
.
.
.
Selena dengan serius memperhatikan dosen nya yang tengah menerangkan materi. Namun ditengah kesibukan nya kuliah ia masih bisa menangani urusan rumah dan perut suaminya.
Setiap minggunya Selena datang ke kampus untuk mengambil soal dan materi dan mengerjakannya dirumah. Itu membuatnya tidak bosan berada dirumah. Saat ia sudah tidak mempunyai apa-apa untuk dikerjaan ia lebih memilih untuk mencari lowongan pekerjaan.
Sedangkan Hans yang tengah sibuk dengan pekerjaan nya terkejut mendapati istrinya berkuliah di Royal dan UDI sekaligus. Ia sangat tidak menyangka itu terjadi. Ia menutup laptopnya dan memijat pelipis matanya.
Hans tiba-tiba teringat atas ucapan sahabatnya kemarin ‘Kelak kau akan menyesal jika dia sudah bersinar dan kau tak bisa menggapainya lagi. Disaat itu, kehancuran terbesarmu dimulai. Kau akan menyesal sudah menyianyiakan istri sebaik Selena’. Perkataan itu terngiang-ngiang dipikirannya.
“Tapi bagaimana mungkin gadis miskin itu bisa bersinar? Tidak tidak tidak! Jangan berpikir berlebihan Hans!”
Hans kembali mengerjakan pekerjaan nya. Karena tak bisa focus ia lebih memilih pulang untuk menjernihkan pikirannya. Saat sampai dirumah ia terkejut karena Selena sama sakali tidak melalaikan tugasnya. Ia pikir dengan Selena kuliah maka Selena tidak akan sempat mengurus rumah.
“Tu-tumben sudah pulang…mau kumasakan?”
“Ya, cepat” jawab Hans.
Selena menganggukkan kepalanya. Ia segera menuju kedapur dan menyiapkan makanan, saat sedang memasak tiba-tiba ia terpikirkan beberapa tugas kuliahnya yang belum selesai.
“Sepertinya aku harus membeli laptop besok…” guman Selena.
Selena pun menyiapkan makanan suaminya. Disaat sudah selesai menyiapkan makanan ia langsung masuk kedalam kamar untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Memakai ponsel membuatnya kerepotan, jadi ia harus membeli laptop.
Setelah selesai makan Hans menuju kamar istrinya. Ia membuka sedikit pintu Selena mengintip apa yang dilakukan istrinya. Apa istrinya itu bisa membayar kuliahnya tepat waktu?. Tapi disisi lain ia juga tidak ingin membantu Selena karena sejak awal ia tidak setuju Selena berkuliah.
______
Setiap hari tidak ada kesibukan baru dalam diri Selena. Setiap hari ia mengerjakan pekerjaan rumah setelah itu sibuk dengan kuliahnya. Hubungannya dengan Hans pun hanya begitu-begitu saja, tidak ada perkembangan sama sekali. Mereka hanya bicara ketika Hans memintanya untuk memasak makanan ataupun menyiapkan air untuk mandi.
Hans masuk kedalam kamar Selena, ia melemparkan sebuah gaun kepada Selena.
“Malam nanti ikut aku, pakai gaun itu” kata Hans pergi begitu saja.
__ADS_1
Selena mengerutkan keningnya. Kemana suaminya mau membawanya? Padahal hari ini ia berencana menyelesaikan tugas kuliahnya dan mengumpulkan esok hari agar ia bisa mencari pekerjaan tambahan.
Malam>
Selena keluar dari ruang ganti setelah memakai gaun yang diberikan Hans tadi siang. Ia menatap dirinya dicermin, gaun ini terlalu pas untuknya. Bagaimana Hans bisa tau ukuran badan nya?.
Hans masuk kedalam kamar Selena. Ia membeku melihat Selena yang menggunakan gaun yang ia belikan tadi. Ia akui Selena memang cantik dan manis. Namun dengan memakai gaun itu membuat pesona Selena seakan naik berkali-kali lipat.
“Sudah siap? Ayo berangkat”
“Ba-baik…”
Hans dan Selena masuk kedalam mobil dan segera menuju tempat pesta perusahaan. Saat sampai disebuah gedung Selena dan Hans berjalan ber-iringan masuk kedalam.
Tidak nyaman, Selena sangat merasa tidak nyaman berada ditempat ramai seperti ini. Ia tidak terbiasa dengan semua ini, ia ingin pulang. Ia ingin mengerjakan tugasnya, ia tidak suka disini.
Hans menatap Selena datar. Kenapa istrinya seperti ketakutan dan gelisah seperti itu?
“Kau kenapa?”
“Bertahanlah, 1 jam lagi kita bisa pulang. Jika kau tidak nyaman, duduklah disana…”
Selena menganggukkan kepalanya dan duduk disofa yang berada sedikit jauh dari pesta. Seorang gadis manis mendatangi Selena, mereka duduk disebelah Selena membuat keringat mengucur deras didahi Selena.
“Hai, boleh kita berkenalan?”
“Ha-hallo, saya Selena…”
“Aku Joe, salam kenal…” katanya tersenyum hangat kearah Selena.
Selena membalas senyuman gadis itu.
“Berapa umurmu?” tanya gadis itu.
“18 tahun…”
“Wah! Kita seumuran! Kau kuliah dimana?”
__ADS_1
“Royal University…”
“Kita sama! Aku juga kuliah disana, mari kita berteman”
Selena tersenyum dan membalas uluran tangan gadis itu. Gadis itu dan Selena saling tersenyum hangat dan mulai mengobrol. Melihat istrinya yang sedang sibuk mengobrol membuat Hans bisa sedikit focus ke urusan bisnisnya.
Joe dan Selena saling bertukar nomor telfon. Mereka satu kampus, mungkin Joe bisa menjadi teman baik Selena selama dikampus.
Joe menatap hangat Selena, ia sangat menyukai teman barunya ini. Entah kenapa mengobrol dengan Selena membuat perasaanya nyaman dan hangat. Karena mereka satu kampus ia bisa menjemput Selena saat akan
berangkat ke kampus. Yah walaupun mereka berbeda fakultas.
Seorang pria mendatangi Joe dan Selena yang asik mengobrol.
“Hai, kita bertemu lagi”
“Ah! anda yang membantu saya di supermarket waktu itu bukan?” ujar Selena.
Pria itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
“Kak, kau kenal dengan Selena?” tanya Joe.
“Kami hanya pernah bertemu di supermarket” jawabnya.
Joe menganggukkan kepalanya. Sedangkan Selena menatap tak percaya Joe, ternyata pria yang membantunya di supermarket adalah kakak Joe. Kebetulan sekali ya.
Daniel, itulah nama kakak Joe.
Hans menatap kesal Selena. Dengan langkah cepat Hans langsung menarik tangan Selena dan menyeretnya keluar dari gedung itu. Hans melempar tubuh Selena kedalam mobil dan langsung menyetir dengan kecepatan
penuh.
.
.
.
__ADS_1