Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (1) : Daniel and Selena Story


__ADS_3

“Aku kehilangan segalanya, aku kehilangan orang-orang yang kucintai. Dengan siapa aku bersandar sekarang?”


.


.


.


Perjuangan dimulai!!


.


.


Selena kembali terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara tangisan anak-anaknya. Dengan rasa kantung yang teramat Selena berdiri dan menghampiri ke-3 box bayi putra putrinya. Mata Selena yang masih sedikit terpejam menatap kesal ke-3 anaknya yang kembali menangis.


Mata dingin Selena melirik kearah jam, ia baru memejamkan selama 10 menit dan bangun lagi karena tangisan ke-3 anaknya. Ya tuhan…apa mereka tidak lelah terus menangis? Mereka terus menerus menangis sejak pulang dari bandara, ia bahkan tak bisa menyentuh pekerjaannya sedikitpun karena terus bergantian menggendong ke-3nya.


“Sayang…jangan menangis lagi…Mama mengantuk…Mama ingin tidur…”


“Oekkkkkk…oekkkkkk…”


Selena mencengkram selimut salah satu anaknya dengan kuat, mencoba meredakan emosinya…tahan…ia harus tahan. Jangan sampai ia mengamuk dan membunuh ke-3 bayi yang bisa saja mati hanya karena sentilannya.


“Duhhhh…kalian kenapa menangis sihhhh? Popok sudah diganti, sudah kenyang, mau apa lagi…? Biarkan Mama tidur”


Bukannya berhenti tangisan ke-3 bayi itu semakin mengeras, Selena mengacak rambutnya frustasi. Ia paling benci jika tidurnya diganggu, apalagi dengan cara seperti ini.


Dengan kesal Selena memindahkan ke-3 anaknya ke tempat tidurnya dan barbaring disamping mereka. tangan kiri Selena hinggap didada ke-3nya, setelah melakukan hal itu tangisan Leon dan Leona perlahan berhenti namun tidak dengan Ryu.


“Haihhhhhh….”


Selena berdiri dan mengambil sebuah music box yang tersimpan di dalam laci kabinet dan memutarnya lalu kembali memeluk ke-3 anaknya.


“Anak Mama pintar…tidur ya sayang…besok Mama bawa kalian jalan-jalan…”


Dengan sabar Selena menepuk dada ke-3nya dengan lembut secara bergantian, selang ebeberapa menit ke-4 makhluk bernyawa itu langsung terlelap ke alam mimpi.


Mikayra dan Deon yang sejak tadi diam-diam mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu tersenyum lucu melihat bagaimana Selena menahan emosinya meladeni anak-anak yang rewel karena ditinggal pergi Papanya.


“Jika terus seperti ini kasihan Selena, lebih baik kita panggil Baby sister Selena dulu saja ma”


“Nara sudah meminta Mama menghubunginya, besok dia akan datang”


“Ya itu bagus, dulu Selena bahkan lebih sulit ditangani daripada mereka”


“Ya bagaimana tidak, Nara hanya mau dengan Papanya saja”


Deon yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan nafas, dari 80 Baby sister yang dipekerjakan Papanya hanya 15 yang mampu bertahan meladeni rewelnya Selena jika ditinggal tugas oleh kakaknya. Ia berharap semoga Leon, Leona dan Ryu lebih mudah ditangani daripada Selena.


********


“Hmmmmm” Selena mengerutkan keningnya ketiak sinar mathari masuk melalui Jenderal yang sudah terbuka lebar. Tangannya dengan sontak bergerak mencari sesuatu di sisi tempat tidurnya yang lain.


Degh!


Selena langsung terbangun dari tempat tidurnya tidak mendapati tidak ada apapun dismaping tempat tidurnya. Di mana anak-anaknya?! Kenapa tiba-tiba hilang?!.


“Paman!!! Opa!! Oma!!! Di mana anak-anak?!!”


Ah shit…kamar ini kan kedap suara, percuma ia teriak sampai suaranya habis tak akan ada yang bisa mendengar teriakannya. Selena turund ari tempat tidur, mencari kesekeliling barang kali anaknya terguling jatuh dan masuk kedalam sesuatu.


“Lain kali aku akan merantai mereka agar tidak hilang”


“Kau cari apa?”


“Di mana anak-anak?!” tanya Selena kepada Deon yang masuk membawa makanan.


“Sedang dimandikan tuh, kenapa?”


Selena menghembuskan nafas lega ketika mendengarnya, sial*n…bisa-bisanya ia langsung panik ketika tidak melihat ke-3 bayi itu di tempat tidurnya. Ia pikir anaknya diculik tadi, tapi itu tidak mungkin mengingat jarang orang tau tempat ini.


“Makanlah dulu, setelah itu mandi”


“Bibi sudah datang?”


“Sudah, dia sedang bersama anak-anak”


Selena menatap kalung yang menggantung di lehernya, ia melepaskan kalung itu dan disimpannya didalam kotak perhiasan, bercampur dengan perhiasannya.


“Kenapa dilepas? Itu cocok untukmu, mau Paman berikan satu?”


“Paman sedang bercanda? Kalung itu hanya ada 3 Okey?”


“Paman bisa ambil punya Zuher, mau?”


“Tidak”

__ADS_1


“Okey”


Selena memakan makanannya dan setelah selesai langsung bergegas membersihkan diri, hari ini ia akan membawa anak-anak untuk jalan-jalan…sekaligus bertemu pasangan yang bisa-bisanya menyembunyikan hubungan mereka darinya.


>>>>>>>


Selena menghembuskan nafasnya tatkala akhirnya ia bisa duduk sejenak setelah membawa anak-anaknya berkeliling menggunakan kereta bayi. Ya tuhan…jika satu bayi ia masih bisa tahan walau serewel apapun, tapi ini 3! 3! Rasanya tubuhnya remuk jika anak-anaknya menangis secara bersamaan dan ditambah jika tidak mau digendong orang lain.


“Nona, saya akan pesan makanan untuk anda. Anda ingin sesuatu?”


“Minuman seperti biasa saja, oh aku juga ingin strawberry cake”


“Baik”


Rafindra segera pergi untuk memesankan minuman serta makanan untuk Nonanya, tak tak lama setelah kepergian Rafindra, Alex dan Joe masuk kedalam café dan duduk didepan Selena.


“Selena!! Bagaimana kabarmu?” ucap Joe berhambur memeluk Selena.


“Aku baik, bagaimana kabarmu?”


“Aku juga baik! Selena, lihatlah Alex”


“Ada apa?” tanya Selena.


“Aku berpikir untuk menikah tahun depan, tapi Alex tidak menyetujuinya. Dia bilang masih terlalu dini” jawab Joe memajukan bibirnya dan itu hanya bisa membuat Alex tertawa.


“Kupikir kita bisa menikah saat usiamu sudah cukup saja Joe” ucap Alex.


Joe memalingkan wajahnya, kesal kepada kekasihnya itu, entah bagaimana bisa ia menerima lamaran pria itu untuk menjadi kekasih. Dan entah sejak kapan juga ia mulai menyukai Alex, oh…mungkin saat Selena dan Daniel berangkat ke kamp hari itu. Mulai hari itu ia banyak dibantu oleh Alex.


“Alex benar Joe”


“Huh! Alex bilang dia sudah siap secara finansial dan mental. Tapi dia masih belum mau menikahiku”


Selena menatap dingin Joe, Joe seperti dirinya dulu. Tak memikirkan konsekuensi jika menikah muda, apalagi diumur yang seharusnya ia gunakan untuk bersenang-senang dengan dunianya. Tapi dunianya sudah lenyap, ia tak bisa bersenang-senang lagi.


“Suamiku juga siap secara mental dan finansial Joe, tapi dia tidak siap secara fisik”


Mendengar hal itu membuat Joe dan Alex terdiam, ya tuhan…mereka lupa jika Selena masih merasa sangat kehilangan karena kepergian Leo dikarenakan penyakit yang sama sekali tidak diketahui oleh Selena.


“Maaf…aku tidak bermaksud…” ucap Joe menundukan kepalanya.


“Selena…perihal di grup chat waktu itu…”


“Lupakan, aku tidak ingin membahasnya lagi”


Tak berselang lama Rafindra kembali dan meletakkan pesanan Nonanya, Selena berdiri dan memberikan Leon kepada Rafindra agar ditidurkan kembali.


“Dengan kakeknya dulu ya, Mama ingin bicara dengan teman Mama”


Selena kembali duduk ditempatnya dan kembali menatap dingin Joe dan Alex.


“Alex, Joe. Boleh kutanya sesuatu?”


“Ya, tanyakanlah” jawab Joe.


“Kalian sudah tau berapa lama jika Daniel menyukaiku?”


Pertanyaan Selena langsung membekukan Joe dan juga Alex, Joe menundukan kepalanya sedangkan Alex menghembuskan nafasnya.


“Kami sudah tau lama, tapi Selena…bukankah terlalu kejam jika mengirim Daniel hanya karena ini?” tanya Alex.


“Kejam? Ada yang tidak kalian ketahui, mau Daniel menyukaiku atau tidak…aku tidak peduli. Daniel adalah calon Jenderal besar kamp utama, aku dulu juga menerima pelatihan yang akan Daniel jalani di kamp 6. Aku bahkan lebih lama berada di kamp 6 daripada Paman Alexa. Tapi biarlah Daniel salah paham”


“A-apa? Apa kau tidak tau betapa cintanya Daniel kepadamu?”


“Maksudmu?” tanya Selena mengerutkan keningnya atas perkataan Joe.


“Daniel belum pernah tertarik kepada  siapapun bahkan sampai mencintai wanita manapun selain dirimu. Ini pertama kalinya dia tertarik kepada seorang wanita, dan kau…” ucap Joe tak berani melanjutkan kalimatnya.


“Hah…Joe, Alex. Aku tak bisa mengulangi kesalahan yang sama, apa yang Daniel sukai dari wanita milik 2 Tuan muda sepertiku? Aku tak tau mengapa Daniel bisa jatuh cinta kepadaku. Aku bukan wanita yang tepat untuknya, jika mengirimnya ke kamp 6 bisa membuatnya menjadi Jenderal besar sekaligus melupakanku…aku tak akan ragu akan keputusanku”


“Tapi ini terlalu kejam!” ucap Joe, ini pertama kalinya ia sangat ingin berdebat dengan Selena. Entah kenapa jika ia tidak bisa mengubah pola pikir Selena kali ini maka ia tak akan pernah merasa puas.


“Kejam? Siapa Daniel, Joe?”


“Dia Tuan muda Jasson”


“Lalu?”


“Dia juga pria yang mencintaimu selain Leo dan Hans” jawab Joe.


“Kau pikir itu cukup?”


“A-apa?” tanya Joe kebingungan atas perkataan Selena. Seorang Daniel belum bisa membuat Selena puas? Mustahil! Daniel bahkan jauh lebih hebat daripada Lucio dan juga Tuan besar Iskandar! Semua wanita bisa tergila-gila kepada Daniel, tapi mengapa Selena tidak?.


“Leo tampan, kaya, berasal dari keluarga ternama, jelas asal usulnya dan juga mencintaiku. Tapi taukah kau? Dia…bukanlah menantu yang sempurna dimata keluarga besar Alexandra. Mungkin terdengar egois mengingat seberapa pengaruhnya seorang Leonardo sekarang, Leo pembisnis…bukan pengacara maupun dokter…sedangkan kriteria menantu idaman keluarga Alexandra, adalah orang yang bisa membantu kemiliteran”

__ADS_1


“Tapi Daniel bisa! Dia bahkan salah satu dokter termuda yang ada! Daniel seorang pembisnis sekaligus dokter! Apa itu masih belum cukup bagi keluarga Alexandra?!” ucap Joe.


“Aku tau Joe, Daniel sudah sempurna jika masuk kedalam kandidat menantu. Tapi sayangnya…dia belum mencapai posisi Jenderal mudanya. Dulu Mamaku baru lulus menjadi dokter saat menikah dengan Papa, lalu apa kau pikir setelah itu Mamaku menjadi menantu di keluarga Alexandra? Tidak…Mamaku, menjalani pelatihannya sebagai tentara pasukan utama. Dan posisi Mamaku…sama dengan posisi Leo sekarang, Letnan Jenderal Leonardo. Dari sultan, Mafia, hingga yakuza…mereka semua mundur karena mendengar syarat sebagai menantu dari keluarga Alexandra”


Joe langsung terdiam mendengar ucapan Selena, hah…seperti apa sebenarnya kriteria menantu yang harus dicapai Daniel agar bisa menikahi Selena?.


“Pernikahanku dan Leo sudah ditentang oleh Opa dan Oma, Leo tidak memenuhi syarat sebagai menantu keluarga Alexandra. Itulah kenapa…diantara ke-3 putra putriku, tak ada satupun dari mereka yang bisa bermarga Alexandra”


“Apa?! Lalu bagaimana keluarga Alexandra bisa meneruskan pewaris mereka jika seperti itu?!” tanya Joe dan Alex.


“Dengan aku menikah lagi, dengan seorang pria…yang membuat puas keluarga Alexandra”


“Lalu…apa Daniel bisa?” tanya Joe.


“Maybe”


“Benarkah?!”


“Mungkin, tapi aku tidak ingin…karena aku tak ingin percaya kepada siapapun lagi sekarang. Aku ingin berdiri dengan kaki sendiri, dan aku tak membutuhkan sayap seseorang untuk bisa menggapai keinginanku”


“Tapi Selena!” ucap Joe berdiri dari tempat duduknya.


“Aku pergi”


Selena memakai maskernya dan mendorong kereta bayi pergi dari café itu, Joe duduk dengan kesal membuat Alex langsung berusaha menenangkan Joe.


“Bagaimana Selena bisa berpikir seperti itu?! Apa dia pikir semua pria sama?! Hanya karena Leo mengkhianti janjinya apa dia tidak mau membuka hatinya untuk pria lain?!”


“Joe…”


“Selena masih sangat muda! Dia bahkan belum genap berusia 19 tahun! Jika dia tidak mencari pengganti Leo bagaimana nasib anak-anaknya?!”


“Joe…bayangkan perasaan Selena saat ini, kita turut ikut campur dengan menyembunyikan penyakit Leo dari Selena. Papanya, Mamanya, Leo, Jenderal besar Hendrick, bahkan sekarang kita dan paman-pamannya ikut campur tangan dengan perubahan sikap Selena seperti ini. Bagaimana Selena mau percaya kepada orang lain setelah dikhianati dan dibohongi seperti itu? Bei bilang, sejak kecil dia tumbuh dilingkungan yang penuh akan kasih sayang…sekarang Leo sudah tidak, mau dengan siapa lagi percaya?” jelas Alex langsung membuat Joe menghembuskan nafasnya. Cihhhh…jika sudah seperti ini ia lebih baik mencari pelampiasan.


******************


Selena menghempaskan tubuhnya disofa kamarnya, akhirnya ia punya waktu untuk dirinya sendiri. Charles masuk kedalam kamar Selena melalui balkon dan memberikan sebuah berkas kepada Selena. Selena menerima berkas itu dan membacanya.


“London dan Kanada tempat yang bagus…urus semuanya, daftarkan mereka disana”


“Baik Nona…”


Charles kembali menerima berkas itu dan segera pergi, Selena menghembuskan nafasnya. Setelah belajar di keluarga Iskandar, ia akan segera mengirim anak-anaknya ke Inggris untuk melakukan studi pertama mereka. Setelahnya ia akan memindahkan mereka ke AS, setelah itu London dan Kanada. Kejam? Ia tidak peduli, ia tak ingin anak-anaknya menjadi kelemahannya. Ia tak akan membiarkan siapapun…menjadi kelemahannya. Dan juga sudah saatnya…ia membuat peraturan baru yang harus ditaati.


Selena berdiri dan mengambil sebuah kotak antik dari laci bajunya, ia membawa kotak itu dan duduk kembali di sofa. Selena menghembuskan nafasnya lalu menulis apa yang akan menjadi peraturan baru kamp militer. Sekarang ia sudah menggunakan satu, hanya tinggal 2…ia harus bisa memanfaatkannya dengan baik.


Setelah selesai menulis Selena menggulung surat itu dan mengikatnya, disimpannya kembali kotak itu didalam laci lalu keluar dari kamar untuk menemui Opanya yang sedang berada di perpustakaan.


“Opa”


“Sayang, kenapa belum tidur?” tanya Zachery yang sedang membaca buku, pria itu langsung menutup bukunya dan meminta cucunya untuk mendekat. Ini sudah tengah malam, kenapa cucunya belum juga istirahat?.


“Ada apa? Ada masalah kah?”


“Saya ingin anda menyetujui keputusan ini, saya membutuhkan stempel anda untuk mengirim keputusan ini kepada Jenderal besar Hendrick”


Zachery mengerutkan keningnya, tumben sekali cucunya berbicara formal kepadanya. apa isi surat itu hingga cucunya memerlukan stempel darinya? Padahal jika hanya sebuah peraturan baru bisa menggunakan stempel milik cucunya sendiri.


“Kemarikan, biar Opa lihat dulu”


Selena memberikan surat itu kepada Zachery, Zachery kaget bukan main pasalnya itu adalah surat yang hanya bisa digunakan sebanyak 3 kali seumur hidup. Jadi…ini keputusan pertama cucunya?.


“Kenapa Nara mau Opa menyetujui ini? Katakan alasannya” ucap Zachery, ini keputusan yang bijak…tapi ia ingin mendengar dari mulut cucunya sendiri kenapa mengeluarkan keputusan seperti ini.


“Keputusan itu akan menguntungkan bagi kemiliteran Opa, kemiliteran sudah cukup jauh menangani masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan kemiliteran. Banyak yang semena-mena karena Papa memberikan hak untuk mendapat perlindungan dari kamp kepada keluarga dari orang-orang yang masuk ke kemiliteran, dan sejak dulu Nara pikir itu keputusan yang salah. Jadi Nara ingin menghapus keputusan itu dan menggantinya dengan yang baru. Karena Nara tidak ingin, kamp terseret kedalam hal-hal yang tidak penting lagi untuk kedepannya”


Zachery tersenyum mendengar ucapan cucunya, cucunya cukup bijak diusia yang masih muda seperti ini. Sepertinya ia tidak akan salah memberikan gelar pewaris keluarga Alexandra kepada cucunya, sepertinya ia akan pensiun lebih cepat dari perkiraan.


“Tapi, apa Nara tau risiko mengeluarkan perintah ini?” tanya Zachery, tak mungkin cucunya tidak tau risiko dari mengeluarkan perintah ini. Ditambah perintah ini akan membuat perintah dari mendiang putranya dulu secara otomatis terhapuskan.


Selena terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Opanya, risiko?


.


.


.


.


.


.


Hallo semuanya, balik sama Thor Clara ya. Mulai Hari ini kalo nggak ada kendala cerita ini bakalan Up maksimal 2x seminggu (tertantung situasi) ya.


Happy reading semuanya!! See you next Chapter

__ADS_1


__ADS_2