
.
.
.
Daniel yang baru saja selesai latihan menatap Selena yang masih sibuk berkutik dengan beberapa berkas di atas meja. Ini sudah pukul 10 malam, apa Selena tidak lelah terus menerus duduk disana? Apa pinggang gadis itu baik-baik saja? Ditambah Ryu sudah mulai aktif membuat sang Mama kerepotan.
“Ingin bicara apa Daniel?”
“Selesaikan itu, aku akan mandi lalu aku akan memijat bahumu. Aku tau kau lelah”
“Kau peka” jawab Selena sembari tersenyum. 1 minggu terakhir anaknya benar-benar aktif membuatnya tidak bisa tidur karena terus bergerak, tapi ia beruntung karena Micle dan Daniel ada disini. Jika kedua pria itu tidak ikut bersamanya kemari ia tidak bisa membayangkan betapa paniknya paman-pamannya saat menghadapi hal
seperti ini.
“Lusa aku akan ke A.S, menemui Assistant milik Papa. Mau ikut?” tanya Selena.
“Ke A.S? Dapat izin dari Tuan besar?”
“Ya, Opa mengizinkan. Jadi kau mau ikut? Jika kau tidak ikut aku akan meninggalkan William bersamamu disini”
“Saya ikut anda!” jawab William secara spontan.
“Yakin kau mau ikut? Oh, apa kau mau bertemu dengan Hans?” tanya Selena.
“Ti-tidak”
“Jadi, bagaimana Daniel?”
“Hmmmm…aku ikut saja. Kau pasti merindukan suamimu ya?” ucap Daniel.
“Ya begitulah, dan juga…sepertinya Ryu juga merindukan Papanya. Dia mulai memberontak didalam perutku, lihat lihat lihat. Hei nak, apa jika sudah besar kau ingin menjadi seorang pemain sepak bola? Apa kau sedang membuat lapangan bermain didalam perut Mama?”
Daniel yang melihat Selena tengah menatap kesal perutnya tersenyum, ia menghampiri Selena dan berjongkok didepan gadis itu dan meletakkan tangannya diperut buncit Selena.
“Hei…Ryu. Tidak ingat ya pesan Paman Daniel? Paman kan sudah bilang, jangan nakal didalam perut Mamanya. Ryu tidak kasihan lihat Mamanya kesakitan begini? Patuh dulu ya sayang dengan Mamanya, kan lusa Ryu bisa ketemu Papanya…”
“Hei!!! Kau ini tidak suka dengan Mama atau bagaimana?! Kenapa kau patuh dengan Daniel!? Mamamu itu aku atau dia?!” kesal Selena.
Daniel tertawa lucu melihat kekesalan diwajah Selena, lucunya…bagaimana Leo tidak cinta mati dengan Selena jika Selena mengemaskan begini.
“Sudah…jangan memarahi Ryu terus. Kau mau apa hm?”
“Boleh makan ice cream? Aku juga ingin sandwich tuna dan ayam pedas manis”
“Kau ini kelaparan ya? Siapa suruh tadi hanya makan pudding dan roti coklat saat dinner”
“Kan belum lapar tadi” jawab Selena memajukan bibirnya.
Daniel hanya tersenyum dan berdiri, ia keluar dari ruang kerja Selena untuk membersihkan diri sekaligus menyiapkan pesanan Selena. Ini pertama kalinya dalam 3 bulan Selena mau makan lebih dari satu menu.
“Nona besar, Dion mengirim informasi baru”
“Apa isinya?”
“Nona Bellina sudah melahirkan”
Tubuh William seketika itu juga menegang, a-apa? Bellina sudah melahirkan? Pewaris keluarga Georgino sudah lahir? Itu berarti…beberapa minggu lagi Hans dan Bellina akan menikah?.
“Benarkah? Wahhh, laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki”
Sudut bibir Selena terangkat, Selena mengetuk meja menggunakan jari manisnya membuat William dengan spontan maju kehadapan Selena.
“Hubunggi salah satu bawahanmu, minta mereka menyiapkan hadiah”
“A-anda…”
“Hadiah dimulainya peperangan abadi”
Glek…
Rafindra, Wei, dan William langsung menelan ludah dengan kasar. Selena mengibaskan tangannya meminta Wei dan William keluar, kedua pria itu keluar meninggalkan Selena bersama dengan Rafindra.
“Keluarga Georgino belum curiga?”
“Belum Nona, mereka belum mencurigai adanya mata-mata anda didalam keluarganya”
“Aku akan mengambil beberapa bawahan milik Tuan Deon, bisa bantu aku memilihnya?”
“Saya akan menjalankan perintah anda”
“Paman bisa kembali dan beristirahat, aku akan tidur setelah makan”
“Baik, Selamat malam Nona besar”
“Malam juga untuk Paman”
Rafindra keluar dari ruangan itu, dan tak berselang lama Daniel masuk membawakan makanan milik Selena. Selena segera membereskan berkas-berkasnya.
“Setelah makan, istirahat. Ada yang perlu dibawa lusa?”
“Hmmmm aku sudah meminta Paman Raf menyiapkan hal yang kuperlukan untuk lusa. Lagipula besoknya langsung kembali ke sini”
“Hanya satu hari saja disana?” tanya Daniel, ia pikir mereka akan menetep selama beberapa hari di A.S.
“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku disini, kamp sudah mulai terkendali. Jika tiba-tiba aku disana selama beberapa hari bisa kacau lagi”
“Memang ya, kau memegang teguh tanggung jawabmu sebagai Jenderal muda”
“Tnggung jawab adalah suami ke-2 ku”
Daniel terkekeh pelan mendengar ucapan Selena, wahhhh sekarang Leo benar-benar punya saingan terberatnya.
“Lalu Leo suamimu yang keberapa?”
“4, 1 senjata, 2 tanggung jawab, 3 prinsip/ucapan, 4 baru Leo” jawab Selena sembari tertawa membuat Daniel ikut tertawa dibuatnya.
Selena memakan makanan yang dibuatkan Daniel, ya tuhan…ia benar-benar ingin menangis. Masakan Daniel benar-benar mengingatkannya kepada masakan Leo dan juga Papanya.
“Hei hei hei, kenapa menangis? Apa ada yang sakit? Apa perutmu keram lagi?” tanya Daniel dengan panik ketika melihat air mata keluar dari sudut mata Selena.
“Ah tidak, aku hanya teringat Papa. Masakanmu benar-benar mirip dengan masakan buatan Papa”
“Ya tuhan, kupikir perutmu keram lagi. Kau bisa membuatku mati ketakutan”ucap Daniel.
Daniel menghapus air mata yang mengalir hingga dahu Selena, jika Selena memang menyukai masakannya...ia akan terus memasak untuk Selena.
“Sudah jangan menangis lagi, ayo habiskan. Mau pudding buah tidak? Aku tadi buat, mungkin sudah dingin sekarang”
“Mau!!”
“Akan kuambilkan”
.
.
__ADS_1
.
Leo menatap hambar makanan dihadapannya, lagi-lagi bubur…ia ingin makan masakan buatan istrinya. Ia tidak ingin makan ini lagi.
Math menatap Tuan mudanya yang hanya memandangi bubur yang disiapkan dokter. Tuan mudanya masih belum punya selera untuk makan?.
“Tuan muda? Buburnya akan menjadi dingin, anda harus memakannya dan meminum obat”
“Bawa ini pergi, aku tak ingin makan ini lagi” ucap Leo.
“Tapi anda harus minum obat, jika anda terus seperti ini anda akan terus dirumah sakit dan tidak diperbolehkan keluar oleh Tuan Bei”
Wajah Leo seketika berubah menjadi masam, ia tidak ingin makan ini. Tapi ia ingin cepat sembuh, jika sampai istrinya pulang dan melihatnya dalam kondisi seperti ini. Istrinya pasti akan marah besar.
“Tuan! Pesawat Nyonya dikabarkan akan mendarat sebentar lagi! Bawahan milik Tuan Wei sudah berjaga dibandara!”
Sekretaris wanita Leo masuk secara tiba-tiba membuat Leo dan Math tersentak kaget. Raut wajah Leo berubah dratis, istrinya pulang?! Istrinya kembali hari ini?!.
“Kau serius?! Istriku pulang hari ini?!” ucap Leo.
“Benar Tuan, Jenderal Asahi menghubungi saya. Nyonya kembali bersama dengan Tuan muda Jasson”
Leo buru-buru melepaskan infusnya membuat kedua tangan kanannya tersentak kaget, Leo turun dari tenmpat tidur dan masuk kedalam kamar mandi.
“Ke-kemarin kan Tu-tuan muda ti-tidak bisa jalan…se-sekarang ma-mandi?” ucap Math tak percaya. Apa kabar kepulangan Nyonyanya begitu ajaib sampai-sampai membuat Tuan mudanya seperti ini?.
Beberapa saat kemudian Leo sudah siap dengan pakaian yang formal seperti biasa.
“Tuan muda tapi…a-anda baru saja membaik…le-lebih baik anda beristirahat terlebih dulu”
“Tidak! Istri tercintaku akan kembali hari ini, dan aku tidak ingin melewatkan sedetikpun. Ingat! Jaga mulutmu!”
Leo keluar dari ruang rawatnya membuat kedua tangan kanan itu kebingungan sendiri, Bei yang baru saja keluar dari ruangannya terkejut mendapati Leo yang sudah berkeliaran di jam ini.
“Kau mau kemana? Baru pulih sudah mau bekerja lagi?”
“Bertemu dengan istriku!”
“Jangan bercanda! Adik ipar sedang di kamp utama, jangan berhalusinasi karena obatmu”
“Ah! Tutup mulutmu!” kesal Leo masuk kedalam lift.
*******
Leo menatap senang sebuah pesawat yang mendarat, dengan langkah panjang ia menghampiri pesawat itu, menunggu istrinya untuk turun.
Tak berselang lama Daniel keluar, Daniel yang melihat Leo langsung bergegas turun dan menjabat tangan pria itu.
“Bagaimana keadaanmu disana Daniel?” tanya Leo.
“Baik, bagaimana keadaanmu disini? Kau baik-baik saja? Kau jauh lebih kurus dari sebelumnya”
“Efek tidak dirawat istri” jawab Leo.
“Oh ya, di mana istriku?”
“Leo?”
“Selamat datang Jenderal muda, kami memberi hormat kepada anda” semua bodyguard membungkuk hormta ketika melihat Selena keluar dari pesawat.
Selena menuruni anak tangga dengan terburu-buru dan langsung berhambur memeluk suaminya. Leo memeluk istrinya dengan erat, melepaskan kerinduan yang tertahan selama beberapa bulan.
“Aku merindukanmu…sangat merindukanmu” ucap Selena.
“Aku lebih merindukanmu sayang, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja bukan?” ucap Leo seraya merangkup kedua pipi chubby sitrinya. Ya tuhan…istrinya sangat mengemaskan. Dan lihat perut buncit itu.
“Hei hei, kenapa sedih begini? Sudah, ayo pulang. Disini panas, kita lanjutkan di rumah”
Leo menggendong istrinya membuat Math dan rekannya tersentak kaget, Math langsung menghampiri Leo dan Selena.
“Tuan muda…”
“Pergi sana, urus perusahaan. Hari ini aku minta cuti, titik”
Leo melewati tangan kanannya, langsung menuju mobil meninggalkan Daniel yang masih berada di area lepas landas. Yahhhh ditinggalkan.
Saat sudah sampai didalam penthouse Leo menciumi seluruh permukaan wajah istrinya, Selena hanya bisa tertawa melihat respons suaminya yang seperti ini.
“Kau jauh lebih kurus dari sebelumnya, kenapa? Sakit apa?”
“Tidak sakit apa-apa, ini efek karena tidak diurus olehmu. Sayang…aku sangat merindukanmu. Berikan aku ciuman”
Leo mencium bibir istrinya, Selena mengerutkan keningnya. Lidah suaminya…kenapa terasa pahit seperti ini? Suaminya minum obat apa sampai-sampai pahit seperti ini?.
“Hah…”
Leo menatap perut istrinya yang membuncit, ia tersenyum lalu berjongkok didepan istrinya…mencium lama perut buncit itu dan membelainya dengan lembut.
“Ryu…Ryu rindu Papa tidak?”
Dught!
“Ouch!”
“A-ada apa?! Mana yang sakit sayang?”
“Ba-bayinya menendangku lagi…” ucap Selena mencekram lengan baju suaminya dengan erat. Ya tuhan…tendangan yang keras…
Leo segera menggendong istrinya dan mendudukannya di sofa, ia melepaskan sepatu istrinya menatap kedua kaki yang membengkak. Ahhhh…apa semenjak hamil kaki istrinya membengkak seperti ini?
“Maaf…maaf aku tidak ada disisimu” ucap Leo menundukan kepalanya.
“Hei, tak masalah. Kenapa sedih begini? Ini hal yang wajar, perutku mulai membesar. Jadi wajar jika kakiku membengkak”
“Apa ini selalu terjadi?”
“Ya, tapi Daniel selalu memijatnya setiap malam. Jadi aku bisa berjalan di pagi hari”
“Maafkan aku, apa ini menyakitkan? Ya tuhan…ini 2x lipat dari ukuran normal kakimu”
“Leo!! Kau mengejekku!!!”
Leo hanya tertawa mendengar kekesalan istrinya, ia berdiri dan membuka laci. Mengeluarkan sebotol minyak dan mulai memijat kaki istrinya.
Selena tersenyum lembut ketika melihat suaminya yang tengah terfokus kepada kakinya. Pria yang selalu ia rindukan setiap harinya berada dihadapannya, ia dengan lembut membelai perutnya.
“Ryu…sekarang Ryu senang hm? Ryu bisa bertemu dengan Papa sekarang”
Leo mendongkkan kepalanya dan menatap istrinya, ia menyentuh perut buncit itu.
“Oh, jadi kau membuat Mamamu kesusahaan saat Papa tidak ada huh? Ryu jadi anak nakal sekarang?”
Selena mengulurkan tangannya, merangkup kedua pipi suaminya yang menirus. Ughhh…apa suaminya marah kepada bayinya sekarang? Entah kenapa ia menyukai suaminya yang sedang marah seperti ini.
Leo memajukan bibirnya, ia memeluk tubuh istrinya dengan erat dan membaringkannya. Ia mencium dahi, pipi, dan juga bibir istrinya dengan lembut. Tangannya tanpa sengaja menyentuh bekas luka yang tertutupi oleh rambut.
“Bekas luka? Bekas lupa apa ini sayang?” tanya Leo menatap intens bekas luka yang terdapat pada leher istrinya. Ini seperti bekas luka baru, ia belum pernah melihat bekas luka ini sebelumnya.
“Oh? Sepertinya ini bekas luka karena pedang 1 bulan lalu”
__ADS_1
“Pedang? Kau main pedang lagi?” tanya Leo seraya mengerutkan kening.
“Yah, sepertinya aku tak sengaja menggoresnya sendiri saat melatih Daniel. Jelek ya? Nanti kutemui Micle untuk menghilangkannya” ucap Selena memeluk erat tubuh Leo.
“Sayang…?” ucap Selena ketika melihat wajah masam suaminya. Duh, sepertinya ia membuat mood suaminya menurun dipagi hari seperti ini.
“Hei hei hei, jangan marah dong…kan sudah biasa luka juga. Jangan marah ya, aku tidak akan mengulanginya lain kali”
Selena menciumi wajah rupawan suaminya, lama hingga wajah yang semula begitu dingin itu menghangat seperti sedia kala. Leo menghembuskan nafasnya dan menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
“Curang…” ucap Leo, istrinya tau ia paling tidak tahan jika istrinya sudah menggunakan jurus jitu ini kepadanya. Inilah kenapa ia jarang bisa meledakkan amarahnya didepan wanita yang sangat ia cintai ini.
“Hehe…lapar tidak? Mau makan sesuatu”
“Makan kau saja bagaimana? Aku sudah berpuasa hampir 4 bulan…aku ingin buka puasa sekarang” Leo mulai menarik ikatan yang ada di bahu istrinya
“No…”
“Come on…”
Tok tok tok…
Selena segera mendorong tubuh suaminya dan berlari kearah pintu sesekali memutar kepala menjulurkan lidah mengejek suaminya. Leo berdecap kesal, siapa yang mengganggu dipagi hari seperti ini?.
“Ya siapa?”
2 orang pria berdiri didepan pintu apartement Leo dengan nafas yang tersengal-sengal dan keringat yang mengalir deras dari dahi mereka.
“Rey?! Aiden?! Kapan kalian kemari?! Sayang!! Coba lihat siapa yang datang! Ayo masuk, aku siapkan minuman dulu”
Leo menghampiri istrinya, ia terkejut mendapati 2 orang yang tiba-tiba muncul entah darimana. Kapan mereka datang kemari? Dan bagaimana bisa kedua orang ini tau lokasi baru penthousenya?.
Ray mencekal tangan Selena yang hendak pergi, ia menarik Selena kedalam pelukannya membuat Leo seketika membulatkan matanya dan melipat kedua tangannya. Oh, pria ini mau mati?.
“Ray, ada apa?”
“Bagaimana keadaanmu? Lewis bilang kau masuk rumah sakit karena kecelakaan? Mana yang terluka? Bagaimana anakmu? Baik-baik saja?”
“Ha? Kecelakaan? Kecelakaan apa?”
“Ha? Lewis bilang kau jatuh dari kuda saat latihan…”
“Hahaha, lalu kalian berdua percaya? Ayolah…aku sedang hamil, mana mungkin Opa membiarkanku naik kuda”
Ray dan Aiden blank, jadi Lewis menipu mereka?! Mereka jauh-jauh dari Negara mereka kemari hanya untuk penipuan ini?! Dan kenapa mereka bisa sebodoh itu ditipu oleh Lewis?!.
Leo menahan tawanya melihat kebodohan dua anak sultan ini, ayolah…apa Tuan besar Alexandra akan membiarkan cucu kesayangannya mengalami kecerobohan yang tidak di inginkan seperti itu?.
“Sudah, ayo masuk dulu. Sudah jauh-jauh datang masa langsung pergi lagi? Kita bicara sebentar, dan…mana istri kalian? Kalian tidak membawa istri kalian?”
“Ahhhh…karena terlalu panik aku tidak sempat menghubungi Azizah saat kemari. Nanti saja ya, kau telfon…aku menginap disini”
Selena yang mendengarnya tentu kebingungan, kedua orang ini ingin menginap tapi tidak mau meminta izin kepada istri mereka jika ingin menginap? Dan ia yang harus menelfon kedua istri sultan ini?.
“Tidak ada menginap menginap disini, pesan hotel sebelah jika ingin tinggal” dingin Leo.
“Leo…ayolah…aku ingin berbincang banyak dengan istrimu”
Selena tertawa melihat perdebatan konyolsuami dan kedua sahabatnya, namun beberapa saat kemudian ekspresinya langsung berubah drastis. Tangannya dengan gemetar menyentuh perut buncitnya.
“Le-leo…”
Panggilan Selena langsung membuat Leo terfokus kepada sang istri. Wajah Leo seketika pucat melihat tubuh istrinya yang gemetar sembari memegang perutnya.
“Ke-keram…pe-perutku keram…”
Leo yang mendengar itu langsung menggendong istrinya dan pergi bersama dengan Ray dan juga Aiden. Saat sampai dirumah sakit Leo dengan panik memanggil Bei dan juga Alex.
Bei keluar dari ruangannya dan menghampiri sumber keributan, ia tersentak kaget ketika melihat Leo yang tengah panik sembari menggendong Selena.
“Adik ipar?!”
“Bei, istriku bilang perutnya keram. Tolong periksa dia” ucap Leo langsung memberikan istrinya kepada Bei.
“Alex, minta dokter Cila keruanganku”
“Ya”
Leo menunggu dengan cemas didepan UGD, Ray menepuk bahu Leo mencoba menenangkan pria itu. Istrinya bilang keram saat hamil adalah hal yang wajar terjadi, tapi ia juga panik jika istrinya mengalami keram saat mengandung.
“Daniel? Kenapa kau ada disini?” tanya Aiden.
“Hm? Aiden? Kau disini juga ternyata, aku kemari untuk mengambil berkas keuangan rumah sakit. Dan Leo, kenapa kau disini?”
“Daniel…istriku mengalmi keram diperutnya, apa…itu akan baik-baik saja”
“Hah?! Kau bilang apa?! Selena keram lagi?!!”
“Keram lagi?! Maksudmu?!”
Bei keluar dari UGD bersama dengan seorang dokter wanita disampingnya membuat Leo langsung berdiri dari tempat duduknya begitupun dengan Rey dan juga Aiden.
“Bagaimana keadaan istriku? Dia baik-baik saja bukan?”
“Istrimu baik-baik saja, dia hanya mengalami keram. Tapi tolong usahakan untuk tidak terjadi lagi, terlalu sering keram bisa membahayakan janin dikandungannya”
Leo langsung menghembuskan nafasnya lega, syukurlah jika istrinya baik-baik saja. Ia benar-benar tidak akan bisa berpikir jernih jika sampai sesuatu terjadi kepada istrinya.
Selena keluar dari UGD menghampiri suaminya, Leo memeluk pinggang istrinya dan mencium lama kening istrinya.
“Kau membuatku sangat khawatir”
“Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku akan menjaga anak kita dengan baik” jawab Selena seraya mencium pipi suaminya.
“Hari ini, tumben Tuan Rafindra tidak ikut. Di mana dia?” tanya Ray. Tumben sekali pria itu tidak berada di samping Selena, apa pria itu menempatkan orang lain di samping Selena?.
“Paman ikut kemari, hanya berbeda pesawat dan jam terbang denganku. Seharusnya 2 jam lagi pesawatnya sampai, semoga Paman tidak lupa membawa berkas diatas mejaku”
“Sudah, nanti lagi bicaranya. Sekarang ayo pulang, kau harus istirahat”
“Tuan dan Nyonya, saat izin undur diri terlebih dulu” dokter wanita disamping Bei membungkuk hormat.
“Kau mau kemana? Baru saja aku ingin memintamu pergi bersama dengan Leo”
“Ah? Ada tugas untuk saya?”
“Ya, selama disini. Kau yang menjaga kandungan Selena, aku harus disini dengan Alex untuk melakukan beberapa operasi besar”
“Baik, saya akan pergi bersama Nyonya. Tapi izinkan saya melihat kondisi Tuan Hansel terlebih dulu”
“Hansel?” ucap Selena, Leo, Daniel, Ray, dan Aiden sembari mengerutkan kening.
“Ah, ini…putra Tuan Hans yang baru kemarin lahir”
.
.
.
__ADS_1