
.
.
.
Hans menarik tangan Selena hingga tubuh kecil itu jatuh terduduk dipangkuannya. Selena hanya bisa menundukan kepalanya tanpa mengeluarkan kata apapun dari mulutnya.
Hans menatap lekat-lekat Selena, ia mendongkakan kepala gadis kecil itu dan langsung mencium bibir Selena. Selena memberontak, ia memukuli dada Hans dan lagi-lagi tak berefek apa-apa. Namun lama kelamaan Selena mulai luluh akibat ciuman lembut Hans.
Hans tersenyum melihat Selena yang sudah tak memberontak. Ia menutup kedua mata Selena mengunakan tangannya dan memperdalam ciumannya. Selena perlahan mulai goyah, ia membalas ciuman yang diberikan Hans
kepadanya.
Mendapat lampu hijau dari sang istri membuat Hans semakin berani mengerakan tangannya, tangan itu meraba kemana-mana membuat leguhan kecil keluar dari mulut Selena.
Hans melepaskan ciumannya dan menggigit bibir bawahnya, ia menatap Selena yang masih mencoba mengatur nafasnya. Ia kembali mencium bibir Selena, tangannya membuang apapun yang berada diatas mejanya. Ia
membaringkan tubuh Selena diatas meja tanpa melepaskan ciumannya.
“Kau manis sayang…” bisik Hans lembut ditelinga Selena.
Selena merona mendengar suara lembut Hans yang menyapu telinganya. Ada rasa panas dan geli saat Hans membisikan kata-kata itu. Dan jujur, ini pertama kalinya ia menyukai Hans yang memanggilnya ‘Sayang’.
“Lepaskan aku…” cicit Selena mencoba melepaskan kedua tangannya yang dikunci mati oleh Hans.
“Setelah kau masuk kesini dan menghidupkan api? Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memadamkan apinya sendiri…”
__ADS_1
“Api? Dimana?!” tanya Selena panic.
Hans terkekeh melihat kepanikan Selena dibawahnya.
“Kau tidak perlu tau, biar kuarahkan kau untuk memadamkannya”
Hans kembali mencium bibir Selena. Akhirnya ia tau apa yang membuat Selena ketakutan saat bersamanya, Selena takut akan sisi kasarnya. Dan itulah kuncinya agar Selena patuh kepadanya.
Tiba-tiba perut Hans berbunyi dengan kerasnya. Selena yang sadar dengan apa yang dia lakukan langsung melepaskan diri dari Hans. Hans menatap geram perutnya, kemarin diganggu bawahan sekarang diganggu perutnya sendiri.
“Sa-saya akan memasakan makanan untuk anda…” kata Selena langsung berlari keluar dari ruang kerja Hans.
Hans memukul meja karena geram. Bisa-bisanya ia kalah hanya karena suara perut yang kelaparan, ia memang lapar karena ia tidak makan selama 3 hari gara-gara Selena menginap dirumah sakit. Entah kenapa ia hanya ingin makan masakan Selena, ia hanya berselera jika Selena yang memasak makanan itu.
Hans keluar dari ruang kerjanya dan menatap Selena yang tengah memasak makanan. Ia turun dan langsung duduk di sofa menonton televise.
Tak berselang lama Selena mulai menatap makanan dimeja, Hans langsung menghampiri meja makan dan menyantap makanan buatan istrinya.
“Saya tidak lapar…”
“Makan, kalau kau pingsan lagi awas saja”
Selena ciut, ia tak berani berkata apa-apa. Tiba-tiba ponsel Selena berdering, Selena menjauh dari Hans dan mengangkatnya.
“Iya Joe?”
“Selena, aku sudah dapat soal-soal yang akan digunakan dalam olimpiade. Aku akan memberitaumu besok” ~ Joe.
__ADS_1
“Kau tau darimana?” tanya Selena terkejut.
“Ayolah, kakak ku itu multifungsi” ~ Joe.
“Baiklah baiklah, terserah kau saja. Aku akan belajar dulu”
“Okey…bye bye” ~ Joe.
Tut…
Selena kembali ke dapur untuk membereskan bekas masakannya. Hans menatap Selena instens, entah kenapa ia merasa Selena lebih kurus dari sebelumnya. Apa ini efek menginap dirumah sakit selama 3 hari?.
“Mau kemana?” tanya Hans saat Selena hendak beranjak pergi.
“Sa-saya harus belajar, akan ada olimpiade…”
Hans mengerutkan keningnya. Olimpiade? Olimpiade apa? Apa Selena ikut olimpiade itu? Tapi Selena baru keluar dari rumah sakit, jika olimpiade itu membuat kesehatan Selena memburuk ia akan kelaparan lagi. Lebih parahnya ia tidak bisa mendapatkan jatahnya!!.
“Tidak! Aku tidak memperbolehkanmu mengikuti itu! Batalkan!”
“Ta-tapi sa-saya ti-tidak bisa…do-dosen yang mengaturnya…”
“Dosen sialan!!! Beraninya dia menyuruh istriku!!” Hans berucap geram dalam hatinya. Dosen-dosen itu terlalu berani hingga berani menyuruh istrinya mengikutiolimpiade itu tanpa persetujuannya terlebih dulu.
Hans memalingkan wajahnya tak mau menatap Selena. Ia kesal, bisa-bisanya ia kalah dengan sebuah olimpiade. Tapi dengan olimpiade ini ia ingin melihat seberapa pintar istrinya. Tapi tetap saja ia kesal! Bisa-bisa dosen itu mendaftarkan istrinya ikut sebuah olimpiade.
.
__ADS_1
.
.