Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 134 : Last Flashback!


__ADS_3

.


.


.


Mendengar teriakan Mafia miliknya, Ruvelis segera berlari kearah sumber suara. Dan itu berasal dari ruang incubator putrinya. Ia menatap incubator yang kosong dan dokter yang tertembak sedangkan Mafianya sedang sibuk memberikan perintah kepada seseorang.


Ruvelis menutupi hidungnya ketika mencium gas bius yang sangat menyengat diruangan itu.


“Di mana putriku?!!”


“Jenderal besar! 2 orang menerobos masuk melewati jendela, mereka menembak semua dokter dan mengambil Nona kecil!”


“A-apa?!”


“Kepung rumah sakit sekarang juga! Hentikan akses keluar masuk! Jangan biarkan dia membawa putriku!!!”


“Laksanakan!”


Jennifer yang baru datang langsung menghampiri sumber keributan. Ia menatap kakak iparnya yang panik sembari menelfon seseorang.


“Ada apa ini?”


“Jennifer! Kau melihat orang yang membawa putriku?!”


“Jangan panik, aku akan meminta bawahanku mencarinya”


“Tidak panik bagaimana?! Kondisi putriku masih sangat lemah!!” bentak Ruvelis.


“Kendalikan dirimu Ruvelis! Semakin kau panik semakin kau tidak bisa berpikir jernih! Tenanglah, dia pasti tidak jauh dari rumah sakit ini” ucap George.


“Jenderal besar! 2 orang menuju ke atap rumah sakit! Mereka membawa Nona kecil!”


Mendengar hal itu membuat Ruvelis bergegas masuk kedalam lift sedangkan lainnya langsung bergegas menaiki tangga untuk ke atap. Angin yang berhembus dingin membuat perasaan cemas semakin bertambah di pikiran Ruvelis.


“Kembalikan dia!” ucap Ruvelis ketika melihat 2 pria tengah berdiri diatas pagar.


“Ruvelis…ternyata kau…pria yang dicintai adikku, kenapa kau menolak pernyataan cinta adikku? Kenapa kau tidak mau menjadi suami keduanya?”


“Kalian?!”


“Benar, kami kakak Yeni. Kenapa? Apa bayi ini anakmu? Ahhhhh…dia benar-benar cantik. Dia sangat mirip denganmu, sama-sama menjengkelkan” ucap pria itu semakin memundurkan langkahnya.


“Berhenti ditempatmu!! Jika kau berani melangkah sekali lagi…” ucap George.


“Kau mau apa? Membunuhku? Kau boleh membunuhku, karena jika kau melakukan itu…aku akan mati bersama anak ini. Coba kita lihat, apa bayi kecil ini masih bisa hidup jika dijatuhkan dari ketinggian ini?” tantang pria itu kepada Ruvelis dan juga George.


Jennifer dan lainnya pun sampai di atap, mereka tersentak kaget melihat seorang pria yang berdiri di atas pembatas sembari menggendong seorang bayi.


“Wah lihat…bayimu menjadi dingin”


“Katakan! Apa yang kau inginkan?!” ucap Tuan Alexandra. Ia akan memberikan apapun asalkan pria itu melepaskan cucunya.


Ruvelis hanya diam di tempatnya, berpikir untuk melakukan gerakan selanjutnya.


“Minta Ruvelis, menjadi suami kedua adikku”


“Jangan gila! Berikan bayi itu sekarang! Atau kau mati hari ini juga!” ucap George mengepalkan tangannya.


Kedua pria itu saling menatap lalu tersenyum, jika bayi ini sangat berharga bagi Ruvelis. Maka mereka akan melenyapkan bayi ini agar Ruvelis menderita, beraninya pria itu membuat adik mereka menangis.


“Jika itu yang kau inginkan…baiklah…”


Ruvelis mengeluarkan pistolnya dan mengisinya dengan peluru. Kedua pria itu tersentak kaget melihat tindakan Ruvelis, apa pria itu serius?! Apa pria itu ingin mereka mati bersama bayi ini?!.


“Jangan gila Ruvelis! Anakmu bisa mati jika kau membunuh mereka!” ucap George.


“Bajin*an yang sudah berani menyentuh putriku, tak pantas untuk hidup lagi”


Ruvelis menodongkan pistolnya, ia bukan pria yang bisa diajak bermain-main dengan seenaknya. Mau mati? Ia akan menurutinya. Karena itu, adalah hukuman yang pantas bagi orang yang sudah berani melakukan hal rendah seperti ini.


“Dalam hitungan ke-3, kupastikan kepala kalian akan hancur dengan dua peluru”


“3…”


Dor


Dor!


2 tempakan tepat mengenai kedua kepala pria itu, kedua pria itu langsung tumbang kebawah. Ruvelis langsung berlari lalu meloncat meraih tubuh putrinya. Ruvelis tersenyum saat bayinya sudah berada didalam dekapannya.

__ADS_1


“Jangan takut sayang…Papa disini, jangan takut. Papa akan melindungimu”


Tangan kanan Ruvelis berpegangan pada salah satu pagar balkon kamar di lantai 5, ia meloncat ke balkon tersebut dan menghembuskan nafasnya. Ia menatap wajah putrinya.


“George! Cepat ke lantai 5! Cepat tangani keponakanku!” ucap Jennifer.


“Nara?!!” Ruvelis tersentak kaget melihat wajah putrinya yang memucat, dengan segera dia mendobrak pintu balkon dan segera berlari mencari dokter agar putrinya bisa segera ditangani.


“George! Apa yang terjadi kepada putriku?!” ucap Ruvelis ketika melihat sahabatnya keluar dari dalam lift.


“Berikan dia kepadaku, aku akan menanganinya”


Ruvelis memberikan putrinya kepada George, George mendekap hangat bayi kecil itu dan membawanya ke NICU.


Ruvelis terdiam membatu didepan pintu NICU, apa putrinya baik-baik saja? Apa yang terjadi kepada putrinya? Kenapa putrinya pucat seperti itu?.


“Ruvelis…” lirih Tuan Alexandra.


“Pa…a-apa putriku baik-baik saja?”


“Dia pasti baik-baik saja, George bisa menaganinya”


“Tubuhnya dingin pa, wajahnya pucat…aku takut dia kenapa-napa” suara Ruvelis terdengar gemetar.


“Dia pasti baik-baik saja, Papa yakin…”


“Keluarga Jonh, mereka harus membayar perbuatan mereka” geram Jennifer menggenggam erat pistol ditangannya.


Jennifer mengambil kunci mobil milik Deon dan pergi begitu saja. Keluarga sial*n itu! Ia akan memberikan pelajaran kepada mereka hari ini juga.


“Hubungi Wei, minta dia memantau keluarga John. Salah satu dari keluarga itu…harus mati ditanganku”


“Ba-baik Nona”


“Apa perlu kuikuti dia?” tanya Jeff.


“Tidak perlu, biarkan dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Tak siapapun…boleh menyakiti pewaris keluarga Alexandra” jawab Tuan Alexandra dengan tatapan dinginya.


Tak berselang lama George keluar dari NICU. Ruvelis langsung mencengkram bahu George dengan erat.


“Apa putriku baik-baik saja?! Dia tidak terluka bukan?! Bagaimana kondisinya sekarang?”


“Dia adalah putri Jenderal besar Nami tentu saja dia baik-baik saja, dia hanya kedinginan karena udara dingin. Naramu akan baik-baik saja dalam 2 hari kedepan. Kau bisa masuk jika ingin melihatnya”


“Nara…sayang…maaf…Papa tidak melindungi Nara dengan baik…”


Ruvelis menyentuh incubator itu lalu tersenyum.


“Sehat-sehat ya sayang…”


.


.


.


Jennifer meneguk winenya dengan santai sembari memainkan pistol ditangannya. Ia menatap dingin jam tangannya sembari menunggu seseorang membawakan mangsanya.


“Nona besar! Saya membawakan mangsa anda!” Wei datang sembari melemparkan seorang pria dengan matayang tertutup. Pria itu memberontak mencoba melepaskan ikatan di tangannya.


Jennifer meletakkan winenya dan menghampiri pria itu. Ahhhh…satu juga lumayan, jika Yeni berani membahayakan keponakannya. Maka ia juga berani membunuh salah satu adiknya.


“Hallo, bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja bukan? Bawahanku hanya memukulimu bukan? Seharusnya kau pasrah saja agar bawahanku tidak memukulmu tadi”


“Lepaskan aku sial*n! Apa kau tidak tau siapa aku?! Aku Tuan muda keluarga John!”


“Hhn, keluarga John? Keluarga yang mana ya?  Coba kuingat-ingat, seingatku. Dijejeran 10 keluaga besar tidak ada yang namanya keluaga John” sinis Jennifer.


“Dasar jala*g murahan! Lepaskan aku sekarang juga!”


“Huuuuu…melepaskanmu? Susah susah bawahnku menangkapmu lalu kau mau lepas begitu saja? Tidak semudah itu Tuan muda…”


“Lalu kau mau apa sekarang hah?!”


“Hmmmm mau apa ya? Mau membunuhmu”


“A-apa?!”


“Kau tau, kedua kakakmu…sudah mati hari ini. Dan sekarang, kau akan menyusul mereka”


Jennifer menatap bawahannya yang tengah memakai sarung tangan siap untuk mengeksekusi mangsa mereka.

__ADS_1


“Kuliti dia hidup-hidup, lalu bakar tempat ini”


“Siap laksanakan!”


“Tidak!!!! Lepaskan aku!!!!!”


Jennifer mengambil ponsel pria itu yang terjatuh saat para bawahannya menyeretnya keruangan bawah tanah. Hmmm…sepertinya seru jika sedikit bermain-main dengan rubah merah itu.


Telfonpun terhubung.


“Ryan!! Kau di mana?! Ada kabar buruk!! Kakak pertama dan kedua sudah meninggal! Kau cepat pulang!! Jangan sampai tertangkap oleh mereka!!!”


“Hmmmm Yeni…adikmu baru saja kukuliti hidup-hidup” ucap Jennifer memberatkan suaranya.


“A-apa?!! Siapa kau?!!! Lepaskan adikku sekarang juga!!!!”


“Santai bro…aku hanya ingin mengulitinya lalu membakarnya hidup-hidup. Aku tidak akan menyiram cairan keras di tubuhnya setelah di kuliti, jadi…biarkan dia menikmati permainanku”


“Dasar penjahat!!! Lepaskan dia sekarang atau kau akan mendekam dipenjara!!”


“Aku tidak takut dengan polisi…panggil saja mereka kemari. Alamatnya ada di jalan…hmmm dijalan mana ini ya? Suruh saja nanti polisi mencari rumah yang terbakar disebelah gudang terbengkalai. Aku sedang di situ”


“Cepat suruh polisi ke rumah di sebelah gudang terbengkalai! Jangan sampai Ryan kenapa-napa!!”


“Yeni…seharusnya kau tau, ini akibatnya jika kau berani mengusik putriku. Kau berani membuat putriku kedinginan dan ketakutan…maka aku berusmpah. Akan membunuh putrimu yang lahir ke dunia ini” ancam Jennifer.


Tut…


.


.


.


Flashback Off


.


.


.


Alexandra Family


Anderson Arlanta Nami Zachery Alexandra ( Tuan besar Alexandra )



Aznovera Naomi Ruvelis Anderson Devano Alexandra ( Jenderal besar Nami )



Azerland Raffael Deon Anderson Devano Alexandra



Aznovara Andra Jeffery Anderson Devano Alexandra ( Jenderal muda Andra )



Azerland Joanna Liekai Anderson Devano Alexandra



Aznovara Rhys Thomas Anderson Devano Alexandra  ( Jenderal muda Rhys )



Azerland Reyhan Louis Anderson Devano Alexandra



Aznovara Raymond Alexa Anderson Devano Alexandra



Azerland Arion ivona Lewis Anderson Devano Alexandra ( Jenderal muda Arion )



Aznovara Ravinder Lonza Anderson Devano Alexandra

__ADS_1



__ADS_2