
.
.
.
Daniel menghentikan mobilnya didepan gerbang kampus. Ia benar-benar ingin tertawa keras melihat wajah bodoh Joe yang sepertinya benar-benar enggan masuk ke kampus. Sangat bertolak belakang dengan Selena yang sangat berantusias.
“Kalau ada apa-apa, hubunggi aku. Jika ponselmu tidak bisa digunakan, pakai ponsel rektor, dia punya nomor Josseph. Josseph selalu bersamaku”
“Okey”
Daniel mengacak rambut Selena sebelum gadis itu keluar dari mobil bersama dengan Joe. Daniel pun menyetir
mobilnya menjauh dari kampus itu, senior Seo dan anggota tim yang lain mendekati Selena dan Joe membantu keuda gadis itu membawa tasnya.
“Terima kasih” ucap Selena.
“Sama-sama, tubuhmu kecil. Tas ini lebih berat dari tubuhmu” ucap senior Seo.
“Kau itu sedang memuji atau mengejekku?!” kesal Selena tak terima diejek kurus.
“Dua-duanya” jawab senior Seo membawa tas Selena masuk kedalam kampus.
Selena menatap Joe yang tampak murung, tenyata Joe benar-benar takut dengan tes kemiliteran. Sungguh mengejutkan mengingat bahwa hobi Joe adalah menyiksa seseorang.
“Tenang aja, ada aku. Aku tak akan membuatmu malu nanti” ucap Selena menarik tangan Joe masuk kedalam kampus.
Saat Selena dan Joe sudah masuk kedalam kampus, gerbang langsung ditutup dan dikunci dengan rapat. Pelatihan pun dimulai dari sekarang.
Joe seketika berkeringat dingin dibuatnya, sedangkan senior Seo dan salah satu rekan mereka menuju kamp meletakkan tas Selena dan Joe.
Tak berselang lama semua murid pun diminta untuk berbaris dengan rapi. Seorang pria berjalan lengkap dengan seragam kemiliterannya. Selena mengerutkan kening, apa itu orang dari kamp 7?.
“Murid-murid sekalian, perkenalkan. Beliau adalah Jenderal Dion dari kamp 7” ucap rektor.
“Jenderal Dion? Hmmmm…sepertinya kemampuan mengingatku memang menurun, nanti coba kutanyakan kepada Paman saja”
“Selena, kau kenal dengan pria itu?” bisik Joe.
“Tidak, kenapa?”
“Entahlah, aku merasa pria itu memiliki niat tersembunyi”
“Jangan banyak bicara, dia sedang menatap kita” bisik senior Seo.
“Semuanya, saya adalah Dion. Jenderal dari kamp 7 yang akan memberikan tes kemiliteran kepada kalian” pria itu berbicara dengan sorot mata yang begitu dingin menatap fokus kearah Selena dan Joe.
“Dia menyeramkan” batin Joe.
__ADS_1
“Untuk apa dia menatapku seperti itu? Tatapannya menyebalkan sekali” batin Selena kesal.
“Baik, sekarang saya ingin bertanya kepada kalian. Apa kalian sudah pernah menjalani tes kemiliteran sebelumnya?”
“Belum” semuanya serempak menjawab kecuali Selena yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan kedua mata itu tidak berkedip sama sekali.
Pria itu mendekati senior Seo, dia menepuk beberapa kali bahu senior Seo membuat pemuda itu berkeringat dingin seketika.
“Kau ketua tim 1? Sekarang juga! Aku ingin tua setiap tim maju kehadapanku”
Saat senior Seo hendak melangkah maju, Selena menggenggam tangan pemuda itu membuat langkah terhenti seketika. Joe dan anggota tim yang lain menelan ludahnya, apa yang sedang Selena lakukan?! Apa dia tidak tau itu adalah hal yang tidak sopan?!.
“Saya ketua tim 1” ucap Selena, saat senior Seo hendak membalas ucapan Selena, gadis itu langsung mencubit pinggung pemuda itu membuat ucapannya seketika terhenti.
Selena dan para ketua tim yang lain maju dan berdiri tegak dihadapan Jenderal Dion. Pria itu tersenyum sinis dan
berjalan kearah ujung, tepatnya ketua tim ke yang ke-100. Pria itu menampar satu-satu para ketua tim membuat semua mahasiswa langsung menelan ludahnya dengan kasar.
“Gawat! Aku akan dihabisi Daniel jika pria itu menampar Selena” batin Joe menelan ludahnya dengan kasar.
“Aku bisa dihukum kepala rektor jika sampai Jenderal menampar piala kampus” batin senior Seo berkeringat dingin.
Pria itu akhirnya sampai dihadapan Selena, mata Selena menatap fokus kearah depan tanpa berkedip sama sekali. Bahkan hembusan nafasnya hampir tidak bisa didengar.
“Kau gadis kecil yang berani” pria itu melewati Selena membuat tim 1 menghembuskan nafas lega. Hampir saja mereka terkena serangan jantung jika sampai pria itu menampar Selena.
Selena menampar pipinya sendiri dengan kuat membuat semuanya melotot tak percaya. Jenderal Dion, pria itu
membalikan badannya dan menatap pipi Selena yang memiliki cap tangan. Sebenarnya apa yang sedang gadis itu lakukan?.
“Apa yang kau lakukan?”
Pria itu bertanya kepada Selena namun Selena tak mengucapkan apapun bahkan untuk berkedip. Semuanya langsung menelan ludah, bahkan ketua tim 2 menyenggol lengan Selena namun tetap…Selena tak bergeming sedikitpun dari tempatnya.
“Kalian boleh kembali kebarisan kalian”
Pria itu berucap membuat semua ketua tim langsung menuju barisan masing-masing, Joe langsung menggenggam tangan Selena, jika luka tampar Selena tidak segera diobati. Ia takut Daniel akan tau nantinya.
“Aku baik-baik saja, jangan khawatir”
“Jelas-jelas aku yang bertanggung jawab, kenapa kau melakukan itu?” tanya senior Seo prihatin kepada Selena.
“Mentalmu belum sekuat aku” jawab Selena sembari tersenyum manis.
“Kau ini sedang melucu ya? Bagaimana mentalmu tidak kuat jika Yeni saja beberapa kali menggunakanmu sebagai target uji coba pembunuhan?” batin Joe.
“Hari ini, tugas kalian adalah. Berlari mengelilingi kampus selama 1 jam”
“APA?!!!! Kita akan mati kelelahan jika melakukan itu!!!!!” ingin sekali Joe berteriak mengatakan hal itu, tapi
__ADS_1
ia tidak punya keberanian. Ia tidak boleh membuat Selena malu, sejak kecil…ia paling anti dengan latihan kemiliteran.
“Mohon izin berbicara!” ucap Selena.
“Silahkan”
“Maaf jika saya lancang, namun berlari mengelilingi kampus tidak akan bisa dilakukan dalam 1 jam. Semua mahasiswa tidak tidur semalaman karena menyiapkan kamp, jika anda memaksa mereka berlari. Maka anda akan terkena hukum pidana dan dipenjara selama 4 tahun, dan seharusnya anda sudah tau…tuntutan apa yang bisa membuat itu terjadi. Dan juga, anda harus tau…ada hal lain yang bisa memberatkan hukuman dari tuntutan itu” Selena berucap dengan sorot mata yang begitu dingin.
Ucapan Selena langsung membungkam mulut semuanya. Para dosen beserta rektor langsung mengacungkan jempol atas keberanian Selena mengatakan hal itu. Ucapan Selena membuat para mahasiswa langsung menghambuskan nafas lega.
“Karena anda sangat menentang perintah saya, maka anda saya wajibkan berlari mengelilingi lapangan dengan 2 putaran”
Joe dan para mahasiswa lain langsung menggelengkan kepala mereka kearah Selena, Selena melepaskan jaznya lalu memberikannya kepada Joe dan mulai berlari mengitari lapangan. Joe mengepalkan tangannya, ia benar-benar…ingin menghabisi pria kejam itu.
30 menit berlalu
Selena kembali ketempatnya dengan keringat yang berlomba turun dari dahinya. Semua mahasiswa langsung bertepuk tangan atas usaha Selena yang berhasil mengitari lapangan selama 2 kali. Bagi mereka mengitari lapangan selama 1 kali saja sudah sangat melelahkan.
“Kau lelah? Lebih baik kita istirahat” ucap senior Seo.
“Joe, bisa tolong kau pijatkan tanganku?” ucap Selena sembari memberikan tangannya. Joe dengan hati-hati memijat tangan Selena. Apa tangan Selena lagi-lagi terasa nyeri karena luka tusuk hari itu?.
“Karena anda sudah berhasil menjalankan perintahku, kalian semua boleh istirahat. Dan nanti siang, kalian harus berkumpul disini dan dibarisan yang sama”
“Baik!!”
“Bubar”
Semuanya langsung bubar ke kamp masing-maisng, Selena melepaskan sepatunya dan memijat kakinya yang terasa sedikit sakit. Ia bukan kelelahan, hanya saja ia sudah lama tidak berlari dan sekarang kakinya terasa sedikit keram.
“Jika kau kesulitan, lebih baik kau menolaknya” senior Seo masuk dan memberikan minyak kepada Selena, Joe mengambil minyak itu dan mengoleskannya di tangannya lalu memijat kaki Selena dengan lembut. Selena sudah menyelamatkan mereka semua dari perintah pria gila itu.
“Hahaha…apa yang kau katakan? Perintah yang diucapkan oleh Jenderal, harus dilaksanakan” ucap Selena.
“Lalu kenapa tadi kau berani mennetang perintahnya?” tanya Joe.
“Karena…dalam latihan kemiliteran kamp 7…tentara yang baru datang, harus melalui latihan ringan terlebih dulu. Jika tadi kita berlari selama 1 jam, besok kita tidak akan bisa berjalan” jawab Selena dengan senyumannya.
“Bagaimana kau bisa tau?” tanya senior Seo mengerutkan keningnya.
“I-ini…a-aku sering baca buku tentang kemiliteran!” jawab Selena teringat bahwa disekolahan ini tidak ada yang tau bahwa ia adalah Jenderal muda selain Joe.
“Owh”
.
.
.
__ADS_1