
.
.
.
Saat sampai di A.S langit masih begitu gelap. Leo menatap istrinya yang tertidur dipelukannya, seharusnya tadi ia terbang saat malam hari saja, dengan begitu keadaan disini sudah pagi tidak subuh begini.
“Mau ke hotel atau langsung ke apartementmu Leo?”
“Sepertinya langsung ke penthouse saja. Kan lokasinya juga lebih dekat dengan mansion Hans”
“Kau benar, mobil sudah siap. Ayo turun, mau kubantu gendong Selena?”
“Ya, terima kasih”
Daniel dengan perlahan melepaksan pelukan Selena kepada Leo. Leo langsung merasakan keram dikedua kakinya, melihat hal itu membuat Daniel menunjukan senyum evilnya. Dengan sengaja ia menyenggol kaki Leo membuat pria itu langsung menutup mulut menggunakan tangannya agar tidak berteriak.
“Awas kau nanti Daniel…sial*n kau…” geram Leo.
“Balas saja kalau kau bisa bleee…”
Daniel membawa Selena turun dari pesawat pribadi Leo, sedangkan Leo dibantu oleh pilot dan co-pilot untuk berdiri.
“Tuan, biar saya yang menggendong Nyonya muda” ucap Jean menghampiri Daniel.
“Memangnya kau kuat?”
“Saya bisa”
Daniel yang sedikit ragu langsung menoleh kearah Leo yang tengah kesulitan berjalan karena keram. Ia pun memberikan Selena kepada Jean dan membantu Leo turun dari pesawat.
“Kau pria sial*n…” ucap Leo.
“Eittt…aku tidak bisa macam-macam denganku sekarang” ejek Daniel.
*********
Selena membuka matanya dan merenggangkan badannya, hmmmm ia sudah di apartement Leo? Kenapa Leo tidak membangunkannya saat turun dari pesawat tadi.
“Sayang, sudah bangun? Ayo mandi setelah itu sarapan ya”
“Hm…kapan sampainya?”
“Jam 3 tadi, sudah jam 7. Ayo mandi dan turun sarapan ya, aku sudah menyiapkan bajumu”
“Mandikan…” ucap Selena merentangkan kedua tangannya.
“Aku tau kau hanya ingin mengerjaiku, aku sudah mandi. Ayo cepat mandi, nanti makanannya dingin”
Selena memajukan bibirnya, gagal sudah acaranya mengerjai suaminya. Padahal tadi ia berniat mau membuat Leo bermain air bersamanya. Ia turun dari tempat tidur dan menghempiri suaminya, ia mengecup singkat bibir suaminya.
“Morning kiss…” ucap Selena sembari tersenyum setelah itu langsung masuk kedalam kamar mandi.
Leo tersenyum manis, ia membuka lemari dan menyiapkan pakaian untuk istrinya. Lucunya jika istri kecilnya sedang ingin bermanja seperti itu kepadanya.
“Sayang…mandinya hati-hati ya. Jangan sampai terpeleset” ucap Leo mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
“Iya, tunggu diluar…jangan kemana-mana”
“Iya, aku disini”
.
.
.
Selena membuka pintu mobil suaminya ketika mobil itu berheti didepan kediaman Hans. Setelah sekian lama, tempat yang tidak ingin ia kunjungi lagi pada akhirnya ia kemari. Dan ia berharap, semoga ini yang terakhir kalinya ia menginjakkan kaki disini.
“Wei dan Rafindra akan disini bersamamu, nanti kalau sudah selesia telfon aku ya” ucap Leo.
Selena mengangguk dan menunduk untuk mencium bibir suaminya. Leo tersenyum dan membalas ciuman yang diberikan istrinya kepadanya.
Setelah beberapa saat berciuman Leo melepaskan ciumannya dan segera pergi dari kediaman Hans. Selena merona malu pasalnya saat ia berciuman dengan Leo, Rafindra dan Wei menahan tawanya.
“Sampai kalian tertawa awas saja!” ucap Selena menahan malunya.
Selena melangkahkan kakinya, ia menghembuskan nafas ketika hendak menekan bel kediaman Hans. Namun ia mengurungkan niatnya ketika hendak menekan bel, ia menatap pot bunga yang berada di sebelahnya. Tangannya menarik sesuatu keluar dari pot bunga itu. ia membersihkan keycard yang kotor karena tanah itu dan menempelkannya di pintu. Dengan perlahan pintu kediaman itu terbuka…semua orang yang berada diruang tamu sontak menoleh kearah pintu yang terbuka.
“Anda sudah datang Nona!” Gerry langsung bergegas menghampiri Selena.
“Hans masih belum keluar kamar?” ucap Selena.
“Jika dia sudah keluar kamar, Gerry tidak mungkin memintamu kemari” sinis Jansen.
“Adakah aku bicara denganmu, Jansen…?”
Selena melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu. Saat sudah berada didepan kamar Selena mengetuk pintu beberapa kali.
“Jika kau belum mati, buka pintunya dan temui aku”
Tak berselang lama pintu terbuka, Hans dengan wjaha pucatnya menatap Selena dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
“Ini kau sayang? Aku tidak sedang bermimpi bukan?” ucap Hans meraih tangan Selena yang berbalut sarung tangan.
“Bersihkan tubuhmu dan kutunggu diruang makan”
Selena melepaskan genggaman tangan Hans dan menuruni anak tangga, Hans langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selena pergi ke dapur, ia memasak bubur untuk Hans. Rafindra yang melihat itu bergegas menghampiri Nonanya dan mencekal tangan Selena.
“Aku baik-baik saja, sudah…Paman tunggu diluar saja”
“Tidak, Tuan tidak memperbolehkan anda memasak”
“Nanti aku yang akan bicara dengan Leo, sudah…sana” ucap Selena sembari tersenyum.
Beberapa menit kemudian bubur yang dimasak Selena selesai diikuti Hans yang menuruni tangga dengan teruru-buru. Semua orang yang berada di ruang tamu tak mampu menahan senyumnya ketika melihat Hans yang sudah mulai kembali seperti biasa.
“Habiskan bubur ini, setelah itu minum vitamintmu. Setelahnya kita bicara diruang tamu”
“Temani aku disini…” pinta Hans mencekal tangan Selena yang hendak pergi keruang tamu.
Selena mengalah, ia duduk dihadapan Hans, Hans tak mampu menahan senyumnya melihat wanita yang ia rindukan beberapa hari ini.
“Habiskan buburmu, dan jangan terus memandangiku”
“Aku sangat merindukanmu…” ucap Hans.
“Jika kau tidak segera memakan buburmu, aku akan pergi sekarang”
“Tidak, aku akan makan sekarang”
Hans memakan buburnya dengan perlahan, perutnya merasa tidak nyaman. Tapi mungkin ini efek karena ia tidak makan beberapa hari.
Setelah selesai makan Selena dan Hans menuju ruang tamu, tatapan benci dilayangkan Jansen kepada Selena namun Selena hanya santai menanggapi kelakukan Jansen.
“Kau kemana saja? Aku benar-benar merindukanmu…”
“Apa kau sudah lupa jika aku sudah bersuami? Hubungan kita juga sudah lama berakhir”
“Bisakah kau menjaga perkataanmu hari ini saja?” ucap Jansen.
“Ada apa dengan reaksimu Jansen? Bukankah kau yang sangat bersemangat ketika hubunganku dengan Hans berakhir?” dingin Selena.
Jansen terdiam, jika bukan karena kebaikan Hans ia tak akan sudi wanita ini bertemu dengan Hans lagi. Apa wanita ini pikir karena dia adalah Nyonya Iskandar jadi dia bisa seenaknya begitu?.
“Wei, berikan berkasnya kepadaku”
Wei melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang tamu dan memberikan 2 berkas kepada Selena. Selena menerima berkas itu dan meletekannya dimeja.
“Berhubung karena aku ada disini, jadi…lebih baik kita menyelesaikan permasalah kita sampai akar Hans” ucap Selena.
Selena mengeluarkan sebuah cek kosong dari sakunya dan menulis nominal yang sama dikertas itu. Setelah selesai Selena memberikan cek itu kepada Hans.
“Hutang Mamaku kepadamu…sudah selesai”
“Tidak…jangan seperti ini…aku tak butuh uang ini...aku hanya membutuhkanmu” ucap Hans.
Selena hanya diam dan meletakkan cek itu diatas meja setelah itu ia menandatangani surta berakhirnya hubungannya bersama Hans.
“Barang-barang yang kau berikan kepadaku aku sudah mengembalikannya. Jadi kuharap…mulai hari ini, kita tidak perlu lagi saling bertemu ataupun berbicara”
Hans mencekal tangan Selena saat Selena hendak pergi, Hans meraih kedua tangan Selena dan menciumnya.
“Kumohon…berikan aku satu kali kesempatan lagi untuk menebus segalanya. Biarkan aku menebus kesalahanku kepadamu…” ucap Hans dengan wajah sendunya.
“Aku tak mengerti apa maksudmu” ucap Selena melepaskan tangannya dari genggaman Hans.
“Berikan aku sekali lagi kesempatan untuk membuatmu kembali padaku”
Ucapan Hans langsung membulatkan mata Rafindra dan Wei serta yang lainnya. Bahkan si empu pun ikut terkejut mendengar ucapan Hans yang seperti melantur.
“Kau gila” dingin Selena.
Selena membalik badannya, namun saat ia melangkah pergi suara Hans menghentikan langkahnya.
“Apa kau tidak mencintaiku sedikitpun?”
“Cinta? Bullshit!” sinis Selena.
“Aku yakin kau masih mencintaiku!” ucap Hans.
“Setelah semua yang kau dan keluargamu perbuat kepadaku kau masih berharap aku mencintaimu? Kau gila!! I don’t love you anymore Okey?!”
“Dan terima kasih, terima kasih untuk semua yang kau berikan kepadaku. Goodbye…”
Hans berdiri dan membalik tubuh Selena, ia bertulut dihadapan Selena sembari menggenggam kedua tangan kecil Selena. Jansen dan lainnya tersentak kaget, Jansen sontak langsung mencoba membantu Hans berdiri.
“Berdiri! Untuk apa kau berlutut seperti ini kepadanya?!” ucap Jansen.
“I’m sorry…I’m so sorry” ucap Hans menyembunyikan wajahnya di kedua tangan Selena.
“Do you love me?” tanya Selena.
Mendengar perkataan Selena membuat Hans langsung mendongkakan wajahnya menatap wajah Selena.
__ADS_1
“Do you love me Mr. Georgino?” tanya Selena sekali lagi.
“I…”
“Anda tidak mencintai saya…jadi kenapa saya harus mencintai anda? Jawab saya Tuan Georgino yang terhormat”
“I… i don’t know…”
Sudut bibir Selena terangkat, gadis itu menghembuskan nafasnya. Ia akan mencintai pria lain disaat ia mendapatkan suami sebaik, selembut, dan sepengertian Leo? Oh…takdir sedang bercanda kepadanya.
“Banyak alasan Hans…banyak alasan mengapa aku menyingkirkan cintaku kepadamu. Aku akui aku egois sekarang, disaat aku masih bersamamu aku menikah dengan pria lain, aku tau aku egois karena mementingkan diriku sendiri”
“Kau menyadari hal itu dan masih tidak tau diri huh?” sinis Jansen.
“Diam kau Jansen!! Katakan alasannya…katakan alasan mengapa kau menyingkirkan cintamu kepadaku. Aku akan mencoba memperbaikinya…maka dari itu kembali kepadaku Okey? Kau ingin pernikahan yang sah dan sempurna? Akan kukabulkan…” ucap Hans.
“Kau pikir siapa dirimu berani mengatakan hal itu?”
“Apa dengan kau memperbaiki kesalahanmu akan membuatku kembali kepadamu dan meninggalkan suami yang begitu sempurna dimataku? Kau tidak selembut Leo, kau tidak sepengertian Leo, dan kau tidak sehangat Leo. Jadi katakan alasan mengapa aku harus meninggalkan pria seperti itu demi dirimu yang bahkan…tak bisa dibandingkan dari segi manapun”
Hans langsung tersentak mendengar ucapan dingin Selena, ia akui…ia akui ia sangat bersalah kepada Selena. Ia tidak memperlakukan Selena dengan baik saat bersamanya.
“Jaga perkataanmu sial*n!! Siapa kau berani mengatakan hal itu kepada Hans?! Apa karena kau adalah Nyonya Iskandar?! Ingat! Kau hanya Nyonya Iskandar! Bukan anggota asli keluarga Iskandar!! Jika Tuan muda Iskandar sudah bosan kepadamu aku yakin dia akan menceraikanmu dan mencari wanita lain yang lebih sempurna darimu!!” geram Jansen.
“Apa kau cari mati mengatakan hal itu didepan Nona besar Alexandra?!!!” batin Rafindra dan Wei.
“Stupid” sinis Selena. Satu kata…satu kata yang langsung membuat wajah Jansen merah padam menahan amarah.
“Leo akan menceraikanku? Heh, sorry…pewaris keluarga Iskandar…tidak sebajingan keturunan keluarga Georgino”
Jansen seketika mengepalkan tangannya mendengar perkataan Selena, wanita didepannya ini beraninya mengatakan hal seperti itu…dan dihadapan Hans!. Tidak…ia tidak bisa menoleransi ucapan Selena kali ini.
“Kenapa? Tidak terima? Toh ucapanku benar kan? Kalau tidak yakin coba tanya Tuan Rafindra. Dia tau semua rahasia keluarga Georgino”
“Tutup mulutmu Selena!!!”
“Tuan!! Tahan emosi anda…” ucap Gerry menahan tangan Jansen yang hendak menampar Selena.
“Kenapa? Mau menamparku, tampar!! Tampar sepuasmu! Dan kau akan tau hal yang akan kulakukan setelah itu”
Peter mendekat dan membantu Hans berdiri, pria itu membantu Hans berdiri tanpa berani menatap wajah Selena. Apa yang dikatakan Selena adalah sebuah kebenaran. Dan Jansen tidak mungkin bisa menyangkal kenyataan itu.
“Katakan di mana letak kesalahan perkataanku”
“Kau-”
“Pria yang tidak bisa melindungi wanitanya karena keluarganya bukankah seharusnya aku melepaskan pria seperti itu? Toh walaupun jika Leo tidak hadir diantara aku dan Hans…ada Daniel…”
Jansen semakin geram mendengar ucapan Selena. Tidak bisa…ia tidak bisa membiarkan wanita itu menjatuhkan mental Hans lagi. Ia harus membuat mental wanita itu jatuh sehingga wanita itu malu untuk mengangkat kepalanya lagi.
“Apa kau tidak sadar diri?!! Kau berhubungan dengan pria lain saat kau masih terikat dengan Hans!! Kau ditiduri pria lain setelah Hans menidurimu!! Apa kau tidak punya malu?!! Setelah ditiduri Tuan muda Georgino dan Tuan muda Iskandar apa setelah itu kau mau ditiduri juga oleh Tuan muda Jasson?! Seharusnya kau sadar jika kau!! Sama saja dengan murahan!! Kenapa kau tidak menjadi pela*ur saja huh?!” sarkas Jansen.
Ucapan Jansen langsung membuat raut wajah Selena berubah masam. Wei, Rafindra, Peter, William, Gerry, dan Merry seketika memucat ketika melihat raut wajah tak senang Selena.
Sudut bibir Selena terangkat, ia melangkahkan kakinya untuk duduk disofa, Selena menyilangkan kakinya dan duduk dengan nyaman di sofa itu. Senandung kecil keluar dari mulut Selena membuat keringat dingin langsung mengucur deras dari dahi Rafindra dan Wei.
Jansen tersenyum puas melihat Selena yang tidak bsia berkata-kata lagi. Apa yang ia katakan adalah sebuah fakta yang tidak bisa diubah oleh siapapun!!.
“Paman Raf, orang seperti ini…baiknya dilawan atau langsung dihukum? Atau…langsung dikirim ke alam baka saja huh?”
Rafindra langsung bertekuk lutut mendengar ucapan Selena. Melihat hal itu membuat Wei langsung mengikuti apa yang dilakukan oleh Rafindra.
“Saya tidak berani menjawab Nona besar”
“Kau orang yang lucu Jansen…apa kau pikir aku juga ingin seperti ini? Tidak! Jika kau berpikir bahwa aku tidur dengan Hans selama ini karena aku menginginkannya maka kau salah besar!! Selama ini aku tidur dengan Hans…hanya untuk melindungi diriku sendiri!”
Hans seketika membeku mendengar ucapan Selena.
“A-apa?”
“Jika aku menolak Hans untuk berhubungan badan, maka aku tak bsia membayangkan apa yang akan dilakukan Hans kepadaku. Saat itu…aku sendirian di Negara ini. Aku hanya mengenal Joe dan juga Daniel. Selain mengikuti apa yang menjadi keinginan Hans…tidak ada yang bisa kulakukan lagi”
“Ucapanmu…benar-benar tidak bisa dipercaya”
“Kau tidak percaya karena bukan kau yang mengalaminya. Tidak ada wanita yang suka kekerasan fisik dalam rumah tangganya. Aku seorang wanita biasa Jansen, Negara ini adalah tempat yang sangat asing untukku. Kehidupan sosial yang berbeda, perilaku yang berbeda…sangat sulit beradaptasi sendirian di Negara ini. Tapi
itu semua berubah ketika aku mulai dekat dengan Daniel, Leo pulang ke Negara ini, dan Mama terbang kemari untuk menemaniku”
Hans seketika terdiam mendengar ucapan Selena. Ia benar-benar tidak mampu untuk mengatakan sepatah katapun sekarang.
“Dan karena kau sudah menyinggung perasaanku…mari kita habiskan permasalahan antara aku dan Hans”
“Jangan macam-macam Selena!!” geram Jansen.
Selena tak menggubris ucapan Jansen, ia meminta Rafindra untuk ke kamar Hans dan mengambilkan laptopnya yang berada didalam lemari. Rafindra yang tak ingin membuat amarah Selena semakin naik langsung pergi ke kamar Hans dan mengambil barang yang di inginkan Nona besarnya.
“Jika kau pikir beberapa bulan aku tinggal bersama Hans aku hanya kuliah, mengerjakan pekerjaan rumah, mencari pekerjaan sampingan, dan juga melayani Hans maka sepertinya dugaan kalian salah besar. Selama disini…tidak ada satu rahasiapun yang tidak kuketahui…” ucap Selena dengan senyum sinisnya.
Ucapan Selena langsung membuat Merry, Hans, Peter, William, dan Jansen menelan ludahnya dengan kasar.
.
.
__ADS_1
.