
.
.
.
Leo, Daniel, dan Joe duduk di sofa sembari menikmati teh buatan Leo dan juga menunggu turunnya Selena untuk berangkat kepesta. Joe tersenyum malu-malu membuat firasat Daniel dan Leo tak tenang, apa yang sedang direncanakan Joe?.
“Apa Selena masih lama? Kita harus sampai 10 menit lagi” ucap Daniel melihat jam tangan mahalnya.
“Maaf…apa aku membuat kalian menunggu lama?” ucap Selena sembari menuruni tangga.
Cangkir teh yang sedang dipegang Daniel dan Leo jatuh kelantai, kedua pria itu tercengang. A-apa i-ini yang membuat gelagat Joe aneh sedari tadi?. Rafindra,Wei, dan para bodyguard tak berkedip sama sekali ketika melihat Selena menuruni tangga.
“Sayang…sudah lama menunggu ya? Ayo berangkat sekarang” ucap Selena menghampiri suaminya.
“A-ah?!” Leo seketika tersadar dari lamunanya ketika tangan istrinya hinggap di pundaknya.
“Kenapa? Ada yang salah ya dengan penampilanku?” tanya Selena.
Leo masih tak mampu berkata-kata ketika melihat istrinya yang memakai dress putih tanpa lengan. Wahhh istrinya benar-benar cantik…ia tak rela jika istrinya dilihat pria lain!.
“A-aku minta maaf…aku tidak bisa memakai make up, jadi…jelek ya?”
“Tidak!! Tidak sama sekali!!” jawab Leo dan Daniel bersamaan.
Leo berdiri lalu menggapai tangan istrinya, ia mencium punggung tangan istrinya dengan lembut.
“Seperti biasa…kau cantik…sangat cantik…kau membuatku terpesona lagi” ucap Leo membuat Selena tersipu malu mendengarnya.
“Tunggu…” ucap Daniel. Pria itu mengeluarkan kain panjang transparan dan memakaikannya ditubuh Selena. Sempurna…
“Sekarang ayo pergi”
*******
Hotel
Para wartawan menunggu dengan bosan di depan hingga loby hotel menunggu kedatangan bintang tamu yang tak kunjung datang. Namun mereka seketika berdiri ketika melihat beberapa mobil hitam mewah yang berhenti, akhirnya! Bintang utamanya datang!.
Rafindra turun diikuti puluhan bodyguard yang langsung berjaga dari jalan sampai kedalam loby hotel membuat wartawan tak bisa mendapatkan apa-apa.
Tak berselang lama mobil Daniel berhenti diikuti mobil Leo dan Selena. Joe menggandeng lengan Daniel sedangkan Selena menggandeng lengan Leo.
“Ini hotel…mari menghabiskan malam kita disini sebelum berlibur…” bisik Leo langsung membuat wajah Selena bersemu merah dibuatnya.
Saat sudah berada di loby hotel pintu ditutup setelah wartawan yang berada didalam dipaksa keluar oleh bawahan Rafindra. Rafindra menghembuskannafasnya, untungnya tak satupun wartawan yang berhasil mendapatkan foto Nona besarnya.
“Kalian pergi keruang CCTV, amati setiap sudut. Jangan sampai lengah”
“Baik Tuan!”
Selena, Leo, Daniel, dan Joe masuk kedalamlift dan menuju lantai teratas di mana pesta dilaksanakan. Saat sampai, semua orang yang berada didalam sana langsung menatap kearah pintu yang terbuka.
“Daniel, Leo. Sudah lama tidak bertemu…bagaimana kabar kalian?” seorang pria berucap sembari mendekati Daniel dan mengulurkan tangannya.
“Lama tidak bertemu Zie, aku baik” jawab Daniel sembari menjabat tangan pria itu.
Pria itu tersenyum dan menatap kearah Selena, Selena yang sejak tadi terkejut karena begitu banyak orang langsung memundurkan langkahnya. Tidak…ia tidak terbiasa ditempat seperti ini…ia tidak suka disini…
“Don’t scared okay…I’m here” bisik Leo.
“Tidak…aku tidak terbiasa dengan ini…aku mau pulang”
“Give me 1 hour…okay?” ucap Leo sembari mengusap pipi istrinya dengan lembut. Istrinya tidak terbiasa dengan sebuah pesta, karena sejak kecil. Jika bukan sebuah pesta resmi keluarga besar…istrinya tidak akan diperbolehkan ikut menghadiri walaupun mendapat undangan khusus.
“Hallo, siapa namamu?” pria itu bertanya kepada Selena.
“Maaf…berikan aku 5 menit” ucap Leo memeluk istrinya dan membawa istrinya keluar dari ruangan itu.
Leo mendudukan istrinya di kusi dan berlutut dihadapan istrinya.
“Aku mengganggu acaramu…maaf…” ucap Selena.
“Hei…tidak perlu menangis…acaranya belum dimulai. Kau tidak mengganggu, sudah jangan menangis…aku disini…Daniel dan Joe juga ada disini ada Tuan Rafindra juga. Kau akan baik-baik saja…” ucap Leo dengan lembut seraya membelai kedua pipi istrinya. Istrinya sedang takut…ia tidak bisa memaksa jika memang istrinya tidak bisa.
Dengan perlahan isakan Selena berhenti, Leo tersenyum dan mengusap air mata istrinya. Ia membantu istrinya berdiri dan membawanya masuk kembali kedalam ruangan itu.
“Kalian kembali? Oh ya Leo, kau belum memperkenalkan wanita cantik disebelahmu. Siapa dia? Pacarmu ya? Tapi kudengar kau sudah punya istri”
“Jaga ucapanmu Zie, ini istriku. Sayang perkenalkan, dia Zie…dia pemilik hotel ini”
“Hallo, aku Zie. Siapa namamu?”
“A-aku…”
“Jangan takut, jika suamimu ada disini mana mungkin ada yang berani macam-macam denganmu” sahut seorang pria yang berjalan mendekat kearah mereka.
“A-aku Selena…”
“Selena? Nama yang cantik seperti orangnya. Ternyata rumor yang beredar benar, Nyonya Iskandar cantik dan mempesona. Dapat di mana kau Leo?”
“Kau tidak perlu tau! Dan jangan banyak bicara kepada istriku!” jawab Leo.
“Kau ini pelit sekali, aku hanya bicara beberapa kata dengannya! Oh ya, kau…darimana? Blasteran?”
Tiba-tiba mata Selena tertuju kepada sebuah piano yang sedang dimainkan oleh seorang pria. Tanpa ragu Selena mendekati tempat itu, pianis yang sedang dikerumuni gadis-gadis melirik kearah Selena yang tengah memperhatikannay dengan serius. Hm? gadis darimana ini? Cantik sekali.
“Apa…istrimu baru saja menolakku Leo?” tanya Zie tak percaya.
“Kau bilang pianisnya wanita…kenapa sekarang jadi pria?” tanya Leo mencengkram kerah baju pria itu.
“Hehehehe…adiknya tidak bisa datang, jadi kakaknya yang datang” jawab pria itu.
Leo berdecap kesal dan melepaskan pria itu, sial…kenapa piasnisnya harus laki-laki?! Kan istrinya tidak bisa menolak godaan piano!!!.
“Nona, boleh saya tau nama anda?” tanya pianis itu.
“A-aku Selena…”
“Selena? Hmmm apa yang membuat anda datang kemari?”
“Itu…bolehkah…aku bermain?” tanya Selena.
__ADS_1
“Anda bisa bermain piano? Tentu! Anda bisa memainkannya jika anda mau”
Pria itu mempersilahkan Selena duduk di kursinya, Selena tersenyum dan berterima kasih. Gadis-gadis yang sejak tadi berada disana menggigit jari mereka, bagaimana bisa gadis yang baru datang ini bisa langsung menarik perhatian pangeran piano mereka?. Mereka yang sejak tadi disini saja tidak dilirik sedikitpun.
Selena menatap senang piano dihadapannya, sudah lama ia tidak bermain piano. Terakhir kali bermain piano ia bermain dengan Leo.
Jari lentik Selena dengan perlahan menekan tuts piano dan dengan lihainya menciptakan melodi indah yang langsung membuat seluruh orang di ruangan itu berhenti berbincang.
Leo dengan senyumnya terus memperhatikan istrinya yang tengah bermain piano dengan mata yang terpejam menikmati alunannya. Selain handal menggunakan senjata…istrinya juga mahir memainkan berbagai alat musik.
Beberapa saat berlalu Selena mengakhiri permainannya membuat banyak orang merasa kecewa.
“Wo-wow…” pianis itu tak mampu berkata-kata, tangannya bertepuk tangan diikuti semua orang.
Selena berdiri dan membungkuk mengucapkan terima kasih.
“Sekali lagi!! Tolong bermain sekali lagi!!!” teriak semuanya serempak.
Selena hanya tersenyum canggung dan menatap suaminya yang tengah tersenyum sembari bertepuk tangan. Ia mengembang senyum cerah dan berlari memeluk suaminya.
“Bagaimana? Bagus tidak lagu tadi?” tanya Selena.
“Mana mungkin lagu yang kau mainkan dengan begitu menakjubkan jelek?” jawab Leo sembari tersenyum lembut.
Pianis mendekati Selena dan membungkuk lalu meraih tangan Selena yang berbalut sarung tangan dan menciumnya.
“Bolehkah saya belajar piano dengan anda? Nona?”
Zie yang mendengar itu langsung menarik pria itu menjauh dari Selena ketika melihat raut wajah Leo yang berubah drastis. Selena menahan tawanya melihat wajah masam suaminya.
“Kan tidak sampai kulit sayang…cemburu ya?” bisik Selena.
“Awas kau nanti malam…” bisik Leo membuat Selena langsung menelan ludah dengan kasar. Duh…sepertinya malam ini ia tidak akan diizinkan suaminya tidur lagi…
Tiba-tiba seorang anak kecil berlari dan memeluk kaki Selena. Selena tersentak kaget, tubuhnya yang goyah langsung membuat Leo menahan punggungnya agar tidak jatuh.
“Youra!!” Zie dengan kesal menggendong putrinya yang tengah memeluk kaki Selena. Duh, tadi kalau sampai Selena jatuh kan bisa dihancurkan hotel ini.
“Kakak peri!! Youra kangen…” anak kecil itu merentangkan tangannya meminta Selena memeluknya.
Selena tersenyum senang, ternyata Youra…ia pikir anak siapa tadi yang tiba-tiba memeluknya. Selena mengambil Youra dari gendongan Zie membuat Leo langsung menatap sengit kearah pria itu.
“Kalau sampai istriku tadi jatuh…kupenggal lehermu” ucap Leo.
“Hehehe…maaf maaf…Youra, kenapa bisa disini? Di mana Bunda?”
“Bunda? Itu Bunda!” anak kecil itu menunjuk seorang wanita yang tengah tersenyum sembari melambaikan tangannya.
“Ughhh Youra semakin bulat…Youra sudah sembuh?” tanya Selena.
“Sudah kakak peri…sekarang, mana bonekanya?”
“Boneka…ahhhh, kakak belum membelinya. Jadi, sekarang bagaimana kalau Youra ikut kakak beli boneka?”
“Mau mau! Boleh ya Papa?”
“Tapi…” ucap Zie menatap ragu Leo.
“Boleh, tapi dengan Rafindra juga ya” ucap Leo sembari membelai kepala istrinya.
“Sayang…dia Assistant pribadi dokter Alex yang menangani Youra saat kemoteraphy dulu. Jika bukan karenanya, Youra tidak mungkin mau menjalani kemonya” ucap seorang wanita sembari menepuk bahu Zie.
“Ahhhh, Leo…sampaikan terima kasihku kepada istrimu. Berkatnya putriku punya keinginan untuk sembuh, ternyata dia kakak yang selalu dia panggil saat menjalani kemo”
“Dan kau tau? Aku hampir terkena serangan jantung saat istriku tiba-tiba mengirim pesan kepadaku yang isinya foto anakmu!”
“Ah? Kenapa?”
“Jangan tanya!” kesal Leo. Ia jadi kesal sendiri karena ia pikir itu adalah anak Hans.
Tak berselang lama Selena kembali membawa Youra yang tengah bermain dengan boneka beruang yang baru saja dibelikannya. Youra tersenyum senang dan berterima kasih kepada Selena.
“Kakak! Ayo main dikamar! Youra akan tunjukan sesuatu!”
“Sayang…maaf ya, kakak kan harus disini. Youra main dulu sendiri bisa?”
“Ohhhhh baiklah! Bye bye kakak!” ucap Youra sebelum pergi bersama dengan Ibunya.
Selena tersenyum lembut melihat itu, ia menghampiri suaminya berniat mengatakan sesuatu.
“Kenapa hm? Sesuka itukah dengan anak kecil? Padahal kau lebih mengemaskan daripada anak kecil” ucap Leo sembari mencubit kedua pipi istrinya.
“Nanti kalau salah satu anak kita ada yang perempuan, apa kau siap membelikan banyak baju untuknya?” tanya Selena.
“Tentu saja, jika perlu aku akan menyewa designer khusus kalian berdua”
“Lalu apa kau bisa membelikannya begitu banyak makanan yang dia suka?”
“Yeah, tentu…” jawab Leo sembari tersenyum walaupun ia bingung kenapa istrinya bertanya hal konyol seperti ini.
“Kalau begitu…Daddy!”
Leo terkejut tak percaya mendengar ucapan istrinya, tak hanya Leo Daniel dan lainnya pun ikut terkejut mendengar ucapan Selena.
“Ayo! Aku akan membelikan baju dan makanan yang banyak untukmu!” ucap Leo mencubit pipi istrinya dengan pipi yang bersemu merah. Ternyata istrinya mengatakan itu untuk dirinya sendiri, imutnya jika begini. Tapi jika istrinya memanggilnya dengan sebutan ‘Daddy’ itu bisa membuat gairahnya bangkit seketika.
Selena langsung memeluk senang suaminya, hehe…tak pa lah nakal untuk sesekali. Nakal dengan suami sendiri sah bukan?.
Drtttt drtttttt…
Ponsel Selena yang berada di saku jaz Leo berdering, Leo mengeluarkan ponsel istrinya dan memberikan benda pipih itu kepada pemiliknya.
“Siapa yang telfon?” tanya Selena.
“Hans…”
Selena menerima ponselnya dan menarik tangan suaminya menjauh dari kerumunan setelah itu dan mengangkat telfon dari Hans. Untuk apa lagi Hans menelfonnya? Apa untuk minta maaf lagi?.
“Selena…”
“Ada apa? Kenapa menelfonku lagi?”
“Maaf, bisakah kita bicara sebentar…aku ingin bicara berdua denganmu”
__ADS_1
“Membahas apa lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?” tanya Selena yang melihat raut wajah suaminya yang mulai masam.
“Sayang…jangan cemburu begitu dong…aku hanya cinta kepadamu” ucap Selena sembari mengecup bibir suaminya membuat wajah Leo mulai menghangat.
“Bisakah?”
“15 menit?”
“Terserah, aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Bisakah kau turun ke lantai 3?”
“Kau sedang ada dihotel ini juga?”
“Iya…”
“Baiklah, aku akan turun sekarang”
Tut…
Selena meletakkan ponselnya membuat Leo langsung mencium habis bibir mungil istrinya, Selena tersenyum dan membalas ******* basah yang diberikan suaminya.
“20 menit, jadi tepat jam 09.00 PM kau sudah harus sampai dikamar kita. Lantai 40, kamar presidential suite…jika telat…tanggung sendiri akibatnya” bisik Leo.
“Iya sayang…” jawab Selena seraya mengecup pipi suaminya dan masuk kedalam lift bersama dengan Rafindra.
Leo memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana dan menelfon seseorang.
“…”
“Baik Boss…”
Selena mendorong pintu café yang sangat sepi, hanya ada Hans yang duduk termenung di meja sudut. Semoga saja…ini pertemuan terakhirnya bersama dengan Hans.
Selena duduk dihadapan Hans membuat pria itu langsung mengembang senyumnya. Selena menatap latte didepannya, ternyata Hans masih ingat hal yang sering ia pesan saat di café.
“Katakanlah ada apa…”
“Aku…aku ingin minta maaf kepadamu…”
“Kenapa membahas ini lagi? Aku tak ingin mengungkitnya untuk sekarang”
“Tidak…aku…aku minta maaf atas kematian anakmu…”
Selena menghembuskan nafasnya, apa pria didepannya ini masih saja memikirkan anaknya yang sudah gugur hari itu?.
“Hah…Hans…kau tidak bersalah atas kematian anakku. Tapi perlu kau tau, aku tak akan…memaafkan bahkan melupakan hal itu untuk selamanya. Berhenti minta maaf kepadaku, minta maaflah kepada anak yang sudah dilenyapkan keluargamu. Dan sekarang, kau juga harus fokus dengan kehamilan kedua wanitamu”
“Mereka bukan wanitaku…” lirih Hans.
“Tapi mereka mengandung anakmu”
4 kata yang langsung membuat Hans mendongkakan kepalnya, pria yang sebelumnya terus menundukan kepalanya tak berani menatap Selena kini mendongkakan kepalanya.
“Apa jika seorang wanita yang kuanggap sebagai alat untuk membuat keturunan sama dengan wanita milikku?”
Kini pertanyaan Hans lah yang membuat si empu diam, Selena menatap lekat-lekat Hans. Apa yang sebenarnya yang di inginkan pria ini? Meniduri wanita lain sampai hamil tapi tidak mau mengakui jika itu wanitanya?.
“Berhentilan berpikiran sempit Hans, mereka mengandung anakmu. Mereka mengandung pewaris keluarga Georgino, jika sampai media tau bahwa seorang penerus keluarga Georgino lahir tanpa adanya sebuah ikatan diantara Ayah dan Ibunya, maka dia akan dikecam oleh publik”
“Tapi aku tak ingin menikahi mereka, sejak awal keluarga yang memaksaku untuk meniduri mereka, aku tak ingin seperti ini…jadi bukankah setelah mereka hamil mereka akan menjadi milik keluarga Georgino?”
“Apa maksudmu…anak yang akan dilahirkan kedua wanitamu akan menjadi anak milik keluarga Georgino dan tidak menjadi anakmu? Kau tidak ingin mengakui keberadaan anak kandungmu sendiri?”
Hans hanya mampu terdiam mendengar ucapan Selena.
“Hans…darah…lebih kental daripada air. Sekeras apapun kau menolak kenyataan, mereka berdua adalah anakmu, darah dagingmu. Mereka tidak bersalah, mereka tidak ingin hadir dengan cara seperti ini. Jadi…tolong lupakan bahwa anakmu pernah tumbuh dirahimku dan pikirkanlah kedua anakmu yang sedang tumbuh di rahim kedua wanitamu”
“Tidak…aku tidak ingin…”
“Hans…bolehkah aku mengakui satu hal?”
“Apa itu?”
“Jika kau…tidak berselingkuh dengan wanita-wanita itu. Aku akan tetap berada disinimu, aku akan menolak kehadiran Leo. Tak peduli pada akhirnya kau akan menceraikanku aku akan tetap berada disisimu sampai waktu yang ditentukan. Sayangnya…kau berselingkuh dariku. Berulang kali mengkhianati kepercayaanku kepadamu, merobohkan rasa nyamanku kepadamu. Dan disaat itu, Leo hadir…Leo hadir menemaniku. Menghapus segala luka yang kau hadirkan untukku, memberikan cinta yang selalu kuimpikan selama ini, dan…dia memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Itu impianku Hans…impian terbesarku…memiliki seorang anak
dan juga mendapatkan cinta sejati milikku. Sampai sekarang, aku sangat mencintai Leo walaupun…tempatnya pernah tergeser tapi aku tetap mencintainya. Anak-anakku membutuhkan seorang Ayah dimasa yang akan datang, mereka membutuhkan sebuah pengakuan dari keluarga. Mungkin ini adalah cara tuhan untuk menghiburku, dia merenggut nyawa anak pertamaku dan mengantinya dengan ke-3 malaikat yang akan menempati hatiku untuk kedepannya”
Tanpa disadari, air mata Hans kembali menetes. Selama ini ia tidak tau jika menjadi seorang Ibu adalah impian terbesar Selena.
“Dan aku ingin berpesan untukmu, lupakan masa lalu. Tataplah masa depan, jika kau terus terbelenggu oleh rasa bersalahmu kepadaku. Kau tak akan pernah bisa melupakanku dan anak yang sudah gugur. Ingat…kau akan segera menjadi seorang Ayah, kau kehilangan anakmu dariku dan tuhan mengantinya dengan 2 anak dari wanita lain yang juga merupakan darah dagingmu”
“Maaf…maafkan aku…”
“Tapi Hans…maaf…dendamku…akan terus mengalir…dan jika keluargamu tidak ingin berhenti sampai disini. Maka jangan salahkan aku yang mengambil jalan panjang. Berhentilan menjadi boneka keluargamu, jika tidak…kelak kau akan mendapatkan hukuman yang sama dariku. Aku bukan memberikan keistimewaan kepadamu, aku hanya
ingin melepaskanmu karena kau…adalah Ayah dari anakku yang gugur. Meskipun keluargamu yang membunuh anakku, tetap saja dia gugur dalam genggamanku”
“Tidak…jangan seperti ini. Kau boleh memberikan hukuman apapun kepadaku, kau boleh melakukan apapun kepadaku. Tapi kumohon…jangan membiarkanku terus merasa bersalah karena sudah lalai menjagamu dan anakmu” ucap Hans sembari menggenggam erat tangan Selena. Selena dengan perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Hans. Ia tau, mental Hans pasti terguncang sampai saat ini setelah mengetahui kebenaran yang ia sembunyikan.
“Maaf…akhir-akhir ini Leo sensitive, dia mudah cemburu. Jadi tolong jaga sikapmu…sudah ya. Dia akan cemburu lagi jika aku tidak segera kembali”
Selena mengeluarkan uang dari dompetnya namun tangan Selena langsung ditahan oleh Hans. Hans menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu dibayar, aku sudah membayarnya tadi”
“Jadi kau yang traktir?”
“…, iya…”
Selena memberikan uang itu kepada Hans.
“Maaf…tapi aku tidak ingin di traktir kali ini. Goodbye”
Selena pergi begitu saja bersama dengan Rafindra menuju hotel. Air mata Hans mengalir deras, Hans mengusap kasar air matanya. Jika memang melepaskan adalah jalan terbaik, ia akan mencoba melepaskan Selena…meleskan wanita yang menjadi cinta pertamanya.
“Aku mencintaimu…Selena…maaf…maafkan aku”
Hans memukuli dadanya yang terasa sesak, kenapa?! Kenapa ia harus mencintai wanita yang sudah berulang kali ia sakiti?! Kenapa rasa cinta ini tumbuh ketika wanita yang ia cintai sudah tak lagi bersama dirinya?! Kenapa ia tidak mencintai Selena saat Selena masih mencintainya?! Tuhan menghukumnya…melenyapkan cinta dari orang yang pernah mencintainya.
“Maaf Selena…maaf sayang…maaf Papa tidak bisa membuatmu lahir kedunia ini…”
.
.
__ADS_1
.