
.
.
.
Hans membuka matanya dengan perlahan, ia duduk dan melamun untuk sekejap sebelum masuk kedalam kamar mandi. Ia akan mencoba menjalani kehidupannya seperti dulu meskipun tubuhnya terasa malas untuk keluar.
“Selena benar…jika aku tidak terlalut dalam dendam dan menjadi boneka keluarga…maka semuanya tidak akan menjadi seperti ini…”
Setelah selesai membersihkan diri Hans bersiap untuk pergi ke kantor, ia menuruni tangga dan langsung pergi begitu saja mengacuhkan Bellina yang memanggil namanya dari arah ruang makan.
Bellina mengepalkan tangannya geram, ia benci diacuhkan. Tapi…jika bukan karena ia mencintai Hans. Maka ia tidak akan mau mengandung anak Hans yang sekarang berada di rahimnya.
“Wanita itu…apa yang membuat Hans menggilainya sampai seperti ini? Dia bahkan tak memandangku sedikitpun…”
Bellina berteriak geram, ia membuang masakan yang ia siapkan di atas meja satu persatu.
Hans menyetir mobilnya menuju café, ia turun dari mobil dan masuk kedalam café itu memesan makanan serta minuman. Namun ditengah cara makannya seorang pria berumur menghampirinya dan bertanya bolehkah pria itu duduk satu meja dengannya.
“Silahkan” jawab Hans.
Pria itu duduk dan memandangi Hans dengan tatapan yang sulit terbacakan.
“Tuan, tolong jangan melihat saya seperti itu” dingin Hans.
“Bolehkah saya berkata sesuatu kepada anda?”
“Apa setelah itu anda tidak akan memandangi saya lagi?” tanya Hans.
“Iya…”
“Silahkan”
“Burung…burung emas itu sudah terbang bersama dengan telurnya”
Hans seketika menghentikan acara makannya, ia familiar dengan suara pria ini. pria ini…bukankah pria ini yang juga menemuinya di café dan berbicara tentang burung emas dan telur hari itu? Tapi kenapa tampilan dan wajahnya berbeda?.
“Anda…”
“Ternyata anda mengenali saya, saya sudah mengatakannya kepada anda. Kenapa anda tidak mendengarkan ucapan saya?”
“Maaf Tuan, tolong jelaskan maksud ucapan anda mengenai burung emas dan telur itu. Karena saya benar-benar tidak paham dengan apa yang anda ucapkan”
“Tuan…maksud saya mengenai burung emas dna telur itu adalah. Seorang wanita cantik sedang terperangkap disisi anda, ia akan membawa sebuah anak untuk anda. Tapi…sepertinya anda sudah menyia-nyiakan wanita sebaik itu dan membiarkan…anak anda bersama wanita itu lenyap”
Hans seketika tertegun, apa yang dimaksud pria ini adalah anaknya yang gugur? Dan wanita yang dimaksud pria ini…adalah Selena?.
“Wanita itu…adalah calon Ibu dari anak anda. Tapi tanpa sepengetahuan anda…anda sudah membunuh anak kandung anda sendiri. Menyakiti wanita itu berulang kali…dan merenggut hal terakhir yang bisa mengikat dia bersama anda”
“A-apa?”
“Dia…dia seharusnya menjadi wanita yang akan memberikan anak untuk anda. Tapi anda membiarkannya pergi jatuh kedalam genggaman pria lain. Jika anda tidak mengkhianti kepercayaannya, anda tidak akan jatuh serendah ini”
Air mata mengalir keluar dari mata Hans. Dia didepan Hans itu memandang sendu Hans, ia sudah peringatkan pria didepannya ini untuk menjaga dengan baik burung yang sedang jatuh kedalam genggamannya. Tapi kenapa pria ini tidak mau mendengarkannya?.
“Anak yang seharusnya menjadi milik anda…kini menjadi milik orang lain. Tapi anda beruntung…karena anak anda yang gugur…akan menjadi penyelamat anda di masa depan. Kematiannya akan menjadi penyelamat dari kehancuran anda…jadi, tolong…jangan melukai wanita itu lagi”
“Apakah…apakah ada cara untuk membuatnya kembali kepada saya?” tanya Hans.
“Dia…bukan wanita sembarangan, wanita itu…tidak akan pernah kembali ke masa lalunya. Dia memegang prinsip teguh untuk tidak melihat kebelakang dan terus maju kedepan…anda tidak punya kesempatan lagi selain memperlakukannya dan anak-anaknya dengan baik. Setidaknya…hal itu bisa membayar hutang anda kepadanya”
“Lalu…apa maksud dari perkataan ‘2 buah telur dan 1 buah telur yang dibawanya’?” tanya Hans.
“Anda…akan kehilangan orang yang berada disini anda selama. Yaitu…kedua teman baik anda. Mereka bernama…Peter dan William. Mereka berdua akan pergi…untuk membayar hutang mereka”
“A-apa?”
“Hans! Kau ada disini? Kau sedang bicara dengan siapa?” suara Peter membuat Hans langsung memalingkan pandangannya kearah Peter. Namun sedetik kemudian pandangannya kembali kedepan, melihat sosok yang sudah tidak ada. Hans berjingkat kaget…kenapa pria itu pergi?!.
“Hans, ada apa? Kenapa kau telihat bingung seperti itu? Dan kenapa kau ada disini…?”
“Aku yang seharusnya bertanya hal itu kepada kalian, kenapa kalian tidak keperusahaan untuk bekerja dan malah kemari?”
“Ini…karena…kami sudah menyerahkan surat pengundurkan diri kami dari perusahaanmu” jawab William.
“Kenapa…?” tanya Hans.
“Kami memilih berhenti untuk membayar hutang kami kepada Selena…maaf…”
Hans mengepalkan tangannya namun beberapa saat kemudian ia menghembuskan nafasnya. Ternyata Selena bukan hanya mengubah pandangan hidupnya, ternyata Selena bisa mengubah pola pikir ke-2 sahabatnya juga.
“Aku tak bisa menahan kalian…kalian bisa pergi jika itu memang keinginan kalian”
Peter dan William terkejut tak percaya Hans mengatakan hal ini, mereka pikir Hans akan mengamuk jika mereka mengatakan hal ini. Ternyata tidak…
“Jalanmu masih panjang Hans…jangan mengulangi kesalahan yang sama” ucap Peter.
“Ya…terima kasih. Aku akan keperusahaan sekarang”
“Ya…”
Hans pergi dari café itu, peterdan William saling tersenyum. Mereka ingin berhenti disini, mereka tidak mau menjadi boneka keluarga Georgino lagi.
“Ayo pergi sekarang, jangan sampai Jenderal muda Alexa menunggu”
__ADS_1
“Iya kau benar” jawab William
.
.
.
Yeni menampar pipi Jansen dengan keras, Jansen hanya mampu terdiam ketika mendapatkan tamparan dari Yeni.
“Kenapa kau tidak mencegah Peter dan William?! Jika kedua pria itu pergi bagaimana caraku untuk bisa membawa keluarga Georgino masuk ke kamp hah?!”
“Maaf Nyonya…”
“Sudahlah! Aku muak melihatmu, kau bisa pergi sekarang”
Jansen hanya menganggukkan kepalanya dan pergi dari keluarga Georgino. Yeni berteriak marah, putra bungsunya belum kembali sampai saat ini! Dan juga keluarganya mendapatkan ancaman dari ke-5 Jenderal muda! Bahkan ke-5 Jenderal muda secara resmi mengeluarkan surat untuk tidak akan pernah menyetujui keluarganya masuk kedalam kamp militer!! Sial!! Ini semuanya menjadi kacau karena kehadiran wanita sial*n itu!!!.
“Selena…kau benar-benar wanita sial*n…” geram Yeni.
Peter dan William adalah jalan besar untuk bisa membawa keluarganya masuk kedalam kamp militer, apalagi kedua orang itu adalah salah satu tangan kanan dari Jenderal muda Alexa! Jika Jenderal muda Alexa setuju untuk membawa keluarganya masuk kedalam kamp militer…maka tidak ada keluarga lain yang bsia menandingi keluarganya. Tapi harapannya kenapa Peter dan William musnah!! Karena kedua bajin*an kecil itu berani mengundurkan diri dari sisi putra sulungnya.
*********
Lewis menggendong Selena yang tertidur masuk kedalam kamar, dengan hati-hati ia meletakkan tubuh keponakannya dan melepaskan sepatu serta mantelnya. Lewis dengan lembut mengecup dahi Selena sebelum keluar dari kamar itu.
“Istirahatlah, besok jam 9 akan diadakan upacara kembalinya Selena sekaligus kedatanganmu yang pertama disini” ucap Lewis kepada Daniel.
“A-ah, ba-baik”
“Tunggu, sebelum tidur. Minum vitamintmu dulu, jangan sampai besok kau pingsan ataupun muntah-muntah”
“Baik…”
Daniel masuk kedalam kamarnya, Daniel menatap kamar yang begitu luas dengan interior yang minimalis namun elgeant. Sangat jauh berbeda dengan yang dikatakan Joe dan Leo tentang kamp ini. meskipun saat sampai disini mentalnya sedikit terguncang karena melihat kepala-kepala yang berserakan di mana-mana.
Daniel membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia merogoh skau coatnya dan mengambil botol vitamint yang diberikan Selena saat dipesawat, ia penasaran dengan isi kandungan di vitamint ini yang bisa-bisanya membuat tubuhnya lebih baik.
Daniel meminum vitamint itu sebelum akhirnya terlelap.
.
.
.
Esoknya
Selena menatap Hendrick yang tengah tertidur lelap, ini sudah jam berapa Pamannya masih belum bangun juga?! Kemarin katanya akan ada upacara penting kenapa masih tidur?!.
“Hmmmm…”
“Bagun…ayo bangun!! Bangun tidak?!”
“5 menit lagi Asahi…”
Jenderal Asahi yang berada di samping Selena menahan tawanya. Apa Jenderal besarnya ini sedang main-main dengan Nona besarnya?.
Selena memajukan bibirnya, dengan kesal ia menarik selimut Hendrick dan mengurangi suhu ruangan setelah itu pergi begitu saja. Tak hanya dikamar Hendrick, Selena juga menurunkan semua suhu kamar Pamannya yang juga belum ada satupun yang bangun. Dan tibalah ia dikamar Daniel, dengan perlahan ia membuka pintu kamar Daniel dengan keycard cadangan.
Saat pintu terbuka Selena terbelalak melihat Daniel yang baru selesai mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang pria itu.
“KYAAAAAAAA!!!!”
“AHHHHHH!!! KENAPA KAU TIDAK KETUK PINTU DULU!!!!”
“MAAF!!! AKU BENAR-BENAR TIDAK MELIHAT APA-APA!!!” ucap Selena seraya menutup pintu kamar Daniel dengan keras.
Mendengar teriakan Selena dan Daniel membuat Hendrick dan para Alexandra langsung keluar dari kamar mereka begitupun dengan Rafindra yang langsung berlari mencari Selena walaupun dia tengah menyiapkan perlengkapan Selena dan Hendrick.
“Ada apa?!!” tanya Hendrick dengan wajah paniknya.
“Nona besar! Apa yang sedang terjadi?!” tanya Rafindra.
“O-oh…ti-tidak apa-apa. A-aku hanya melihat Daniel tadi”
Daniel keluar dengan kaos dan celana panjangnya sembari menatap kesal Selena. Ia kesal sekaligus malu pasalnya ini pertama kalinya ada wanita yang melihat tubuhnya selain Mamanya dulu.
“Kalian berdua kenapa? Ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?” tanya Louis.
Selena dan Daniel saling memalingkan wajah dan rona malu dipipi mereka membuat pria-pria yang berada disana mengerutkan keningnya.
“Sudah-sudah, Daniel cepat pakai pakaianmu. Dan sayang, pakaianmu sudah disiapkan Rafindra. Cepat canti, 20 menit lagi upacara akan dimulai”
“Kau ini! Beraninya kau menurunkan suhu kamarku! Sudah bosan hidup ya?!” kesal Hendrick kepada Asahi.
“Tapi…”
“Aku yang menurunkan suhu kamar Paman, kenapa?! Punya masalah Paman dengan itu?!” kesal Selena.
“O-oh…kalau begitu…Paman akan mandi. Cepat bersiap!” jawab Hendrick langsung masuk kedalam kamarnya.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya siap mereka buru-buru menghabiskan makanan yang disiapkan oleh Asahi. Mereka bangun terlalu siang! Seharusnya mereka bangun lebih awal tadi.
Selena memakan makanannya dengan santai sesekali mengambil makanan milik Daniel.
__ADS_1
“Itu punyamu masih banyak kenapa mengambil milikku?”
“Punyamu lebih enak, tukar…”
Daniel menghembuskan nafasnya, ia dengan kesal mengambil makanan didepan Selena dan dengan segera menyuapi gadis itu.
“Nah benar! Suapi sampai habis! Jika tidak besok dia baru selesai makan” ucap Liekai.
Selena menghentikan tangan Daniel yang masih sibuk mengambil makanan.
“Aku makan sendiri!” ucap Selena.
“5 menit harus selesai, 5 menit tidak selesai. Minum susumu”
“Ya ya ya! Kuhabiskan!” jawab Selena dengan cepat memakan makanannya.
“Paman akan kesana terlebih dulu, makan makananmu pelan-pelan. Setelah itu minum vitamintnya, banyak orang baru dalam 2 tahun terakhir. Kendalikan pikiranmu ya” ucap Lewis seraya mengusap kepala keponakanya.
“Iya!”
Para Alexandra beserta Hendrick meninggalkan meja makan itu, meninggalkan Daniel dan Selena yang masih berkutik dengan makanan mereka.
“Hei, kuberi tau satu hal”
“Apa?”
“Jangan hiraukan pandangan mereka kepadamu, hari ini adalah hari pertamamu menjalani pelatihan. Selain kepada latihan, jangan fokuskan pikiranmu kepada hal lain. Apa kau mengerti?”
“Iya…”
Selena menghentikan acara makannya begitupun dengan Daniel, Selena membenarkan pakaiannya dan keluar bersama dengan Daniel.
Selena berdiri dibelakang Rafindra. Beberapa orang pria datang dan membungkuk hormat kepada Rafindra.
“Selamat pagi Tuan Rafindra…”
“Pagi, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana?”
“Lebih baik anda kembali mengambil alih lagi tugas anda, kami benar-benar sudah tidak sanggup lagi menangani tugas anda”
“Baiklah, kalian bisa kembali ke posisi kalian. Aku membawa hadiah untuk kalian atas kerja keras kalian selama aku tidak ada disini”
Pria-pria itu membungkuk sebelum kembali ke barisan mereka. Hendrick berdiri dari tempat duduknya membuat semua orang disana menundukan kepalanya.
“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa hari ini akan diadakan upacara penyambutan Jenderal muda kamp utama dan juga calon Jenderal besar dari kamp utama”
Selena dan Daniel berjalan menghampiri Hendrick, para mantan tangan kanan Ruvelis sekaligus rekan Rafindra gemetar melihat Selena. Ya tuhan…sudah 4 tahun mereka tidak bertemu dengan Tuannya, banyak perubahan pada Tuan mereka.
“Untuk kalian semua, perkenalkan. Dia adalah Jenderal muda Nara, anak tunggal dari mendiang Jenderal besar Nami dan dokter Jenssica”
“Kami memberi hormat kepada Jenderal muda Nara!!!”
Setengah dari barisan itu bertekuk lutut seketika. Sedangkan rekan-rekan Rafindra hanya mempu meneteskan air mata mereka, merindukan sosok Tuan yang mereka layani dari kecil hingga berumur 14 tahun.
Sedangkan Peter dan William yang juga berada disana memucat, wajah mereka begitu pucat dengan kedua kaki yang gemetar hebat.
“Peter, William? Kenapa mereka berdua ada disini?” batin Daniel.
Selena menatap dingin beberapa orang yang tengah berbisik-bisik. Sepertinya benar apa yang dikatakan Hendrick kepadanya bahwa sejak kematian Papanya...aturan resmi sudah mulai edilanggar.
“Mulai hari ini dan seterusnya, Jenderal muda Naralah yang akan memegang kekuasaan penuh milik mendiang Jenderal besar Nami” ucap Hendrick. Akhirnya!!! Ia bebas dari tugas mematikan milik sahabatnya!!!.
“Salah satu kekuasaan yang dipegang oleh Jenderal besar Nami adalah, bisa mencabut posisi atau menurunkan posisi sesuai dengan kemampuan. Karena kekuasaan milik Jenderal besar Nami akan saya pegang sepenuhnya, jadi saya harap…tidak ada satupun peraturan lama yang diubah maupun dilanggar. Bagi siapa saja yang tidak memenuhi kriteria akan dilakukan pencabutan posisi atau penurunan kekuasaan” ucap Selena.
Semua orang yang berada disana menelan ludah dengan kasar termasuk Hendrick dan para Alexandra. Dari semua kekuasaan yang dipegang Jenderal besar Nami, ini adalah salah satu peraturan yang paling mematikan.
“Dan perkenalkan, pemuda disebelah saya ini adalah Daniel. Dia adalah partner saya mulai hari ini dan seterusnya”
“Kami menerima keputusan anda Jenderal muda!”
Rafindra mendekati Selena dan memberikan beberapa kotak jarum, Hendrick dan para Alexandra berkeringat dingin melihat itu.
“Mulai besok dan seterusnya, setiap kali ada upacara. Kalian diwajibkan memakai dua jarum dikerah baju kalian, dan juga saya tegaskan sekali lagi. Bahwasanya, siapapun yang melanggar peraturan yang sudah ditetapkan…akan dikenai sanksi yang sudah ditetapkan”
“Tuan Rafindra, mohon bantuan untuk kedepannya” ucap Selena.
"Saya menerima perintah anda"
Mata Selena melirik kearah Peter dan William, hm? Kenapa 2 orang itu ada disini?.
“Kalian berdua, ikut aku”
Selena pergi dari tempat itu, Peter dan William yang ditunjuk oleh Selena seketika blank. Ya tuhan…mereka harus apa sekarang?!.
Alexa, pria itu menatap kedua tangan kanannya. Apa yang diperbuat kedua orang itu sampai-sampai keponakannya memanggil diacara terbuka seperti ini? Apa kedua orang itu membuat keponakannya dalam masalah selama ia tidak ada?.
“Dia memanggil kalian, cepat temui” dingin Alexa.
“A-ah baik”
.
.
.
__ADS_1