
.
.
.
Selena keluar dari helicopternya, Selena menghembuskan nafasnya ketika angin malam yang begitu dingin menyentuh kulitnya. Selena menatap menara tinggi depannya, salah satu tempat rahasia miliknya. Tempat di mana ia diam-diam menghabisi musuh-musuhnya tanpa sepengetahuan keluarganya.
“Selamat datang Nona…”
Selena masuk kedalam menara itu, cuaca sedikit buruk…untung saja helicopternya tidak jatuh tadi. Ia sebenarnya pergi ke Swiss bersama Daniel, tapi ia meninggalkan pria itu disana untuk menjaga Ryu. Alhasil ia kemari sendirian tanpa adanya penjagaan, oh tapi ia membawa Charles kemari.
Selena meletakkan coatnya di sofa, menghidupkan lampu dan disambutlah oleh beberapapria yang tengah duduk disofa dengan santainya sembari menikmati teh.
“Kalian ada disini?”
“Ya, kami ingin melihat mainan barumu”
“Istrimu baru saja melahirkan, dan kau sudah meninggalkannya?”
“Azizah yang menyuruhku kemari”
“Mereka ada di bawah tanah, mau lihat sekarang?”
“Ya”
Selena memakai sarung tangannya dan menempelkan keycard di lantai membuat jalan rahasia langsung terbuka. Selena menuruni anak tangga satu persatu diikuti Charles, Said, Aiden, Ray dan Rey.
Selena menghidupkan lampu membuat ruangan bawah tanah yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benderang. Charles menatap beberapa tubuh manusia yang digantung tanpa adanya kulit ditubuh itu. Ternyata kebiasaan Nonanya masih belum berubah, sudah berapa tahun dipajang seperti itu?.
Ke-6 orang itu menatap dingin keluarga Georgino yang tengah berada di dalam jeruji besi dengan 8 penjaga diluar. Selena menekan tombol di samping jeruji besi membuat air langsung berjatuhan mengenai anggota keluarga Georgino. Mereka semua langsung terdasar dari pingsannya.
“Mimpi indah?”
“Kau!!! Keluarkan kami dari sini!!!” teriak beberapa orang wanita.
“Nona, biar saya yang memotong lidah mereka”
“Diam di tempatmu Charles”
“Mereka berteriak kepada anda”
“Diam ditempatmu!”
“Pengadilan sudah siap?”
“Izin menjawab! Pengadilan sudah menerima berkas yang disampaikan Tuan, namun pengadilan baru bisa mengadakan sidang lusa”
“Besok tidak bisa?”
“Izin menjawab! Tidak Tuan”
“Ahhhh…fine, nanti siapkan kapal untuk membawa mereka. Jangan sampai ada satupun yang kabur”
“Siap laksanakan!!”
Selena berjalan mendekati jeruji besi itu dan berjongkok didepan Yeni yang tengah menatap pias kearahnya. Tangan Selena masuk dan mengcengkram dengan kuat wjah Yeni namun saat tangah wanita itu keluar hendak menarik baju Selena tangannya tersengat oleh aliran listrik.
“Akhhhhhh!!”
“Kau!! Dasar wanita gila!!” bentak Moses.
“Ini baru permulaan, lusa kalian akan tau…bagaimana gilanya seorang Selena” Selena menghempaskan wajah Yeni dengan kuat, ia menatap Lucio yang hanya bisa diam seperti menerima nasib.
“Kalian tenang saja, aku tak akan membunuh pengacara yang sudah kalian bayar. Karena diapun…kupastikan tidak bisa membantu”
Selena berdiri dan menatap tajam orang-orang itu, entah kenapa ia merasa kasihan kepada Lucio. Hanya punya 2 anak yang diakui tapi yang satu mati dan satunya gila. Karma memang indah ya?.
“Bagaimana caraku menghukummu Yeni? Bagaimana menurut kalian?” tanya Selena kepada teman-temannya.
“Jangan dibunuh, siksa saja” jawab mereka serempak.
Ucapan itu langsung membuat Yeni memucat, Selena menatap dingin ekspresi Yeni…hanya dengan ucapan seperti itu Yeni bisa memucat? Sighhhh...
“Tapi aku tak ingin melakukannya, bagaimana dong?”
Ke-5 pria itu saling melirik, Selena tak ingin melakukannya? Lalu apa yang sedang di pikirkan wanita itu? Jangan bilang ada ide yang lebih gila daripada menyiksa orang-orang ini?.
“Aku berencana membawanya berkeliling dengan kondisi telanjang ke pusat kota, rencana ini…bagaimana?”
“Kau memang gila ya” ucap Rey.
“Gila-gila begini siapa yang mati-matian mau menikahiku?”
“Sighhhh…tapi kau tolak”
“Karena aku tidak tertarik menerima kalian”
Jlep!!
“Ha!! Ternyata mereka selirmu?! Tak kusangka ternyata kau lebih murahan daripada seorang pela*ur”
“Charles!!” bentak Selena ketika pria itu sudah memposisikan pedangnya di leher Yeni, bahkan darah sudah keluar dari leher wanita itu.
“Dia sudah tidak pantas hidup Nona”
“Mundur”
Charles mengepalkan tangannya dan memasukkan pedangnya kembali, Selena menatap dingin Charles.Charles adalah bawahannya yang paling sensitive, pria itu bahkan lebih kejam daripada Rafindra. Selama pria itu ada disininya, setiap ada orang yang kurang ajar kepadanya pasti akan mati, bahkan Leo pernah hampir mati ditangan pria ini. Itulah kenapa ia jarang menempatkan Charles di sisinya, karena jika ia melakukan itu…Pamannya pasti sudah tewas sejak dulu.
Selena mengeluarkan belati dari sakunya dan melemparkannya ke atas, sebuah tubuh tanpa kulit yang dipenuhi oleh belatung langsung jatuh tepat didepan jeruji besi.
“Kau!!!”
Charles langsung mengeluarkan kantung muntah dan memberikannya kepada Selena ketika mengetahui atasannya itu akan muntah.
“Hueekkkkk!!”
__ADS_1
“Kau ini ya! Kalau Daniel tau kami yang dimarahi!!” ucap Ray kebingungan sendiri.
Charles dengan hati-hati memijat punggung Selena, ia meminta para penjaga untuk segera menyingkirkan tubuh yang sudah membusuk itu. Meskipun Nonanya terbilang sadis dan suka menyiksa musuhnya, Nonanya tak pernah tahan melihat daging yang dipenuhi oleh belatung.
Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya Selena menerima sapu tangan dari Ray. Gila, bisa-bisanya ia masih tidak tahan dengan itu.
“Kau ini! Jika tidak tahan jangan dilakukan! Kalau sampai Daniel tau kan kami yang terkena imbasnya!” ucap Said lagi.
“Kau takut dengan Daniel, Said?”
“Bagaimana tidak?! Aku pernah dihajar habis-habisan hanya salah bicara! Pria itu memang gila! Sama seperti kau!”
“Cih, dengan Daniel saja takut” sinis Selena.
Selena menekan remote yang berada ditangannya, lalu menatap Yeni dengan tajamnya. Tak dapat di pungkiri, Yeni yang ditatap seperti itu rasa takut dan hawa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Sadar diri, satu-satunya alasan kau masih hidup adalah…karena aku belum membunuhmu. Hinaan dan rasa sakit yang sudah kau berikan kepadaku, akan kubalas ratusan kali lipat”
“Kau!!! Sekarang aku tak perlu meragukan bahwa kau memang putri Ruvelis!! Kau sama gilanya seperti ayahmu!!”
“Tidak ingat bagaimana gilanya kau mengejarnya? Masih meminta Papaku untuk menjadi suami keduamu disaat kau sudah punya Hans dan Alice? Heh, memang setinggi apa harga dirimu hingga mau menyaingi Mama tersayangku?”
“Kau!!!!”
“Tidak terima? Aku jadi penasaran…bagaimana jika kuberitau Lucio pria mana saja yang sudah menghangatkan ranjangmu saat dia tidak ada?” bisik Selena tepat didepan Yeni.
Yeni langsung memucat, ia langsung menatap suaminya. Sial*n!! Untung saja suaminya tak mendengarnya! Ia bisa mati jika sampai suaminya itu mengetahui hal ini!.
“Ayah, Ibu dan anak…sama-sama suka jajan sembarangan. Entah kenapa aku jadi kesal karena kau tidak terkena penyakit kelamin”
“Lihat, masih sarkas saja ucapannya…” bisik Said.
“Biasalah…anak Paman Ruvelis”
“Aku jadi penasaran darimana dia tau informasi sampai seperti itu…”
“Sama…”
“Nona punya orang dalam” jawab Charles.
“Shtttt…bisik-bisik saja…nanti singanya mengamuk lagi”
Bugh!
Selena memukul perut Ray dengan kesalnya, Ray langsung meringkuk kesakitan di lantai. Sial*n…kenapa ini lebih sakit daripada terakhir kali?.
“Kau pikir aku tuli hah?!”
“Duhhhh tempramental sekali kau ini. Aku jadi penasaran apa yang Mama Jen inginkan saat mengandungmu”
“Yang mengidam Papa, bukan Mama”
“Kok bisa?!”
“Kan aku anak Papa”
“Ayo pergi, takutnya aku bisa menghabisi mereka disini”
Selena menaiki anak tangga diikuti rekan-rekannya. Selena kembali menutup jalur bawah tanah itu dan menghempaskan tubuhnya disofa. Haihhhhh…ia lelah, ia ingin tidur di kasur empuknya.
“Oh ya, di mana Hans? Kenapa aku tidak melihatnya”
“Beda ruangan”
Ucapan Selena langsung membuat pria-pria itu slaing memandang satu sama lain. Kenapa Selena membedakan ruangan Hans dengan keluarganya? Apa Selena tau sesuatu?.
“Dia tak akan mendapatkan hukuman seumur hidupnya”
“Kenapa begitu?! Dia kan malah orang yang sudah melecehkanmu! Dia bahkan hampir membunuhmu!” kesal Rey.
“Meskipun begitu…anaknya pernah gugur dalam genggamanku”
“Kau masih memikirkan itu?! Sighhhh…really?! Come on Selena! Jangan memikirkan hal itu lagi! Kau memberikan hukuman ringan kepadanya hanya kaerena anak yang sudah gugur itu?! Ingat! Sudah berapa banyak keluargamu yangdibunuh oleh mereka!” kesal Ray.
“Benar! Anak itu kan juga sudah tidak ada! Kau tidak perlu memberikan hak istimewa kepada Hans hanya karena itu!” ucap Said menambahi perkataan Aiden.
Selena hanya bisa diam mendengar ucapan kesal teman-temannya, ia tau mereka mengucapkan itu untuk mengungkapkan rasa kesal dan kecewa mereka karena ia tidak membunuh Hans.
“Jangan-jangan kau masih mencintainya?” ucap Ray.
“Gila saja, aku sudah tidak mencintainya”
“Lalu kenapa tidak membunuhnya?!”
“Hahhhhhh…anak yang gugur adalah anak pertamaku dan Hans. Aku tau gilanya pria itu saat tau anak yang didalam kandunganku sudah tidak ada. Meskipun dia punya banyak wanita dibelakangku dia tetap Ayah dari anakku yang sudah tiada, ditambah juga…ini juga bukan keinginan Hans. Semua ini murni kesalahan Yeni yang terlalu mencintai Papa dan terobsesi dengan kekuasaan”
“Jangan terlalu baik Selena! Pikirkan penghinaan yang sudah kau alami selaam berada di sisinya!”
“Paman Raf sudah menghabisi nyawa Bellina, jika aku menghabisi Hans…maka Hansel tak akan punya siapa-siapa lagi. Jujur aku tidak peduli dengan anak itu sedikitpun, hanya saja memikirkan bahwa dia akan dimanfaatkan oleh orang lain jika orang lain tau bahwa itu adalah anak Hans…hanya akan menambah pekerjaanku”
“Dan juga…sudah waktunya mengeluarkan peraturan pertama dariku”
Ting…
Selena mengeluarkan ponselnya, menatap pesan yang baru saja masuk. Ia menatap foto Ryu yang baru saja dikirimkan oleh Daniel. Wajah ini…benar-benar mirip dengan Leon saat berumur 7 bulan.
Selenapun melakukan video call, video call langsung terhubung. Selena menatap lekat-lekat buah hatinya yang tengah digendong oleh Daniel.
“Lihat, dia sangat mirip dengan Leon. Entah kenapa aku jadi membayangkan jika dia bertengkar dengan Leon karena ini nanti”
“Bagaimana keadaannya?” tanya Selena, ia belum sempat melihat putranya karena langsung terbang kemari setelah memberikan ASI.
“Dokter bilang dia sudah baik-baik saja, pernafasannya sudah mulai stabil karena terus menangis”
“Hahhhhh, beda sekali dengan Ivy”
“Oh ya, kau sedang di mana?”
__ADS_1
“Sedang melihat mainan baruku, kenapa?”
“Di mana?”
“Menara tengah laut”
“Ohhhh…”
“APA?!!!!” Daniel yang berada di sebrang sana langsung berteriak membuat bayi digendongannya langsung terbangun dan menangis.
“Sayang sayang…maaf…Papa tidak berniat membangunkanmu…jangan menangis”
“Jika kau menggendong Ryu, siapa yang memegang ponselmu?”
“Ini aku Selena”
“Oh! Derrian?”
“Tepat!”
“Sayang…Papa minta maaf…jangan menangis…”
Rey dan Ray mengerutkan keningnya, kenapa Daniel memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Papa? Memang Ryu anaknya? Tapi bukankah itu anak Leo? Kenapa jadi anak Daniel? Jangan-jangan Daniel yang tabur benir bukanya Leo.
“Daniel, berikan dia kepadaku. Biar aku yang menenangkannya, kau bicaralah dengan Selena”
“Kau bicara dengan Daniel dulu ya Selena”
“Hahhhh…rewelnya Ryu lebih susah ditangani daripada Leon dan Leona”
“Oh ya, kau dengan siapa kesana?”
“Ada Charles, Said, Aiden, Ray dan Rey. Kenapa?”
“Oh, kupikir kau sendirian. Bagaimana? Sudah semua persiapannya?”
“Sudah, tapi sidangnya baru dimulai lusa. Padahal kupikir besok sudah bisa”
“Terlalu mendadak, tuntutan yang kau layangkan juga sebanyak itu. Hei! Aku punya ide bagus untuk Yeni!”
“Apa?” tanya Selena.
“Hei!!! Jangan gila kau!! Jangan menyarankan yang tidak-tidak kepada Selena!” sahut Aiden.
“Ajak Yeni berkeliling ke pusat kota dengan keadaan telanjang. Kau tidak perlu melakukannya sendiri, minta saja seseorang melakukannya”
“Aku juga berpikiran seperti itu, tapi sebelumnya…aku ingin bermain-main dulu dengan Stefen, Moses dan Kyler”
“Hahahahaha!! Aku punya banyak kenalan, mau?”
“…”
“Ohhhh hanya itu? Baiklah”
“Ya”
Tut…
Pria-pria yang ada disana langsung tercengang mendengar permintaan Selena kepada Daniel, gila…Selena benar-benar sudah gila. Kegilaan Selena kali ini melebihi kegilaan Paman mereka Ruvelis! Bahkan jauh lebih kejam daripada Hendrick! Jika sampai Tuan besar Leonardo tau kan Selena bisa dapat hukuman.
“Jangan coba-coba mengadu kepada kakek, mau kuberi hukuman yang sama?”
“Ti-tidak sama sekali”
**********
Stefen, Moses serta Kyler terbangun dari tidur mereka ketika sebuah air tepat mengguyur wajah ketiganya. Selena menatap dingin ke-3 pria yang kini sudah terikat di kursi tanpa adanya sehelai benangpun di tubuh mereka.
Ke-3 pria itu terkejut mendapati tubuh mereka yang sudah ditelanjangi, ke-6 mata itu menatap sengit kearah Selena yang duduk di kursi, namun halyang lebih mengejutkan adalah…terdapat ratusan kamera didalam ruangan ini. Ruangan apa lagi ini?! apa yang ingin wanita itu lakukan kepada mereka?!.
“Bagaimana? Nyenyak?”
“Dasar wanita sial*n!! Apa lagi yang mau kau lakukan hah?!”
“Bukankah kalian sangat suka bermain dengan wanita? Masuklah”
Ratusan orang wanita langsung masuk kedalam ruangan yang amat begitu luas itu. ke-3 pria yang terikat itu langsung tersentak melihat ratusan wanita yang entah datang darimana mengenakan pakaian yang amat sexy. Sial*n…sebenarnya apa yang diinginkanoleh wanita ini?!.
“Kalian nikmati ke-3 pria ini sampai puas, jika tidak bisa berdiri…patahkan saja”
“Baik Nona…”
“Cih, tubuh kalian tidak ada menarik-menariknya sama sekali…bisa-bisanya begitu percaya diri bahwa tubuh kalian bisa memikat seluruh wanita yang melihatnya?”
“Lepaskan kami sial*n!! Minggir!! Jangan sentuh!!” bentak Stefen kepada seorang wanita yang sudah berjongkok didepannya.
“Nikmatilah permainan mereka, sampai kalian berdua menjadi…I-M-P-O-T-E-N”
“Tidak!!! Ampuni kami!!! Tolong lepaskan kami!!”
“Bersenang-senanglah sampai besok pagi, dan hari berikutnya…Selamat menikmati pelayanan dari penjara seumur hidup kalian”
Selena pergi meninggalkan ruangan itu, ia melepaskan sarung tangan dan menghembuskan nafas dengan kasar.
“I love you…Leo…”
Selena melihat kilatan cahaya diantara bintang-bintang yang mengiasi langit malam, bintang jatuh…orang bilang jika berharap saat ada bintang jatuh maka permintaan itu akan di kabulkan, mustahil untuk percaya memang tapi…
“Tuhan…tolong berikan kebahagiaan untukku, berikan kekuatan untukku agar bisa menanggung beban yang semakin besar” guman Selena sembari merapatkan kedua telapak tangannya.
“Sayang…aku berjanji akan membesarkan anak-anak seperti apa yang kau inginkan, jangan khawatir…mereka akan tumbuh menjadi anak yang kuat” ucap Selena sembari meneteskan air matanya.
Diumur yang akan menginjak 19 tahun ia sudah memiliki 3 orang anak dan suami yang sudah meninggalkannya, selain kepada diri sendiri dengan siapa lagi ia bisa bergantung? Sekarang suaminya sudah tidak ada, jadi anak-anaknya lah yang akan menjadi salah satu tujuannya untuk tetap berada disini.
.
.
__ADS_1
.