…maka putrinya pasti akan mengalami kesulitan kedepannya, ia ingin sembuh. Ia ingin terus bersama dengan putrinya…
“Maaf sayang…”
Ruvelis menekan tombol disamping tempat tidurnya membuat beberapa dokter masuk kedalam ruangan itu. Ruvelis melambaikan tangannya ketika melihat Hendrick dan Rafindra didepan pintu. Hendrick dan Rafindra masuk kedalam ruangan Ruvelis.
“Tinggalkan kami sendiri…” ucap Ruvelis kepada dokter-dokter itu. Mereka mengangguk dan meninggalkan Ruvelis bersama dengan Hendrick dan juga Rafindra.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hendrick mendekatkan wajahnya pada Ruvelis.
“Keadaanku sudah tidak baik-baik saja…jika kondisiku seperti ini…itu hanya akan menyulitkanmu dalam bertugas…berikan jantungku kepada putriku…itu cara satu-satunya untuk menyelamatkannya”
“Tidak! Pasti ada cara lain! Aku akan terus mencari orang yang mempunyai jantung yang cocok dengan Selena. Kau tak harus melakukan ini”
“Siapa…? Selain keluarga Alexandra, Leonardo, dan juga Jasson…siapa yang punya darah yang sama dengan putriku?”
“Pasti ada cara lain Ruvelis! Tolong jangan berpikiran dangkal seperti ini! Kau akan menghancurkan masa depan putrimu jika melakukan hal ini?!”
“Aku tau…tapi Nara adalah hidupku…aku mencintainya lebih dari siapapun…dia punya banyak Papa…meskipun kematianku akan menjadi pukulan yang besar untuknya tak pa. Karena dia akan menjadi anak yang kuat dengan itu”
“Anda tidak boleh seperti ini Jenderal besar…”
“Tuhan mengabulkan keinginanku untuk memiliki seorang putri disaat istriku sudah di vonis tidak akan bisa mengandung. Apa yang lebih membahagiakan daripada itu? Sekarang tuhan menghukumku karena aku tidak bisa menjaga dengan baik apa yang dititipkannya kepadaku…tubuhku sudah tidak baik-baik saja. Aku mengalami pendarahan otak…kehidupan putriku lebih penting untuk sekarang…masa depan keluarga Alexandra ada padanya…masa depan kemiliteran melekat padanya. Jadi…jaga putriku untukku ya?” ucap Ruvelis sembari tersenyum.
__ADS_1
Hendrick menggigit bibir bawahnya ketika melihat senyuman sahabatnya itu. Lagi-lagi senyuman itu. Senyuman yang tidak bisa membuatnya mengatakan tidak. Tapi ia tidak bisa melakukannya, ia ingin Ayah dan anak ini terus hidup. Ia tak ingin sesuatu terjadi kepada keduanya.
“Aku akan menjaga putrimu…tapi dengan syarat…”
“Katakan apa itu, tapi setelah mengatakannya. Lakukan operasinya segera ya”
“…”
Setelah berpikir sesaat Hendrick menganggukkan kepalanya, ia pasti akan menyelamatkan keduanya appaun yang terjadi.
Rafindra hanya mampu diam sembari menggigit bibir bawahnya. Tidak rela, ia tidak rela jika Tuannya pergi meninggalkan Nonanya dengan cara seperti ini.
Ruvelis menggenggam tangan Rafindra yang mengepal membuat pria itu langsung tersadar, Ruvelis tersenyum kepada bawahannya itu. Rafindra adalah salah satu bawahan yang sangat ia andalkan selain X.
“Banyak keinginan yang ingin kuwujudkan sebelum kematianku Rafindra. Salah satunya adalah mengantarkan putriku kepada pria yang tepat untuknya. Aku ingin melihat putriku tumbuh dewasa, menggapai cita-citanya dan menikahkannya dengan orang yang menjadi pilihannya. Tapi aku tau jika itu tidak mungkin bisa kulakukan, jadi…gantikan aku sebagai Walinya ya”
“Anda tidak boleh bicara seperti itu Tuan…saya tidak pantas, anda lah yang pantas mengantakan Nona kepada calon suaminya. Saya tidak pantas…”
“Kau…adalah Ayah kedua bagi putriku Rafindra…bantulah dia kedepannya, gantikan aku sebagai batu pijakannya…”
“Saya tak mungkin bisa Jenderal…saya tak mungkin bisa menggantikan anda…”
*********
3 hari kemudian…
Operasi Selena dilaksanakan, Ruvelis dan Selena bersamaan masuk kedalam ruang operasi. Mikayra dan Jenssica tak henti-hentinya menangis didepan ruang operasi. Tak ada yang mampu menahan air matanya, hari ini mereka akan melepaskan satu orang demi kehidupan yang baru.
Tuan Leonardo memeluk putrinya, Jenssica menangis histeris di pelukan sang Papa. Hari ini, ia harus kehilangan suaminya ia tak tau harus senang atau bahagia karena jantung suaminya dinyatakan cocok dengan putrinya. Ia benar-benar merasa tidak berguna hari ini. Jika saja jantungnya cocok dengan putrinya dengan segera ia akan mendonorkan jantungnya sehingga suaminya tak perlu melakukan ini.
“Ya tuhan putraku Ruvelis…”
Zachery memeluk istrinya, mencoba menenangkan istrinya. Ini sudah menjadi keputusan putra sulungnya, dan tak ada satupun orang selain cucunya yang bisa mengubah keputusan Ruvelis.
“Ini pilihan Ruvelis…kita harus bisa menghormati keputusannya walaupun menyakitkan”
“Aku tidak bisa sayang…Ruvelis putraku…putra kebangganku” ucap Mikayra.
“Tapi ini demi cucumu, Nara”
Mikayra semakin tak mampu menahan tangisnya. Ruvelis adalah putra kebanggannya, sedangkan Naranya adalah malaikat dalam hidupnya. Naranya adalah matahari kecil keluarganya, membuat keluarga Alexandra yang sebelumnya benar-benar kejam terhadap siapapun mulai memperhatikan segala tindakan yang dilakukan agar Naranya tidak terjerumus kedalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Rafindra dan Hendrick hanya bisa diam menyaksikan pemandangan menyedihkan dihadapan mereka ini. Sekarang mereka hanya bisa berharap semoga operasi bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya kesalahan didalamnya.
.
.
.
Pukul 02.00 PM keadaan mulai menjadi kacau, sudah 7 jam lamanya Ruvelis dan Selena berada diruang operasi. Tak ada tanda-tanda dokter akan segera menyelesaikan operasinya. Berulang kali, dokter-dokter yang berbeda bergiliran masuk dan keluar dari ruang operasi.
“Ya tuhan…kenapa lama sekali?”
Wajah Jenssica mulai memucat, pikiran buruk semakin menghantuinya. Operasinya lebih lama daripada operasi pada umumnya, apa sesuatu sudah terjadi didalam sana? Apa putrinya baik-baik saja? Apa tubuh putrinya menerima dengan baik jantung suaminya?.
Tak berselang lama lampu ruang operasi berwarna hijau membuat semua orang langsung berdiri dari tempat duduknya. Seorang dokter wanita keluar dan tersenyum kepada semuanya.
“Selamat, transpantasi jantung berjalan dengan baik” ucapnya.
Tubuh Mikayra langsung terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Rasa bahagia dan terpukul bercampur menjadi satu didalam dadanya.
“Tapi…”
“Tapi apa?!” tanya semuanya secara serempak.
“Karena Nona Alexandra masih terlalu kecil untuk menjalani operasi transplantasi jantung ini dan jantung yang didonorkan juga memiliki ukuran yang berbeda. Dengan berat hati kami mohon maaf, kami belum tau kapan Nona Alexandra akan sadar”
Para Alexandra langsung terduduk lemas di lantai begitupun dengan Jenssica. Wajah orang-orang disana seketika memucat bagaikan seorang mayat.
“Namun maslah itu mungkin bisa diatasi dengan pengobatan yang akan dilakukan kedepannya. Jantung baru ini juga akan menimbulkan risiko yang cukup serius ditubuh penerimanya”
“Tidak!!!! Tidak!!!!” teriak Mikayra langsung membuat Zachery memeluk istrinya.
“Lakukan yang terbaik! Lakukan segala pengobatan yang bisa kalian lakukan dan sembuhkan cucuku!”
“Kami menerima perintah anda Tuan besar”
>>>>>>>>
Mikayra dan Jenssica memeluk erat tubuh Ruvelis yang sudah tak bernyawa sembari menangis sesegukan.
“Kau putraku yang paling hebat…kau putra kebangganku Ruvelis…Selamat jalan. Nirwana menunggumu” batin Zachery meneteskan air matanya menyaksikan kematian anaknya untuk yang ke-3 kalinya.
“Jaga adik kembarmu disana ya sayang…kau putra Mama yang paling hebat. Mama bangga kepadamu” ucap Mikayra sembari menciumi pipi putranya.
“Sayang…jangan tinggalkan aku sendirian seperti ini…Nara membutuhkanmu. Bagaimana aku menjelaskan ini kepadanya saat dia bangun nanti?”
Tuan Leonardo memeluk putrinya dari belakang. Menantunya mengambil keputusan yang besar, mengorbankan nyawanya demi putri tercintanya dan itu juga akan menghancurkan masa depan cerah cucu tunggalnya.
.
__ADS_1
.
.