
.
.
.
Selena bangun dari tidurnya. Menatap tempat tidurnya yang kosong, di mana suaminya?. Selena turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai.
“Yahhhh robek…”
Selena masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia keluar dari kamar untuk pergi ke kampusnya. Ia heran dengan rumahnya yang tiba-tiba menjadi sepi, di mana para bodyguard dan Bibi Na?.
Lama menunggu di halte bus mobil Joe akhirnya berhenti didepan Selena. Selena langsung masuk kedalam mobil sport itu, Joe langsung menyentir menuju kampus.
Namun saat ditengah perjalanan Selena meminta Joe untuk menghentikan mobilnya. Selena menatap mobil suaminya sedang terparkir didepan sebuah kastil tua dengan penjagaan yang begitu ketat. Apa suaminya ada didalam sana?.
“Joe, kau ke kampus duluan saja. Aku ingin bertemu dengan Hans dulu”
“Owh, Okey…”
Selena turun dari mobil Joe. Joe mengemudikan mobilnya menjauh dari Selena, Selena memakai maskernya dan masuk kedalam kastil itu tanpa adanya penahanan oleh para bodyguard.
Selena membuka maskernya, menatap kastil yang begitu dipadati oleh orang-orang. Ada acara apa disini?.
Degh!
Mata Selena membulat, wajahnya memucat, tubuhnya juga bergetar melihat suaminya sedang berdiri diatas sana dengan seorang wanita cantik didepannya.
Hans memasangkan cincin di jari wanita itu membuat air mata Selena langsung menetes.
“Nyonya muda?! Bagaimana bisa anda disini?!” bodyguard berseru keras karena terkejut membuat Hans yang sedang berdiri diatas sana langsung menatap kearah pintu.
Selena menggigit bibir bawahnya dan langsung berlari keluar dari kastil tua itu membuat Hans langsung berlari mengejar membuat tamu-tamu langsung berbisik-bisik.
Selena menangis dan berlari kearah jalan raya.
“Selena!!! Berhenti!!! Dengarkan penjelasanku dulu!!! Kumohon!! Berhentilah!!” teriak Hans.
Selena tak memperdulikan teriakan Hans. Hatinya benar-benar sakit. Pantas rumahnya begitu sepi ternyata semuanya sedang menghadiri acara pertunangan suaminya.
“Sayang!! Kumohon berhenti!!! Dengarkan penjelasanku!!! Sayang!! Please!!” sekali lagi Hans berteriak meminta agar istrinya berhenti berlari.
Saat tengah menyebrang sebuah mobil dengan kecepatan diatas rata-rata melaju kearah Selena.
Brakkkk!!!!
“Selena!!!!!!’
“Nyonya muda!!!!!’
Tabrakan tak terhindarkan, tubuh Selena terhempas jauh dari posisinya semula. Wajah Hans memucat, ia langsung berlari menghampiri istrinya yang terkapar ditengah jalan. Sedangkan para bodyguard ikut menghampiri Nyonya muda mereka, salah satu diantara mereka dengan cepat langsung menghubunggi ambulance.
Hans memeluk istrinya yang sudah bersimbah darah sembari menangis sesegukan. Ia menepuk pipi istrinya berulang kali mencoba membuat istrinya mendapatkan kesadarannya.
“Selena…sayang…buka matamu, kumohon…”
Kelopak mata Selena yang sebelumnya tertutup terbuka dengan perlahan.
“Nyonya muda, pertahankan kesadaran anda. Ambulance akan datang sebentar lagi” salah satu bodyguard berbicara dengan nada panik. Ia benar-benar takut jika sampai Nyonya mudanya kenapa-napa.
Dengan tangan gemetar, Selena mengusap air mata yang membalasahi pipi suaminya.
“Hiks…maafkan aku…maafkan aku”
“A-aku…men…cintaimu…Ha-hans…”
__ADS_1
Tubuh Selena langsung melemas dipelukan suaminya.
“Selena…tidak…sayang…aku minta maaf…buka matamu…kumohon…”
*
*
*
*
*
*
*
*
“Hans! Hans!”
“AGHHHH!!!!”
Hans membuka matanya
“Hah hah hah…”
Hans langsung duduk dengan nafas tersengal-sengal, ia menatap Selena yang tengah menatapnya dengan pandangan khawatir.
“Hans…ada apa? Kau mimpi buruk?”
Hans langsung memeluk Selena dengan erat. Ia bersyukur itu semua hanya mimpi, mimpi itu benar-benar mengerikan.
“Hans…ada apa?”
“Itu hanya mimpi…jangan dipikirkan Okey…”
Hans memeluk tubuh telanjang istrinya dengan erat. Ia benar-benar takut jika sampai mimpinya benar-benar terjadi, ia tak mau kehilangan istrinya. Ia tak mau kehilangan istrinya.
“Aku akan mengambilkan minum untukmu, tunggu sebentar ya”
“Tidak…jangan pergi…”
Selena menghembuskan nafasnya. Ia memeluk punggung suaminya erat memberikan rasa tenang. Hans membaringkan tubuh Selena dengan perlahan, ia menyembunyikan wajahnya di dada istrinya.
“Hans…”
“Tidak…jangan pergi…”
“Aku tidak pergi…” jawab Selena sembari mengusap lembut kepala suaminya.
Selena menatap sendu suaminya, suaminya mimpi apa sampai berteriak hingga menangis seperti itu?.
“Hans…sudah jam 7…ayo mandi, setelah itu aku akan menyiapkan makanan”
Hans menganggukkan kepalanya, ia mengangkat tubuh istrinya dan masuk kedalam kamar mandi. 30 menit kemudian akhirnya ritual mandi diselesaikan oleh Hans.
“Kau mau makan apa, akan kumasakan”
“Aku mau memakanmu saja” jawab Hans dengan senyumannya.
“Tidak ada makan aku! Cepat bilang kau mau makan apa!”
“Aku mau nasi goreng”
__ADS_1
“Okey…sudah…lepaskan aku, aku akan memasak” kesal Selena karena daritadi Hans terus memeluknya.
Selena melepaskan tangan Hans yang melingkar dipinggangnya dan segera menyiapkan pakaian suaminya. Setelah pakaian suaminya siap ia segera turun ke dapur untuk memasak makanan.
Tak berselang lama Hans keluar dari kamar dan kembali memeluk istrinya yang tengah memasak.
Selena hanya bisa pasrah dengan Hans yang lagi-lagi memeluknya seperti ini. Suaminya bermimpi apa sampai-sampai manja seperti ini kepadanya.
Assistant Gerry masuk dan langsung menghampiri Hans.
“Ha? Apa itu Tuan mudaku? Kenapa menempel sekali dengan Nyonya muda?” batin Gerry heran.
“Hans, lepaskan aku…ada Assistant Gerry…”
“Tidak mau, ada apa Gerry?”
“Tuan muda, 1 jam lagi ada rapat penting yang harus anda hadiri”
“Hmmmm”
“Karena anda sudah datang, dan Hans belum sarapan kita sarapan bersama”
“Apa? Saya Nyonya muda?”
“Iya”
Gerry dengan senang hati langsung duduk di kursi, Hans menatap kesal Assistantnya. Apa Assistantnya itu sengaja datang lebih awal agar bisa numpang makan?!.
Selena meletakkan nasi goreng didepan Gerry.
“Sayang…untukku mana?” tanya Hans.
“Kau duduk dulu ditempatmu, aku akan menyiapkannya sebentar lagi”
Dengan berat hati Hans duduk ditempatnya, Selena pun meletakkan sepiring nasi goreng didepan suaminya.
“Masakan anda sangat enak Nyonya!” puji Gerry.
“Untuk apa kau memuji istriku?!”
Gerry yang mendengar bentakan Bossnya langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia hanya memuji Nyonya mudanya karena masakannya benar-benar enak, tapi kenapa Bossnya seakan tak terima jika ia memuji Nyonya mudanya sendiri?.
“Hans, sudah cepat makan makananmu” ucap Selena sembari meletakkan milkshake didepan suaminya.
Hans mencekal tangan Selena dan menarik tangan itu membuat Selena terduduk dipangkuan suaminya. Hans mengambil nasi goreng dan memasukannya kedalam mulut istrinya.
“Kau juga harus makan”
Selena mengunyah makanannya lalu menelannya. Ia menahan tangan Hans yang hendak memasukan nasi kedalam mulutnya.
“Hans, aku bisa makan nanti. Kau saja yang makan, kau harus rapat”
“Makan atau aku akan mengurungmu didalam kamar” ancam Hans membuat Selena langsung memakan nasi goreng yang berada disendok Hans.
Beberapa saat kemudian Hans dan Selena selesai dengan sarapannya. Saat Hans hendak pergi Selena memanggil nama suaminya itu membuat Hans menghentikan langkahnya.
Selena mendekati suaminya dan memasangkan penjepit dasi.
“Nah, begini baru rapi”
Hans tersenyum dan mengecup singkat bibir istrinya sebelum pergi bersama Gerry.
Selena kembali kekamarnya dan mengambil tasnya, karena Hans sudah berangkat ia lebih baik ke rumah sakit.
.
__ADS_1
.
.